Makna Temporal dan Negosiasi Semantik di Media Sosial: Dari Emoji hingga Istilah Populer

Media sosial telah menjadi ruang utama bagi produksi dan negosiasi makna dalam komunikasi digital kontemporer. Penelitian ini mengkaji bagaimana makna temporal makna yang bersifat dinamis, kontekstual, dan terus berubah seiring waktu dinegosiasikan oleh pengguna media sosial melalui penggunaan emoji dan istilah populer . Menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis wacana digital dan netnografi, penelitian ini mengeksplorasi praktik semantik di tiga platform utama: Twitter/X, TikTok, dan Instagram . Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, analisis konten, dan wawancara mendalam dengan pengguna aktif dari berbagai kelompok usia dan latar belakang . Hasil penelitian menunjukkan bahwa emoji dan istilah populer berfungsi sebagai "penanda waktu" (temporal markers) yang mencerminkan dinamika budaya digital yang cepat. Emoji tidak lagi sekadar pelengkap emosional, tetapi telah berkembang menjadi sistem semiotik yang kompleks dengan makna yang bergeser secara temporal misalnya, emoji yang awalnya netral dapat menjadi sarkastik atau bahkan ofensif dalam periode waktu tertentu . Sementara itu, istilah populer seperti "gabut," "toxic," "vibes," dan "NPC" menunjukkan negosiasi semantik yang intens antara generasi digital native dan imigran digital, menciptakan kesenjangan pemahaman yang sering memicu miskomunikasi antargenerasi . Penelitian ini juga mengidentifikasi bahwa negosiasi semantik di media sosial terjadi melalui tiga mekanisme utama: (1) reinterpretasi kolektif di mana komunitas secara bersama-sama mengubah makna suatu tanda melalui penggunaan berulang; (2) apropriasi lintas platform di mana makna dibawa dan diadaptasi dari satu platform ke platform lain; dan (3) resistensi semantic di mana kelompok tertentu menolak atau menantang makna dominan yang muncul . Temuan ini memiliki implikasi penting bagi pemahaman tentang literasi digital, komunikasi antargenerasi, dan evolusi bahasa di era digital. Penelitian ini menyimpulkan bahwa makna di media sosial bersifat cair, kontestatif, dan selalu dalam proses negosiasi, menuntut pengguna untuk memiliki "literasi semantik temporal" kemampuan untuk membaca, menginterpretasikan, dan beradaptasi dengan perubahan makna yang cepat .

Authors

Institutions

Publication Details

Journal
MUARA BAHASA : Jurnal Ilmiah Ilmu Bahasa & Komunikasi
Published
2026-10-15
DOI
https://doi.org/10.64365/murabah.v2i4.604
Primary Topic
Digital Communication and Language
Type
article
Field-Weighted Citation Impact
0.00
Controls
|||
ALL TIME
JAN
FEB
MAR
APR
MAY
JUN
JUL
AUG
SEP
OCT
article

Makna Temporal dan Negosiasi Semantik di Media Sosial: Dari Emoji hingga Istilah Populer

Dewi Anggraeni Kusuma, Rizky Kurniawan
MUARA BAHASA : Jurnal Ilmiah Ilmu Bahasa & Komunikasi
Digital Communication and Language
article

Makna Temporal dan Negosiasi Semantik di Media Sosial: Dari Emoji hingga Istilah Populer

Dewi Anggraeni Kusuma, Rizky Kurniawan
article en

Abstract

Media sosial telah menjadi ruang utama bagi produksi dan negosiasi makna dalam komunikasi digital kontemporer. Penelitian ini mengkaji bagaimana makna temporal makna yang bersifat dinamis, kontekstual, dan terus berubah seiring waktu dinegosiasikan oleh pengguna media sosial melalui penggunaan emoji dan istilah populer . Menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis wacana digital dan netnografi, penelitian ini mengeksplorasi praktik semantik di tiga platform utama: Twitter/X, TikTok, dan Instagram . Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, analisis konten, dan wawancara mendalam dengan pengguna aktif dari berbagai kelompok usia dan latar belakang . Hasil penelitian menunjukkan bahwa emoji dan istilah populer berfungsi sebagai "penanda waktu" (temporal markers) yang mencerminkan dinamika budaya digital yang cepat. Emoji tidak lagi sekadar pelengkap emosional, tetapi telah berkembang menjadi sistem semiotik yang kompleks dengan makna yang bergeser secara temporal misalnya, emoji yang awalnya netral dapat menjadi sarkastik atau bahkan ofensif dalam periode waktu tertentu . Sementara itu, istilah populer seperti "gabut," "toxic," "vibes," dan "NPC" menunjukkan negosiasi semantik yang intens antara generasi digital native dan imigran digital, menciptakan kesenjangan pemahaman yang sering memicu miskomunikasi antargenerasi . Penelitian ini juga mengidentifikasi bahwa negosiasi semantik di media sosial terjadi melalui tiga mekanisme utama: (1) reinterpretasi kolektif di mana komunitas secara bersama-sama mengubah makna suatu tanda melalui penggunaan berulang; (2) apropriasi lintas platform di mana makna dibawa dan diadaptasi dari satu platform ke platform lain; dan (3) resistensi semantic di mana kelompok tertentu menolak atau menantang makna dominan yang muncul . Temuan ini memiliki implikasi penting bagi pemahaman tentang literasi digital, komunikasi antargenerasi, dan evolusi bahasa di era digital. Penelitian ini menyimpulkan bahwa makna di media sosial bersifat cair, kontestatif, dan selalu dalam proses negosiasi, menuntut pengguna untuk memiliki "literasi semantik temporal" kemampuan untuk membaca, menginterpretasikan, dan beradaptasi dengan perubahan makna yang cepat .

MUARA BAHASA : Jurnal Ilmiah Ilmu Bahasa & Komunikasi
Universitas Narotama (ID)
Openalex Percentile: Top 8%
Digital Communication and Language
AI Navigator

Ask Laika to Summarize, Analyze, and Connect papers live on the map.

Summarize Papers & Methodologies

Extract key findings, datasets, and comparative methods across publications.

Benchmark Rankings & Visual Analytics

Rank top research institutions, authors, funders, topics, and journals by Field-Weighted Citation Impact (FWCI) and paper volume with instant charts.

Connect Distant Disciplines

Bridge topological clusters on the map to find hidden collaborative intersections.