Inkulturasi Transformatif dalam Liturgi Kehidupan: Relevansi Gagasan Peter C. Phan dalam Konteks Indonesia

Abstract. The concept of inculturation is key to understanding the lived experience of faith as Christianity encounters the social, religious, and cultural plurality of Asia. This research, conducted through a literature study, aims to elaborate Peter C. Phan’s ideas regarding dynamic inculturation as they have evolved in Asia. According to Phan, inculturation is not merely the adaptation of local cultural elements into Christian rites; rather, it involves engaging with the historical struggles of the societies in which Christianity grows and develops. Inculturation must always be transformative, permeating the entire dynamic of a society’s life. In this transformative model, liturgy becomes a “liturgy of life”—a liturgy that engages, liberates, and brings renewal to every aspect of people’s daily existence. Through this perspective, the Church does not simply adapt cultural symbols; it acts as a transformative agent, championing Gospel values within those cultures.Abstrak. Konsep inkulturasi menjadi kunci untuk memahami penghayatan iman dalam perjumpaan kekristenan dengan pluralitas sosial, agama, dan kebudayaan di Asia. Penelitian dengan pendekatan studi pustaka ini bertujuan menguraikan gagasan Peter C. Phan atas dinamika inkulturasi yang berkembang di Asia. Menurutnya, konsep inkulturasi bukan sekedar adaptasi unsur-unsur budaya lokal ke dalam ritus Kristen, namun keterlibatan dalam pergulatan sejarah masyarakat di mana kekristenan itu bertumbuh dan berkembang. Inkulturasi harus selalu bersifat transformatif, yakni merasuk seluruh dinamika kehidupan masyarakat. Liturgi yang dirayakan dalam inkulturasi transformatif adalah “liturgi kehidupan,” yakni liturgi yang menyapa, membebaskan, dan membawa pembaruan dalam seluruh aspek keseharian hidup masyarakat. Melalui gagasan ini, Gereja pun tidak hanya mengadaptasi simbol-simbol budaya, tetapi juga menjadi agen transformatif yang memperjuangkan nilai-nilai Injil dalam budaya tersebut.

Authors

Institutions

Publication Details

Journal
Dunamis Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani
Published
2026-10-30
DOI
https://doi.org/10.30648/dun.v11i1.2134
Primary Topic
Christian Theology and Mission
Type
article
Field-Weighted Citation Impact
0.00
Controls
|||
ALL TIME
JAN
FEB
MAR
APR
MAY
JUN
JUL
AUG
SEP
OCT
article

Inkulturasi Transformatif dalam Liturgi Kehidupan: Relevansi Gagasan Peter C. Phan dalam Konteks Indonesia

Yoseph Selvinus Agut, Petrus Rogo, Ignatius Loyola Hamboer Ndona, Marianus Erwin Nakang
Dunamis Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani
Christian Theology and Mission
article

Inkulturasi Transformatif dalam Liturgi Kehidupan: Relevansi Gagasan Peter C. Phan dalam Konteks Indonesia

Yoseph Selvinus Agut, Petrus Rogo, Ignatius Loyola Hamboer Ndona, Marianus Erwin Nakang
article en

Abstract

Abstract. The concept of inculturation is key to understanding the lived experience of faith as Christianity encounters the social, religious, and cultural plurality of Asia. This research, conducted through a literature study, aims to elaborate Peter C. Phan’s ideas regarding dynamic inculturation as they have evolved in Asia. According to Phan, inculturation is not merely the adaptation of local cultural elements into Christian rites; rather, it involves engaging with the historical struggles of the societies in which Christianity grows and develops. Inculturation must always be transformative, permeating the entire dynamic of a society’s life. In this transformative model, liturgy becomes a “liturgy of life”—a liturgy that engages, liberates, and brings renewal to every aspect of people’s daily existence. Through this perspective, the Church does not simply adapt cultural symbols; it acts as a transformative agent, championing Gospel values within those cultures.Abstrak. Konsep inkulturasi menjadi kunci untuk memahami penghayatan iman dalam perjumpaan kekristenan dengan pluralitas sosial, agama, dan kebudayaan di Asia. Penelitian dengan pendekatan studi pustaka ini bertujuan menguraikan gagasan Peter C. Phan atas dinamika inkulturasi yang berkembang di Asia. Menurutnya, konsep inkulturasi bukan sekedar adaptasi unsur-unsur budaya lokal ke dalam ritus Kristen, namun keterlibatan dalam pergulatan sejarah masyarakat di mana kekristenan itu bertumbuh dan berkembang. Inkulturasi harus selalu bersifat transformatif, yakni merasuk seluruh dinamika kehidupan masyarakat. Liturgi yang dirayakan dalam inkulturasi transformatif adalah “liturgi kehidupan,” yakni liturgi yang menyapa, membebaskan, dan membawa pembaruan dalam seluruh aspek keseharian hidup masyarakat. Melalui gagasan ini, Gereja pun tidak hanya mengadaptasi simbol-simbol budaya, tetapi juga menjadi agen transformatif yang memperjuangkan nilai-nilai Injil dalam budaya tersebut.

Dunamis Jurnal Teologi dan Pendidikan KristianiVol. 11(1)
Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara (ID)
Openalex Percentile: Top 2%
Christian Theology and Mission
AI Navigator

Ask Laika to Summarize, Analyze, and Connect papers live on the map.

Summarize Papers & Methodologies

Extract key findings, datasets, and comparative methods across publications.

Benchmark Rankings & Visual Analytics

Rank top research institutions, authors, funders, topics, and journals by Field-Weighted Citation Impact (FWCI) and paper volume with instant charts.

Connect Distant Disciplines

Bridge topological clusters on the map to find hidden collaborative intersections.

Laika access coming soon
Inkulturasi Transformatif dalam Liturgi Kehidupan: Relevansi Gagasan Peter C. Phan dalam Konteks Indonesia — Yoseph Selvinus Agut, Petrus Rogo, et al. · Dunamis Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani (2026) | TGRS Research Map | TGRS