Rekonstruksi Mekanisme Seleksi Hakim Konstitusi di Indonesia: Studi Komparatif Korea Selatan, Jerman, dan Prancis

Disparitas mekanisme seleksi Hakim Konstitusi oleh Presiden, Dewan Perwakilan Rakyat, dan Mahkamah Agung di Indonesia mencederai prinsip checks and balances, negara hukum, dan independensi kekuasaan kehakiman yang dijamin UUD NRI 1945. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan, konseptual, dan perbandingan hukum (functional approach ala Zweigert dan Kötz) terhadap Korea Selatan, Jerman, dan Prancis, disertai teknik ekstraksi ratio decidendi atas putusan-putusan terkait. Hasil penelitian menunjukkan disparitas prosedural antar-lembaga pengusul di Indonesia turut mencerminkan inkonsistensi ratio decidendi peradilan, sebagaimana tampak pada kasus Patrialis Akbar, sementara Korea Selatan, Jerman, dan Prancis masing-masing menerapkan kontrol yudisial aktif, ambang batas persetujuan, dan hearing publik pra-pengangkatan yang belum ditemukan secara utuh dalam sistem Indonesia. Penelitian merekomendasikan pembentukan Panitia Seleksi Nasional Hakim Konstitusi sebagai pintu tunggal penyaringan kandidat, disertai kodifikasi aturan teknis yang seragam dan publikasi terbuka ratio decidendi penilaian calon hakim, sebagai langkah adaptasi, bukan adopsi penuh, praktik terbaik ketiga negara pembanding ke dalam kerangka konstitusional Pasal 24C UUD NRI 1945.

Authors

Institutions

Publication Details

Journal
Nomos Jurnal Penelitian Ilmu Hukum
Published
2026-10-30
Primary Topic
Judicial and Constitutional Studies
Type
article
Field-Weighted Citation Impact
0.00
Controls
|||
ALL TIME
JAN
FEB
MAR
APR
MAY
JUN
JUL
AUG
SEP
OCT
article

Rekonstruksi Mekanisme Seleksi Hakim Konstitusi di Indonesia: Studi Komparatif Korea Selatan, Jerman, dan Prancis

Navid Fajriant, Nashwa Fazila Nisa, Serli Dwi Mayani Hasibuan
Nomos Jurnal Penelitian Ilmu Hukum
Judicial and Constitutional Studies
article

Rekonstruksi Mekanisme Seleksi Hakim Konstitusi di Indonesia: Studi Komparatif Korea Selatan, Jerman, dan Prancis

Navid Fajriant, Nashwa Fazila Nisa, Serli Dwi Mayani Hasibuan
article en

Abstract

Disparitas mekanisme seleksi Hakim Konstitusi oleh Presiden, Dewan Perwakilan Rakyat, dan Mahkamah Agung di Indonesia mencederai prinsip checks and balances, negara hukum, dan independensi kekuasaan kehakiman yang dijamin UUD NRI 1945. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan, konseptual, dan perbandingan hukum (functional approach ala Zweigert dan Kötz) terhadap Korea Selatan, Jerman, dan Prancis, disertai teknik ekstraksi ratio decidendi atas putusan-putusan terkait. Hasil penelitian menunjukkan disparitas prosedural antar-lembaga pengusul di Indonesia turut mencerminkan inkonsistensi ratio decidendi peradilan, sebagaimana tampak pada kasus Patrialis Akbar, sementara Korea Selatan, Jerman, dan Prancis masing-masing menerapkan kontrol yudisial aktif, ambang batas persetujuan, dan hearing publik pra-pengangkatan yang belum ditemukan secara utuh dalam sistem Indonesia. Penelitian merekomendasikan pembentukan Panitia Seleksi Nasional Hakim Konstitusi sebagai pintu tunggal penyaringan kandidat, disertai kodifikasi aturan teknis yang seragam dan publikasi terbuka ratio decidendi penilaian calon hakim, sebagai langkah adaptasi, bukan adopsi penuh, praktik terbaik ketiga negara pembanding ke dalam kerangka konstitusional Pasal 24C UUD NRI 1945.

Nomos Jurnal Penelitian Ilmu Hukum
Universitas Trisakti (ID), Pancasila University (ID), Universitas Islam Negeri Jurai Siwo Lampung (ID)
Peace, justice, and strong institutions
Openalex Percentile: Top 2%
Judicial and Constitutional Studies
AI Navigator

Ask Laika to Summarize, Analyze, and Connect papers live on the map.

Summarize Papers & Methodologies

Extract key findings, datasets, and comparative methods across publications.

Benchmark Rankings & Visual Analytics

Rank top research institutions, authors, funders, topics, and journals by Field-Weighted Citation Impact (FWCI) and paper volume with instant charts.

Connect Distant Disciplines

Bridge topological clusters on the map to find hidden collaborative intersections.

Laika access coming soon