KOMUNIKASI PARTISIPATIF SEBAGAI MEKANISME AKTIVASI ENERGI SOSIAL UNTUK PARIWISATA BERKELANJUTAN DI PERBATASAN RI–PNG
This study examines how participatory communication activates locally embedded relational resources into social energy for sustainable tourism in Muara Tami District, Jayapura City, along the Indonesia–Papua New Guinea border. Employing a descriptive qualitative design, data were collected through participant observation, in-depth interviews, focus group discussions, and documentation and analyzed through data condensation, display, and conclusion drawing and verification. Findings reveal two contrasting participation patterns: community involvement after programs have been designed limits influence over decisions, whereas involvement from initial planning enables residents to shape cultural presentations, allocate roles, and strengthen ownership and collective commitment. Bonding, bridging, and linking social capital provide relational resources but do not automatically generate collective action. Participatory communication facilitates their activation through dialogue, negotiation, joint decision-making, coordination, and feedback, while customary authority and restrictions on sacred spaces shape cultural legitimacy. The study distinguishes social capital as relational potential from social energy as a dynamic collective capacity expressed through initiative, reciprocity, and commitment. It contributes an interpretive mechanism linking participatory communication with community-led sustainable tourism governance, rather than asserting experimentally established causality. Pengembangan pariwisata di Distrik Muara Tami pada perbatasan Indonesia–Papua Nugini dibentuk oleh otoritas adat, relasi sosial lintas batas, nilai budaya lokal, dan ketimpangan akses terhadap sumber daya pariwisata. Penelitian ini menjelaskan bagaimana komunikasi partisipatif mengaktifkan sumber daya relasional berbasis kearifan lokal menjadi energi sosial bagi pariwisata berkelanjutan. Desain kualitatif deskriptif digunakan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, diskusi kelompok terarah, dan dokumentasi; analisis dilakukan melalui kondensasi, penyajian, serta penarikan dan verifikasi kesimpulan. Temuan memperlihatkan dua pola partisipasi: kehadiran warga setelah program dirancang yang membatasi pengaruh komunitas, dan pelibatan sejak awal dalam menentukan isi budaya, peran, serta keputusan yang memperkuat rasa memiliki dan komitmen kolektif. Modal sosial bonding, bridging, dan linking menyediakan infrastruktur relasional, tetapi tidak otomatis menghasilkan tindakan bersama. Energi sosial muncul ketika jaringan tersebut diaktifkan melalui dialog, negosiasi, keputusan bersama, koordinasi, dan umpan balik, sedangkan otoritas adat dan aturan ruang sakral menentukan legitimasi budaya. Kontribusi penelitian adalah membedakan modal sosial sebagai sumber daya relasional dari energi sosial sebagai kapasitas kolektif yang termobilisasi serta menempatkan komunikasi partisipatif sebagai mekanisme aktivasi keduanya.
Authors
- Samdar Rery
- Muhammad Firdaus Rahmadi
- Ahmad Jafar
- Muhammad Rifqi Syifa
Publication Details
- Journal
- SPEKTRA KOMUNIKA
- Published
- 2026-11-03
- DOI
- https://doi.org/10.33752/spektra.v6i1.12686
- Primary Topic
- Community-based Tourism Development and Sustainability
- Type
- article
- Field-Weighted Citation Impact
- 0.00