MINI ETNOGRAFI PRAKTIK CORET ARANG: NEGOSIASI KEPERCAYAAN PENOLAK SAWAN PADA BALITA DI MASYARAKAT LOA DURI SEBERANG

Penelitian ini bertujuan menjelaskan bagaimana keluarga di Loa Duri Seberang memaknai sawan serta mempraktikkan dan menegosiasikan pengolesan arang atau jelaga pada dahi balita sebagai perlindungan ketika bepergian pada malam hari. Penelitian menggunakan desain mini etnografi kualitatif dengan 10 informan yang dipilih melalui purposive dan snowball sampling. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi, dianalisis secara tematik, serta diperiksa keabsahannya melalui triangulasi dan konfirmasi informan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sawan dimaknai sebagai gangguan tak kasatmata yang dikaitkan dengan demam mendadak, tangisan berkepanjangan, dan tatapan kosong, sedangkan balita dipandang rentan secara fisik maupun spiritual, terutama pada malam hari. Sebelum keluar rumah saat hari mulai gelap, pengasuh mengambil arang atau jelaga dari tungku atau alat masak, mengoleskannya pada dahi anak, lalu berangkat melalui pintu rumah. Dapur dimaknai sebagai pusat kehidupan keluarga, sedangkan ambang pintu dibaca sebagai batas antara ruang yang aman dan lingkungan luar yang tidak pasti. Praktik ini dijalankan oleh ibu, ayah, kakek, dan nenek serta diwariskan melalui keterlibatan dalam pengasuhan sehari-hari. Negosiasi tampak sebagai penyesuaian antargenerasi, ketika pengasuh yang lebih muda tetap mengoleskan arang untuk menghormati tradisi dan menenangkan keluarga, sementara keluarga tetap membawa anak ke bidan atau puskesmas bila demam menetap. Coret arang dipahami sebagai praktik perlindungan keluarga ketika pengetahuan lokal tentang sawan diwujudkan dalam tindakan pengasuhan; benda domestik dan ambang ruang memediasi hubungan antara kerentanan balita dan perlindungan spiritual. Temuan ini menekankan pentingnya membaca praktik pengasuhan lokal dalam konteks budayanya, termasuk dalam komunikasi kesehatan anak yang menghargai keyakinan keluarga.

Authors

Institutions

Publication Details

Journal
Integrative Perspectives of Social and Science Journal
Published
2026-10-29
Primary Topic
Cultural and Religious Practices in Indonesia
Type
article
Field-Weighted Citation Impact
0.00
Controls
|||
ALL TIME
JAN
FEB
MAR
APR
MAY
JUN
JUL
AUG
SEP
OCT
article

MINI ETNOGRAFI PRAKTIK CORET ARANG: NEGOSIASI KEPERCAYAAN PENOLAK SAWAN PADA BALITA DI MASYARAKAT LOA DURI SEBERANG

Zubaidillah Fadqul Qorib
Integrative Perspectives of Social and Science Journal
Cultural and Religious Practices in Indonesia
article

MINI ETNOGRAFI PRAKTIK CORET ARANG: NEGOSIASI KEPERCAYAAN PENOLAK SAWAN PADA BALITA DI MASYARAKAT LOA DURI SEBERANG

Zubaidillah Fadqul Qorib
article en

Abstract

Penelitian ini bertujuan menjelaskan bagaimana keluarga di Loa Duri Seberang memaknai sawan serta mempraktikkan dan menegosiasikan pengolesan arang atau jelaga pada dahi balita sebagai perlindungan ketika bepergian pada malam hari. Penelitian menggunakan desain mini etnografi kualitatif dengan 10 informan yang dipilih melalui purposive dan snowball sampling. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi, dianalisis secara tematik, serta diperiksa keabsahannya melalui triangulasi dan konfirmasi informan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sawan dimaknai sebagai gangguan tak kasatmata yang dikaitkan dengan demam mendadak, tangisan berkepanjangan, dan tatapan kosong, sedangkan balita dipandang rentan secara fisik maupun spiritual, terutama pada malam hari. Sebelum keluar rumah saat hari mulai gelap, pengasuh mengambil arang atau jelaga dari tungku atau alat masak, mengoleskannya pada dahi anak, lalu berangkat melalui pintu rumah. Dapur dimaknai sebagai pusat kehidupan keluarga, sedangkan ambang pintu dibaca sebagai batas antara ruang yang aman dan lingkungan luar yang tidak pasti. Praktik ini dijalankan oleh ibu, ayah, kakek, dan nenek serta diwariskan melalui keterlibatan dalam pengasuhan sehari-hari. Negosiasi tampak sebagai penyesuaian antargenerasi, ketika pengasuh yang lebih muda tetap mengoleskan arang untuk menghormati tradisi dan menenangkan keluarga, sementara keluarga tetap membawa anak ke bidan atau puskesmas bila demam menetap. Coret arang dipahami sebagai praktik perlindungan keluarga ketika pengetahuan lokal tentang sawan diwujudkan dalam tindakan pengasuhan; benda domestik dan ambang ruang memediasi hubungan antara kerentanan balita dan perlindungan spiritual. Temuan ini menekankan pentingnya membaca praktik pengasuhan lokal dalam konteks budayanya, termasuk dalam komunikasi kesehatan anak yang menghargai keyakinan keluarga.

Integrative Perspectives of Social and Science Journal
Mulawarman University (ID)
Openalex Percentile: Top 2%
Cultural and Religious Practices in Indonesia
AI Navigator

Ask Laika to Summarize, Analyze, and Connect papers live on the map.

Summarize Papers & Methodologies

Extract key findings, datasets, and comparative methods across publications.

Benchmark Rankings & Visual Analytics

Rank top research institutions, authors, funders, topics, and journals by Field-Weighted Citation Impact (FWCI) and paper volume with instant charts.

Connect Distant Disciplines

Bridge topological clusters on the map to find hidden collaborative intersections.

Laika access coming soon