The THE CONSTRUCTION OF RELIGIOUS ISSUES IN THE “JATIM GASPOL” PROGRAM ON JTV: A STUDY OF THE NU CENTENNIAL ANNIVERSARY EPISODE
This study examines how religious issues are constructed in the political talkshow “JATIM GASPOL” on JTV, focusing on the episode commemorating the 1st Centennial Anniversary of Nahdlatul Ulama (NU) broadcast on 4 February 2026. Drawing on the concept of issue construction and Robert N. Entman’s framing analysis, the study explains how the program selects, emphasizes, and presents religious issues. A descriptive qualitative approach was applied to the broadcast transcript and the question script, supplemented by the author’s production-team experience as contextual data. Statements by the guests and questions by the host were coded through Entman’s four framing elements: problem definition, causal diagnosis, moral judgment, and treatment recommendation. The analysis identified three religious issues: the meaning of the centennial for young people, framed as a call to serve (khidmah) to keep NU relevant; the challenges of the digital era, framed as a demand for da’wah to adapt amid misinformation, answered by gentle digital da’wah; and NU’s role in nationhood, framed as a guardian of the Unitary State of the Republic of Indonesia (NKRI) and a model of tolerance. Each frame rests largely on one or two speakers, and the claims about interfaith support come from a guest’s account that was not independently confirmed. The study concludes that the episode offers an interpretive framework that presents religious issues as positive, harmonious events that are both religious and national. Audience reception was not examined. Penelitian ini mengkaji bagaimana isu keagamaan dikonstruksi dalam program talkshow politik “JATIM GASPOL” di JTV, dengan fokus pada episode Harlah 1 Abad Nahdlatul Ulama (NU) yang tayang pada 4 Februari 2026. Dengan menggunakan konsep konstruksi isu dan analisis framing Robert N. Entman, penelitian ini menjelaskan bagaimana program memilih, menonjolkan, dan menyajikan isu keagamaan. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan sumber data berupa transkrip tayangan dan naskah pertanyaan, serta pengalaman penulis sebagai bagian dari tim produksi sebagai data pendukung konteks. Pernyataan narasumber dan pertanyaan host dikodekan melalui empat elemen framing Entman: pendefinisian masalah, diagnosis penyebab, penilaian moral, dan rekomendasi penyelesaian. Hasil analisis menemukan tiga isu keagamaan, yaitu makna Harlah bagi generasi muda yang dibingkai sebagai panggilan khidmah untuk menjaga relevansi NU; tantangan era digital yang dibingkai sebagai tuntutan adaptasi dakwah di tengah hoaks yang dijawab dengan dakwah digital yang sejuk; dan peran NU dalam kebangsaan yang dibingkai sebagai penjaga NKRI dan teladan toleransi. Setiap bingkai banyak bertumpu pada satu atau dua pembicara, dan informasi tentang dukungan lintas agama bersumber dari penuturan narasumber yang belum dikonfirmasi secara independen. Penelitian ini menyimpulkan bahwa tayangan menawarkan kerangka interpretasi yang menempatkan isu keagamaan sebagai peristiwa keagamaan sekaligus kebangsaan yang positif dan harmonis. Penerimaan khalayak tidak diteliti.
Authors
- Rozaqul Arif
- Rizkyna Amalya Azzahra
Publication Details
- Journal
- SPEKTRA KOMUNIKA
- Published
- 2026-11-03
- DOI
- https://doi.org/10.33752/spektra.v6i1.12707
- Primary Topic
- Media Studies and Communication
- Type
- article
- Field-Weighted Citation Impact
- 0.00