Eksplorasi Pola Perilaku Penanganan Non-Farmakologis Sindroma Mata Kering Tipe Evaporatif Pada Mahasiswa

ABSTRACT Evaporative Dry Eye Syndrome (DES) is the most commonly encountered ocular surface disorder, and its prevalence continues to increase among young adults, particularly university students, in line with the rising use of digital devices and exposure to air-conditioned environments. Non-pharmacological interventions are recommended as the first-line management; however, data regarding behavioral patterns of their implementation among students remain limited. This study aimed to explore patterns of non-pharmacological management behaviors for evaporative DES among students at Universitas Ciputra Surabaya. This study employed a descriptive observational design with a cross-sectional approach, involving 50 students diagnosed with evaporative DES based on Tear Break-Up Time examination (TBUT 10 seconds). Data were collected using a questionnaire and analyzed descriptively. The results showed that 76% of respondents demonstrated poor non-pharmacological management behavior, while 14% demonstrated good behavior. Adjusting room lighting and resting the eyes while working were the most frequently practiced behaviors, whereas adherence to the 20-20-20 rule and performing warm compresses were the least frequently practiced. These findings indicate a gap between evidence-based recommendations and daily practice. In conclusion, the implementation of non-pharmacological management behaviors for evaporative DES among university students remains suboptimal. Therefore, more targeted and practical eye health education is needed to improve adherence to preventive strategies. Keywords: Behavior, Ciputra University Surabaya, Dry Eye Syndrome, Evaporative, Non-Pharmacological, Tear Break-Up Time (TBUT). ABSTRAK Sindroma Mata Kering (SMK) tipe evaporatif merupakan gangguan permukaan okular yang paling sering dijumpai dan prevalensinya terus meningkat pada kelompok usia muda, khususnya mahasiswa seiring dengan meningkatnya penggunaan perangkat digital dan paparan lingkungan ber-AC. Intervensi non-farmakologis direkomendasikan sebagai lini pertama penatalaksanaan, namun data mengenai pola perilaku penerapannya pada mahasiswa masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pola perilaku penanganan non-farmakologis SMK tipe evaporatif pada mahasiswa Universitas Ciputra Surabaya. Penelitian ini menggunakan desain observasional deskriptif dengan pendekatan potong lintang, melibatkan 50 mahasiswa dengan SMK tipe evaporatif berdasarkan pemeriksaan Tear Break-Up Time (TBUT 10 detik). Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan dianalisis secara deskriptif. Hasil menunjukkan 76% responden memiliki perilaku penanganan non-farmakologis yang buruk dan 14% berperilaku baik. Pengaturan pencahayaan ruangan dan mengistirahatkan mata ketika bekerja merupakan perilaku yang paling sering dilakukan, sedangkan penerapan aturan 20-20-20 serta melakukan kompres hangat pada mata merupakan perilaku yang paling jarang dilakukan. Temuan ini menunjukkan adanya kesenjangan antara rekomendasi berbasis bukti dan praktik sehari-hari. Disimpulkan bahwa penerapan perilaku non-farmakologis dalam penanganan SMK tipe evaporatif pada mahasiswa masih belum optimal, sehingga diperlukan edukasi kesehatan mata yang lebih terarah dan aplikatif untuk meningkatkan kepatuhan terhadap strategi pencegahan. Kata Kunci: Evaporatif, Mata Kering, Non-Farmakologis, Perilaku, Tear Break-Up Time.

Authors

Institutions

Publication Details

Journal
MAHESA Malahayati Health Student Journal
Published
2026-10-30
DOI
https://doi.org/10.33024/mahesa.v6i11.25407
Primary Topic
Ocular Surface and Contact Lens
Type
article
Field-Weighted Citation Impact
0.00
Controls
|||
ALL TIME
JAN
FEB
MAR
APR
MAY
JUN
JUL
AUG
SEP
OCT
article

Eksplorasi Pola Perilaku Penanganan Non-Farmakologis Sindroma Mata Kering Tipe Evaporatif Pada Mahasiswa

Hanna Tabita Hasianna Silitonga, Victor Setiawan Tandean, Hendrik Hanok Lenggu, Dewi Lestari Wibowo
3 links
MAHESA Malahayati Health Student Journal
Ocular Surface and Contact Lens
article

Eksplorasi Pola Perilaku Penanganan Non-Farmakologis Sindroma Mata Kering Tipe Evaporatif Pada Mahasiswa

Hanna Tabita Hasianna Silitonga, Victor Setiawan Tandean, Hendrik Hanok Lenggu, Dewi Lestari Wibowo
article en

Abstract

ABSTRACT Evaporative Dry Eye Syndrome (DES) is the most commonly encountered ocular surface disorder, and its prevalence continues to increase among young adults, particularly university students, in line with the rising use of digital devices and exposure to air-conditioned environments. Non-pharmacological interventions are recommended as the first-line management; however, data regarding behavioral patterns of their implementation among students remain limited. This study aimed to explore patterns of non-pharmacological management behaviors for evaporative DES among students at Universitas Ciputra Surabaya. This study employed a descriptive observational design with a cross-sectional approach, involving 50 students diagnosed with evaporative DES based on Tear Break-Up Time examination (TBUT 10 seconds). Data were collected using a questionnaire and analyzed descriptively. The results showed that 76% of respondents demonstrated poor non-pharmacological management behavior, while 14% demonstrated good behavior. Adjusting room lighting and resting the eyes while working were the most frequently practiced behaviors, whereas adherence to the 20-20-20 rule and performing warm compresses were the least frequently practiced. These findings indicate a gap between evidence-based recommendations and daily practice. In conclusion, the implementation of non-pharmacological management behaviors for evaporative DES among university students remains suboptimal. Therefore, more targeted and practical eye health education is needed to improve adherence to preventive strategies. Keywords: Behavior, Ciputra University Surabaya, Dry Eye Syndrome, Evaporative, Non-Pharmacological, Tear Break-Up Time (TBUT). ABSTRAK Sindroma Mata Kering (SMK) tipe evaporatif merupakan gangguan permukaan okular yang paling sering dijumpai dan prevalensinya terus meningkat pada kelompok usia muda, khususnya mahasiswa seiring dengan meningkatnya penggunaan perangkat digital dan paparan lingkungan ber-AC. Intervensi non-farmakologis direkomendasikan sebagai lini pertama penatalaksanaan, namun data mengenai pola perilaku penerapannya pada mahasiswa masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pola perilaku penanganan non-farmakologis SMK tipe evaporatif pada mahasiswa Universitas Ciputra Surabaya. Penelitian ini menggunakan desain observasional deskriptif dengan pendekatan potong lintang, melibatkan 50 mahasiswa dengan SMK tipe evaporatif berdasarkan pemeriksaan Tear Break-Up Time (TBUT 10 detik). Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan dianalisis secara deskriptif. Hasil menunjukkan 76% responden memiliki perilaku penanganan non-farmakologis yang buruk dan 14% berperilaku baik. Pengaturan pencahayaan ruangan dan mengistirahatkan mata ketika bekerja merupakan perilaku yang paling sering dilakukan, sedangkan penerapan aturan 20-20-20 serta melakukan kompres hangat pada mata merupakan perilaku yang paling jarang dilakukan. Temuan ini menunjukkan adanya kesenjangan antara rekomendasi berbasis bukti dan praktik sehari-hari. Disimpulkan bahwa penerapan perilaku non-farmakologis dalam penanganan SMK tipe evaporatif pada mahasiswa masih belum optimal, sehingga diperlukan edukasi kesehatan mata yang lebih terarah dan aplikatif untuk meningkatkan kepatuhan terhadap strategi pencegahan. Kata Kunci: Evaporatif, Mata Kering, Non-Farmakologis, Perilaku, Tear Break-Up Time.

MAHESA Malahayati Health Student JournalVol. 6(11)
Universitas Ciputra (ID)
Good health and well-being, Quality education
Openalex Percentile: Top 10%
Ocular Surface and Contact Lens
AI Navigator

Ask Laika to Summarize, Analyze, and Connect papers live on the map.

Summarize Papers & Methodologies

Extract key findings, datasets, and comparative methods across publications.

Benchmark Rankings & Visual Analytics

Rank top research institutions, authors, funders, topics, and journals by Field-Weighted Citation Impact (FWCI) and paper volume with instant charts.

Connect Distant Disciplines

Bridge topological clusters on the map to find hidden collaborative intersections.

Laika access coming soon