Kolaborasi Dan Kepemimpinan Lintas Agama Dalam Mempromosikan Harmoni Sosial: Wawasan Dari Pekon Pancasila Mataram, Pringsewu

ABSTRAK Studi mengenai moderasi beragama kerap berfokus pada ranah kebijakan nasional atau institusi formal tingkat makro, sehingga meluputkan dinamika mikro dan praktik kerukunan di tingkat akar rumput. Artikel ini bertujuan mengisi celah akademis tersebut dengan menganalisis secara mendalam praktik inklusivitas dan kolaborasi kerukunan lintas agama di Pekon (Desa) Mataram, Kecamatan Gadingrejo, Kabupaten Pringsewu, Provinsi Lampung—sebuah kawasan multikultural yang secara informal dan emik dijuluki sebagai 'Pekon Pancasila'. Menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif berbasis studi etnografi sosiologis, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam terhadap 28 informan kunci (meliputi Kepala Pekon, aparat pekon, tokoh agama Islam, Katolik, Kristen Protestan, Hindu, tokoh pemuda, serta masyarakat awam), observasi partisipatif intensif, dan analisis dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa harmoni sosial yang berkelanjutan di Pekon Mataram ditopang oleh empat pilar interaksi yang saling menguatkan: (1) Dialog lintas agama organik yang bergeser dari sekadar wacana elitis-seremonial menuju everyday interfaith dialogue dalam perjumpaan harian warga; (2) Kegiatan bersama sebagai perekat sosial yang membangun modal sosial jembatan (bridging social capital) melalui pengamanan swabantu perayaan keagamaan dan kegiatan kebudayaan; (3) Pelembagaan kearifan lokal gotong royong dan mekanisme deliberasi musyawarah berfalsafah 'yo opo enake'; serta (4) Kepemimpinan inklusif (inclusive leadership) dari pimpinan pekon dan para penganjur agama yang bertindak sebagai mediator budaya (cultural mediators). Kajian ini menyimpulkan bahwa kohesi sosial di masyarakat majemuk tidak dapat dipaksakan melalui regulasi instruktif top-down semata, melainkan dirawat melalui pelembagaan kebiasaan sosial yang dialogis dan partisipatif di tingkat lokal.

Authors

Publication Details

Journal
Jurnal Pendidikan Agama
Published
2026-11-02
DOI
https://doi.org/10.67996/42hw3933
Primary Topic
Islamic Studies and Radicalism
Type
article
Field-Weighted Citation Impact
0.00
Controls
|||
ALL TIME
JAN
FEB
MAR
APR
MAY
JUN
JUL
AUG
SEP
OCT
article

Kolaborasi Dan Kepemimpinan Lintas Agama Dalam Mempromosikan Harmoni Sosial: Wawasan Dari Pekon Pancasila Mataram, Pringsewu

Suyono
Jurnal Pendidikan Agama
Islamic Studies and Radicalism
article

Kolaborasi Dan Kepemimpinan Lintas Agama Dalam Mempromosikan Harmoni Sosial: Wawasan Dari Pekon Pancasila Mataram, Pringsewu

Suyono
article en

Abstract

ABSTRAK Studi mengenai moderasi beragama kerap berfokus pada ranah kebijakan nasional atau institusi formal tingkat makro, sehingga meluputkan dinamika mikro dan praktik kerukunan di tingkat akar rumput. Artikel ini bertujuan mengisi celah akademis tersebut dengan menganalisis secara mendalam praktik inklusivitas dan kolaborasi kerukunan lintas agama di Pekon (Desa) Mataram, Kecamatan Gadingrejo, Kabupaten Pringsewu, Provinsi Lampung—sebuah kawasan multikultural yang secara informal dan emik dijuluki sebagai 'Pekon Pancasila'. Menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif berbasis studi etnografi sosiologis, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam terhadap 28 informan kunci (meliputi Kepala Pekon, aparat pekon, tokoh agama Islam, Katolik, Kristen Protestan, Hindu, tokoh pemuda, serta masyarakat awam), observasi partisipatif intensif, dan analisis dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa harmoni sosial yang berkelanjutan di Pekon Mataram ditopang oleh empat pilar interaksi yang saling menguatkan: (1) Dialog lintas agama organik yang bergeser dari sekadar wacana elitis-seremonial menuju everyday interfaith dialogue dalam perjumpaan harian warga; (2) Kegiatan bersama sebagai perekat sosial yang membangun modal sosial jembatan (bridging social capital) melalui pengamanan swabantu perayaan keagamaan dan kegiatan kebudayaan; (3) Pelembagaan kearifan lokal gotong royong dan mekanisme deliberasi musyawarah berfalsafah 'yo opo enake'; serta (4) Kepemimpinan inklusif (inclusive leadership) dari pimpinan pekon dan para penganjur agama yang bertindak sebagai mediator budaya (cultural mediators). Kajian ini menyimpulkan bahwa kohesi sosial di masyarakat majemuk tidak dapat dipaksakan melalui regulasi instruktif top-down semata, melainkan dirawat melalui pelembagaan kebiasaan sosial yang dialogis dan partisipatif di tingkat lokal.

Jurnal Pendidikan Agama
Openalex Percentile: Top 8%
Islamic Studies and Radicalism
AI Navigator

Ask Laika to Summarize, Analyze, and Connect papers live on the map.

Summarize Papers & Methodologies

Extract key findings, datasets, and comparative methods across publications.

Benchmark Rankings & Visual Analytics

Rank top research institutions, authors, funders, topics, and journals by Field-Weighted Citation Impact (FWCI) and paper volume with instant charts.

Connect Distant Disciplines

Bridge topological clusters on the map to find hidden collaborative intersections.

Laika access coming soon