Dari Rimland ke Pivot Indo-Pasifik: Geopolitik, Geoekonomi, dan Geostrategi Negara-Negara Asia Tenggara (Studi Komparatif Indonesia, Filipina, Malaysia, dan Singapura)
Artikel ini menganalisis bagaimana negara-negara Asia Tenggara mengonversi posisi geografisnya menjadi strategi nasional melalui lensa geopolitik, geoekonomi, dan geostrategi (G3). Kajian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka komparatif atas empat kasus, yaitu Indonesia, Filipina, Malaysia, dan Singapura, berdasarkan literatur akademik, putusan hukum internasional, dan dokumen kebijakan kawasan. Hasil kajian menunjukkan bahwa warisan kolonial dan Perang Dingin membentuk kawasan sebagai rimland maritim yang rentan menjadi arena rivalitas kekuatan besar kawasan ini menempati posisi pivot Indo-Pasifik karena menguasai chokepoint utama seperti Selat Malaka ketergantungan ekonomi yang saling terkait memberi peluang sekaligus kerentanan, terutama terhadap instrumen economic statecraft dan pilihan strategis berupa hedging, balancing, atau non-alignment tidak ditentukan oleh geografi semata, melainkan oleh rezim politik domestik. Singapura dengan dominasi partai menjalankan hedging yang terkalibrasi, Malaysia dengan sistem parlementer konsosiasional menjalankan hedging yang menyeimbangkan banyak mitra, Indonesia dengan presidensialisme multipartai mempertahankan otonomi strategis melalui politik bebas aktif, sedangkan Filipina berayun antara akomodasi dan penyeimbangan mengikuti pergantian presiden. Artikel ini menyimpulkan bahwa konsistensi strategi negara kecil dan menengah di Asia Tenggara bergantung pada kapasitas institusi domestik dalam merumuskan kepentingan nasional jangka panjang. Kata kunci: Asia Tenggara, geopolitik, geoekonomi, geostrategi, hedging Abstract This article analyzes how Southeast Asian states convert their geographical position into national strategy through the lens of geopolitics, geo-economics, and geostrategy. Using a qualitative comparative literature review of Indonesia, the Philippines, Malaysia, and Singapore, it draws on academic works, international legal rulings, and regional policy documents. The findings show that colonial and Cold War legacies shaped the region as a maritime rimland prone to great-power rivalry the region holds a pivotal Indo-Pacific position because it controls key chokepoints such as the Strait of Malacc economic interdependence offers both opportunities and vulnerabilities, particularly to economic statecraf and strategic choices among hedging, balancing, and non-alignment are shaped not by geography alone but by domestic political regimes. Singapore, under dominant-party rule, pursues calibrated hedging; Malaysia, under a consociational parliamentary system, hedges across many partners; Indonesia, under multiparty presidentialism, preserves strategic autonomy through its free-and-active doctrine; and the Philippines oscillates between accommodation and balancing with each change of president. The article concludes that the consistency of small and middle power strategy in Southeast Asia depends on domestic institutional capacity to define long-term national interests. Keywords: Southeast Asia, geopolitics, geo-economics, geostrategy, hedging
Authors
- Elly Nurlia
- Rifan Maulana
- Muhammad Pasha Fathurilham
- Zaki Maulana Abdillah
Institutions
- Sultan Ageng Tirtayasa University (ID)
Publication Details
- Journal
- Sinergi Jurnal Ilmiah Multidisiplin
- Published
- 2026-10-30
- DOI
- https://doi.org/10.66914/n8e07c31
- Primary Topic
- International Relations and Foreign Policy
- Type
- article
- Field-Weighted Citation Impact
- 0.00