Between Sustainability and the “Classical”: Situating the Shadow-Play Wayang Sasak and Cultural Resilience in Lombok, Indonesia

Abstract: This article explores the history, narratives, puppets, music, and practitioners of wayang Sasak , the shadow-play theater of Lombok, Indonesia. Wayang Sasak was once an influential aesthetic tool to popularize Islam, but after reform movements, its position was problematic, and prohibitions were sometimes placed on its performance. Most artists and officials on Lombok assumed that the form could not survive globalization and Islamization. But in the 2010s following political decentralization and the advent of social media, wayang became widely approved and a centerpiece of study groups. This article, focusing on movements and agents, uncovers the arduous journey to apparent sustainability. Artikel ini membahas sejarah, narasi, boneka, musik, dan praktisi wayang Sasak, teater bayangan Lombok, Indonesia. Wayang Sasak pernah menjadi alat estetika yang berpengaruh untuk memopulerkan Islam, tetapi setelah gerakan reformasi, posisinya bermasalah, dan terkadang pelarangan diberlakukan pada pertunjukannya. Sebagian besar seniman dan pejabat di Lombok berasumsi bahwa bentuk tersebut tidak akan mampu bertahan dalam globalisasi dan Islamisasi. Namun pada tahun 2010-an, setelah desentralisasi politik dan munculnya media sosial, wayang mulai diterima secara luas dan menjadi pusat perhatian kelompok studi. Artikel ini, yang berfokus pada gerakan dan agen, mengungkap perjalanan sulit menuju keberlanjutan yang nyata.

Authors

Publication Details

Journal
Asian Music
Published
2025-10-31
DOI
https://doi.org/10.1353/amu.00022
Primary Topic
Asian Studies and History
Type
article
Field-Weighted Citation Impact
0.00
Controls
|||
ALL TIME
JAN
FEB
MAR
APR
MAY
JUN
JUL
AUG
SEP
OCT
article

Between Sustainability and the “Classical”: Situating the Shadow-Play Wayang Sasak and Cultural Resilience in Lombok, Indonesia

David Harnish
Asian Music
Asian Studies and History
article

Between Sustainability and the “Classical”: Situating the Shadow-Play Wayang Sasak and Cultural Resilience in Lombok, Indonesia

David Harnish
article en

Abstract

Abstract: This article explores the history, narratives, puppets, music, and practitioners of wayang Sasak , the shadow-play theater of Lombok, Indonesia. Wayang Sasak was once an influential aesthetic tool to popularize Islam, but after reform movements, its position was problematic, and prohibitions were sometimes placed on its performance. Most artists and officials on Lombok assumed that the form could not survive globalization and Islamization. But in the 2010s following political decentralization and the advent of social media, wayang became widely approved and a centerpiece of study groups. This article, focusing on movements and agents, uncovers the arduous journey to apparent sustainability. Artikel ini membahas sejarah, narasi, boneka, musik, dan praktisi wayang Sasak, teater bayangan Lombok, Indonesia. Wayang Sasak pernah menjadi alat estetika yang berpengaruh untuk memopulerkan Islam, tetapi setelah gerakan reformasi, posisinya bermasalah, dan terkadang pelarangan diberlakukan pada pertunjukannya. Sebagian besar seniman dan pejabat di Lombok berasumsi bahwa bentuk tersebut tidak akan mampu bertahan dalam globalisasi dan Islamisasi. Namun pada tahun 2010-an, setelah desentralisasi politik dan munculnya media sosial, wayang mulai diterima secara luas dan menjadi pusat perhatian kelompok studi. Artikel ini, yang berfokus pada gerakan dan agen, mengungkap perjalanan sulit menuju keberlanjutan yang nyata.

Asian MusicVol. 57(1)
Openalex Percentile: Top 20%
Asian Studies and History
AI Navigator

Ask Laika to Summarize, Analyze, and Connect papers live on the map.

Summarize Papers & Methodologies

Extract key findings, datasets, and comparative methods across publications.

Benchmark Rankings & Visual Analytics

Rank top research institutions, authors, funders, topics, and journals by Field-Weighted Citation Impact (FWCI) and paper volume with instant charts.

Connect Distant Disciplines

Bridge topological clusters on the map to find hidden collaborative intersections.