ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI IMPLEMENTASI SEABED WARFARE DALAM MENGHADAPI ANCAMAN MULTIDOMAIN DI INDONESIA
Perkembangan karakter ancaman multidomain telah menempatkan dasar laut sebagai ruang strategis yang semakin penting dalam keamanan maritim. Infrastruktur kritis bawah laut, khususnya kabel komunikasi dan pipa energi, memiliki nilai strategis tinggi karena gangguan terhadapnya dapat menghasilkan dampak berantai terhadap komunikasi, ekonomi, komando dan kendali, serta ketahanan nasional. Dalam konteks Indonesia sebagai negara kepulauan dengan posisi geografis strategis dan kepadatan jalur konektivitas bawah laut, kemampuan seabed warfare menjadi bagian penting dari kesiapan operasi laut. Artikel ini bertujuan menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi implementasi seabed warfare di Indonesia berdasarkan rumusan masalah kedua penelitian. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan memanfaatkan hasil wawancara, observasi, studi dokumentasi, serta analisis faktor internal-eksternal melalui SWOT yang terdapat dalam Taskap. Kerangka teoritis menggunakan teori implementasi George C. Edwards III, Mazmanian dan Sabatier, Merilee S. Grindle, teori strategi Arthur F. Lykke, serta perspektif perlindungan infrastruktur kritis dan keamanan maritim. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi seabed warfare dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal yang saling berinteraksi. Faktor internal utama meliputi keterbatasan Underwater Domain Awareness (UDA), belum tersedianya jaringan sensor dasar laut tetap yang terintegrasi, belum optimalnya doktrin dan konsep operasi, keterbatasan kemampuan dibandingkan luas wilayah laut, belum adanya satuan respons cepat khusus, belum real-time-nya data hidro-oseanografi, serta fragmentasi koordinasi antarlembaga. Faktor eksternal meliputi perkembangan teknologi UUV, sensor akustik dan kecerdasan buatan, peluang kerja sama dan transfer teknologi, penguatan industri pertahanan, kebutuhan regulasi perlindungan Critical Underwater Infrastructure (CUI), dinamika geopolitik Indo-Pasifik, serta meningkatnya ancaman sabotase dan aktivitas wahana bawah laut asing. Analisis SWOT menempatkan posisi TNI Angkatan Laut pada Kuadran II dengan skor sumbu X -0,21 dan sumbu Y 0,04 sehingga strategi yang relevan adalah turn around strategy, yaitu memanfaatkan peluang eksternal untuk mengatasi kelemahan internal. Implementasi seabed warfare dengan demikian memerlukan pendekatan terintegrasi yang menggabungkan teknologi, doktrin, sumber daya manusia, tata kelola, koordinasi sipil-militer, dan sistem informasi maritim.
Authors
- Azi Wardiana
- Goki P. Sihombing
- Manahan Budiarto Pandjaitan (ORCID: https://orcid.org/0000-0002-7107-5515)
Publication Details
- Journal
- JURNAL ILMIAH KAJIAN KEANGKATANLAUTAN
- Published
- 2026-10-14
- Primary Topic
- Maritime Security and History
- Type
- article
- Field-Weighted Citation Impact
- 0.00