Liturgi Trotoar: Lived Religion dan Resistensi Profetik Pengamen Jalanan di Banjarmasin Tengah

AbstractThis study explores the spirituality of street buskers in Central Banjarmasin as resilient theological subjects in the context of urban poverty in Indonesia. Adopting an ethnographic-phenomenological approach interpreted through Gustavo Gutiérrez’s Liberation Theology and Nancy T. Ammerman’s Lived Religion, the research reveals the transformation of profane street spaces into locus theologicus. Through participant observation and in-depth interviews with six buskers during October–December 2025, a unique “resilient spirituality” is uncovered: (1) the street as a liturgical space where selawat and songs become prayers; (2) vulnerable bodies as theological texts resisting dehumanization; (3) sabar (patience) as a moral strategy against structural stigma; and (4) communal solidarity as an orthopraxis. This article argues [1.1] that buskers’ spirituality serves as a contextual critique of institutional theology, urging an inclusive understanding of divinity that favors the marginalized in contemporary Indonesian society, in line with the demands of contextual theology to reflect socio-cultural-religious realities. AbstrakStudi ini mengeksplorasi dimensi spiritualitas pengamen jalanan di Banjarmasin Tengah sebagai subjek teologis yang resilien dalam konteks kemiskinan urban Indonesia. Mengadopsi pendekatan etnografi fenomenologis yang diinterpretasikan melalui Teologi Pembebasan Gustavo Gutiérrez dan konsep Lived Religion Nancy T. Ammerman, penelitian ini mengungkap transformasi ruang profan jalanan menjadi locus theologicus. Melaluiobservasi partisipatif dan wawancara mendalam dengan enam pengamen selama periode Oktober–Desember 2025, ditemukan praktik “spiritualitas ketangguhan” yang unik: (1) jalanan sebagai ruang liturgi di mana selawat dan nyanyian menjadi doa; (2) tubuh rentan sebagai teks teologis perlawanan terhadap dehumanisasi; (3) sabar (kesabaran) sebagai strategi moral melawan stigma struktural; dan (4) solidaritas komunal sebagai bentuk ortopraksis. Artikel ini berargumen bahwa spiritualitas pengamen merupakan kritik kontekstual terhadap teologi institusional, mendorong pemahaman keilahian yang inklusif dan berpihak pada kaum marjinal di masyarakat Indonesia kontemporer, sejalan dengan tuntutan teologi kontekstual untuk merefleksikan realitas sosio kultural-religius.

Authors

Institutions

Publication Details

Journal
Gema Teologika Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian
Published
2026-10-27
DOI
https://doi.org/10.21460/gema.2026.112.1614
Primary Topic
Religious and Theological Studies
Type
article
Field-Weighted Citation Impact
0.00
Controls
|||
ALL TIME
JAN
FEB
MAR
APR
MAY
JUN
JUL
AUG
SEP
OCT
article

Liturgi Trotoar: Lived Religion dan Resistensi Profetik Pengamen Jalanan di Banjarmasin Tengah

Idrus Sasirais, Bimbing Kalvari, Desi Priolina
Gema Teologika Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian
Religious and Theological Studies
article

Liturgi Trotoar: Lived Religion dan Resistensi Profetik Pengamen Jalanan di Banjarmasin Tengah

Idrus Sasirais, Bimbing Kalvari, Desi Priolina
article en

Abstract

AbstractThis study explores the spirituality of street buskers in Central Banjarmasin as resilient theological subjects in the context of urban poverty in Indonesia. Adopting an ethnographic-phenomenological approach interpreted through Gustavo Gutiérrez’s Liberation Theology and Nancy T. Ammerman’s Lived Religion, the research reveals the transformation of profane street spaces into locus theologicus. Through participant observation and in-depth interviews with six buskers during October–December 2025, a unique “resilient spirituality” is uncovered: (1) the street as a liturgical space where selawat and songs become prayers; (2) vulnerable bodies as theological texts resisting dehumanization; (3) sabar (patience) as a moral strategy against structural stigma; and (4) communal solidarity as an orthopraxis. This article argues [1.1] that buskers’ spirituality serves as a contextual critique of institutional theology, urging an inclusive understanding of divinity that favors the marginalized in contemporary Indonesian society, in line with the demands of contextual theology to reflect socio-cultural-religious realities. AbstrakStudi ini mengeksplorasi dimensi spiritualitas pengamen jalanan di Banjarmasin Tengah sebagai subjek teologis yang resilien dalam konteks kemiskinan urban Indonesia. Mengadopsi pendekatan etnografi fenomenologis yang diinterpretasikan melalui Teologi Pembebasan Gustavo Gutiérrez dan konsep Lived Religion Nancy T. Ammerman, penelitian ini mengungkap transformasi ruang profan jalanan menjadi locus theologicus. Melaluiobservasi partisipatif dan wawancara mendalam dengan enam pengamen selama periode Oktober–Desember 2025, ditemukan praktik “spiritualitas ketangguhan” yang unik: (1) jalanan sebagai ruang liturgi di mana selawat dan nyanyian menjadi doa; (2) tubuh rentan sebagai teks teologis perlawanan terhadap dehumanisasi; (3) sabar (kesabaran) sebagai strategi moral melawan stigma struktural; dan (4) solidaritas komunal sebagai bentuk ortopraksis. Artikel ini berargumen bahwa spiritualitas pengamen merupakan kritik kontekstual terhadap teologi institusional, mendorong pemahaman keilahian yang inklusif dan berpihak pada kaum marjinal di masyarakat Indonesia kontemporer, sejalan dengan tuntutan teologi kontekstual untuk merefleksikan realitas sosio kultural-religius.

Gema Teologika Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian
Sekolah Tinggi Teologi Gereja Kalimantan Evangelis (ID)
Openalex Percentile: Top 5%
Religious and Theological Studies
AI Navigator

Ask Laika to Summarize, Analyze, and Connect papers live on the map.

Summarize Papers & Methodologies

Extract key findings, datasets, and comparative methods across publications.

Benchmark Rankings & Visual Analytics

Rank top research institutions, authors, funders, topics, and journals by Field-Weighted Citation Impact (FWCI) and paper volume with instant charts.

Connect Distant Disciplines

Bridge topological clusters on the map to find hidden collaborative intersections.

Laika access coming soon