LIVING ENGLISH THROUGH K-POP: AN IPA STUDY OF INDONESIAN EFL LEARNERS' ACQUISITION EXPERIENCES

The growth of digital media and online fan communities has opened informal spaces in which Indonesian EFL learners encounter and use English outside formal classroom instruction. K-Pop fandom is one such space, where fans of diverse linguistic backgrounds communicate largely in English through platforms such as TikTok, Instagram, X, and Weverse. However, little is known about the specific kind of English input this communicative interaction provides, or about how Indonesian EFL learners themselves make sense of their acquisition experiences within this informal context. This study addressed two research questions: (1) what kind of language input is found in K-Pop fandom communicative interaction, and (2) how do Indonesian EFL learners perceive their English acquisition experiences through K-Pop fandom practices. Sixteen Indonesian K-Pop fans with five to ten years of fandom involvement and varying levels of communicative activity participated. Data were drawn from documentation of fandom social media interaction across multiple platforms and from semi-structured interviews analyzed through Interpretative Phenomenological Analysis (IPA). Results show that fandom input is layered and multimodal, combining lexical, pragmatic, discourse-level, and multimodal features that typically co-occur. Learners' lived experiences were represented by five group experiential themes: a non-linear shift from anxiety toward confidence, differentiated parasocial motivation, varying degrees of social participation, a perceived functional contrast between fandom-based and classroom-based language use, and a partial, domain-specific reconstruction of self-identity as an English user. These findings suggest that K-Pop fandom functions as a rich but internally differentiated informal English acquisition space, with practical implications for educators who may integrate authentic fan-generated texts as supplementary material while continuing to provide structured speaking practice that fandom-based exposure does not reliably supply. ABSTRAK Perkembangan media digital dan komunitas fandom daring telah menciptakan ruang informal baru bagi pembelajar EFL Indonesia untuk menemukan dan menggunakan bahasa Inggris di luar pembelajaran kelas formal. K-Pop fandom merupakan salah satu ruang tersebut, tempat penggemar dari berbagai latar belakang bahasa berkomunikasi terutama dalam bahasa Inggris melalui platform seperti TikTok, Instagram, X, dan Weverse. Namun, masih sedikit yang diketahui mengenai jenis input bahasa Inggris yang tersedia melalui interaksi komunikatif tersebut, maupun bagaimana pembelajar EFL Indonesia memaknai pengalaman pemerolehan bahasa mereka dalam konteks informal ini. Penelitian ini menjawab dua pertanyaan: (1) jenis input bahasa apa yang ditemukan dalam interaksi komunikatif K-Pop fandom, dan (2) bagaimana pembelajar EFL Indonesia mempersepsikan pengalaman pemerolehan bahasa Inggris mereka melalui praktik K-Pop fandom. Enam belas penggemar K-Pop Indonesia dengan pengalaman fandom lima hingga sepuluh tahun dan variasi tingkat keterlibatan komunikatif menjadi partisipan. Data diperoleh dari dokumentasi interaksi media sosial fandom dan wawancara semi-terstruktur yang dianalisis menggunakan Interpretative Phenomenological Analysis (IPA). Hasil menunjukkan bahwa input fandom bersifat berlapis dan multimodal, mencakup fitur leksikal, pragmatik, wacana, dan multimodal yang umumnya muncul bersamaan. Pengalaman hidup pembelajar direpresentasikan melalui lima tema pengalaman kelompok: pergeseran non-linear dari kecemasan menuju kepercayaan diri, motivasi parasosial yang terdiferensiasi, variasi tingkat partisipasi sosial, kontras fungsional antara penggunaan bahasa berbasis fandom dan kelas formal, serta rekonstruksi identitas diri sebagai pengguna bahasa Inggris yang bersifat parsial dan spesifik ranah. Temuan ini menunjukkan bahwa K-Pop fandom berfungsi sebagai ruang pemerolehan bahasa Inggris informal yang kaya namun terdiferensiasi, dan implikasinya bagi pendidik adalah bahwa teks autentik berbasis fandom dapat diintegrasikan sebagai bahan ajar pelengkap sambil tetap menyediakan latihan berbicara terstruktur yang tidak dapat dipenuhi oleh keterlibatan fandom semata.

Authors

Publication Details

Journal
EDUCATOR Jurnal Inovasi Tenaga Pendidik dan Kependidikan
Published
2026-11-04
DOI
https://doi.org/10.51878/educator.v6i4.16499
Primary Topic
EFL/ESL Teaching and Learning
Type
article
Field-Weighted Citation Impact
0.00
Controls
|||
ALL TIME
JAN
FEB
MAR
APR
MAY
JUN
JUL
AUG
SEP
OCT
article

LIVING ENGLISH THROUGH K-POP: AN IPA STUDY OF INDONESIAN EFL LEARNERS' ACQUISITION EXPERIENCES

Elok Abidatu Thoyyibah
EDUCATOR Jurnal Inovasi Tenaga Pendidik dan Kependidikan
EFL/ESL Teaching and Learning
article

LIVING ENGLISH THROUGH K-POP: AN IPA STUDY OF INDONESIAN EFL LEARNERS' ACQUISITION EXPERIENCES

Elok Abidatu Thoyyibah
article en

Abstract

The growth of digital media and online fan communities has opened informal spaces in which Indonesian EFL learners encounter and use English outside formal classroom instruction. K-Pop fandom is one such space, where fans of diverse linguistic backgrounds communicate largely in English through platforms such as TikTok, Instagram, X, and Weverse. However, little is known about the specific kind of English input this communicative interaction provides, or about how Indonesian EFL learners themselves make sense of their acquisition experiences within this informal context. This study addressed two research questions: (1) what kind of language input is found in K-Pop fandom communicative interaction, and (2) how do Indonesian EFL learners perceive their English acquisition experiences through K-Pop fandom practices. Sixteen Indonesian K-Pop fans with five to ten years of fandom involvement and varying levels of communicative activity participated. Data were drawn from documentation of fandom social media interaction across multiple platforms and from semi-structured interviews analyzed through Interpretative Phenomenological Analysis (IPA). Results show that fandom input is layered and multimodal, combining lexical, pragmatic, discourse-level, and multimodal features that typically co-occur. Learners' lived experiences were represented by five group experiential themes: a non-linear shift from anxiety toward confidence, differentiated parasocial motivation, varying degrees of social participation, a perceived functional contrast between fandom-based and classroom-based language use, and a partial, domain-specific reconstruction of self-identity as an English user. These findings suggest that K-Pop fandom functions as a rich but internally differentiated informal English acquisition space, with practical implications for educators who may integrate authentic fan-generated texts as supplementary material while continuing to provide structured speaking practice that fandom-based exposure does not reliably supply. ABSTRAK Perkembangan media digital dan komunitas fandom daring telah menciptakan ruang informal baru bagi pembelajar EFL Indonesia untuk menemukan dan menggunakan bahasa Inggris di luar pembelajaran kelas formal. K-Pop fandom merupakan salah satu ruang tersebut, tempat penggemar dari berbagai latar belakang bahasa berkomunikasi terutama dalam bahasa Inggris melalui platform seperti TikTok, Instagram, X, dan Weverse. Namun, masih sedikit yang diketahui mengenai jenis input bahasa Inggris yang tersedia melalui interaksi komunikatif tersebut, maupun bagaimana pembelajar EFL Indonesia memaknai pengalaman pemerolehan bahasa mereka dalam konteks informal ini. Penelitian ini menjawab dua pertanyaan: (1) jenis input bahasa apa yang ditemukan dalam interaksi komunikatif K-Pop fandom, dan (2) bagaimana pembelajar EFL Indonesia mempersepsikan pengalaman pemerolehan bahasa Inggris mereka melalui praktik K-Pop fandom. Enam belas penggemar K-Pop Indonesia dengan pengalaman fandom lima hingga sepuluh tahun dan variasi tingkat keterlibatan komunikatif menjadi partisipan. Data diperoleh dari dokumentasi interaksi media sosial fandom dan wawancara semi-terstruktur yang dianalisis menggunakan Interpretative Phenomenological Analysis (IPA). Hasil menunjukkan bahwa input fandom bersifat berlapis dan multimodal, mencakup fitur leksikal, pragmatik, wacana, dan multimodal yang umumnya muncul bersamaan. Pengalaman hidup pembelajar direpresentasikan melalui lima tema pengalaman kelompok: pergeseran non-linear dari kecemasan menuju kepercayaan diri, motivasi parasosial yang terdiferensiasi, variasi tingkat partisipasi sosial, kontras fungsional antara penggunaan bahasa berbasis fandom dan kelas formal, serta rekonstruksi identitas diri sebagai pengguna bahasa Inggris yang bersifat parsial dan spesifik ranah. Temuan ini menunjukkan bahwa K-Pop fandom berfungsi sebagai ruang pemerolehan bahasa Inggris informal yang kaya namun terdiferensiasi, dan implikasinya bagi pendidik adalah bahwa teks autentik berbasis fandom dapat diintegrasikan sebagai bahan ajar pelengkap sambil tetap menyediakan latihan berbicara terstruktur yang tidak dapat dipenuhi oleh keterlibatan fandom semata.

EDUCATOR Jurnal Inovasi Tenaga Pendidik dan KependidikanVol. 6(4)
Openalex Percentile: Top 5%
EFL/ESL Teaching and Learning
AI Navigator

Ask Laika to Summarize, Analyze, and Connect papers live on the map.

Summarize Papers & Methodologies

Extract key findings, datasets, and comparative methods across publications.

Benchmark Rankings & Visual Analytics

Rank top research institutions, authors, funders, topics, and journals by Field-Weighted Citation Impact (FWCI) and paper volume with instant charts.

Connect Distant Disciplines

Bridge topological clusters on the map to find hidden collaborative intersections.

Laika access coming soon