PEMBERDAYAAN PETANI DESA MONCONGLOE GUNA MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS LAHAN SAWAH TERGENANG BANJIR DENGAN INOVASI PADI APUNG

Moncongloe Village, located in Maros Regency, South Sulawesi, comprises 128 hectares of rice fields and is home to 2,432 residents, the majority of whom work as farmers. However, the village faces persistent challenges due to frequent flooding, which renders the rice fields unproductive during the rainy season. As a result, harvests occur only once a year due to waterlogging that damages the crops. Given the village’s substantial agricultural potential, the proposed solution is the implementation of floating rice cultivation. This innovative approach is expected to improve food security and enhance the well-being of farmers in Moncongloe. Furthermore, it has the potential to serve as a model for other flood-prone villages. Floating rice cultivation presents a significant opportunity to optimize land use while minimizing the risk of crop failure due to flooding. By adopting this method, Moncongloe Village can strengthen its resilience to floods and address agricultural challenges more effectively. Through socialization and training activities, farmers have acquired valuable knowledge, as evidenced by an average normalized gain (N-gain) of 83.2%. This improvement, measured through pre- and post-test assessments, indicates a substantial increase in farmers' capacity to adopt this innovative agricultural practice. The program lays the foundation for Moncongloe to become a self-sufficient and flood-resilient village, offering a replicable solution for other areas facing similar challenges. --- Desa Moncongloe, yang terletak di Kabupaten Maros, Provinsi Sulawesi Selatan, memiliki lahan sawah seluas 128 hektar dengan mayoritas masyarakat bekerja sebagai petani, berjumlah 2.432 orang. Namun, desa ini menghadapi masalah serius akibat rawan banjir, yang membuat lahan sawah tidak produktif selama musim penghujan. Dalam setahun, lahan tersebut hanya dapat dipanen sekali akibat genangan air yang merusak tanaman. Sebagai desa yang memiliki potensi sawah yang luas, solusi yang ditawarkan adalah melalui penerapan budidaya padi apung. Budidaya padi apung diharapkan dapat meningkatkan ketahanan pangan dan kesejahteraan petani di Desa Moncongloe, bahkan dapat menjadi desa percontohan untuk desa lain yang memiliki permasalahan yang sama, yakni daerah persawahan yang rawan terendam banjir. Pengembangan budidaya padi apung bukan hanya akan memberikan kontribusi signifikan dalam mengoptimalkan penggunaan lahan pertanian, tetapi juga memiliki potensi untuk mengurangi kerentanan terhadap risiko gagal panen akibat banjir. Dengan diterapkannya inovasi budidaya padi apung di Desa Moncongloe, hasil dari program ini berupa terwujudnya Desa Moncongloe sebagai desa yang memiliki ketahanan pangan yang dapat beradaptasi dengan kondisi banjir serta memberikan alternatif penyelesaian masalah pertanian melalui teknik budidaya padi apung. Melaui kegiatan sosialisasi dan pelatihan, petani mendapatkan peningkatan pengetahuan dengan besaran persentase n-gain yang menunjukkan nilai rata-rata sebesar 83,2% dilihat dari peningkatan kapasitas pengetahuan dari para petani yang diukur melalui pre-test dan post-test.

Institutions

Publication Details

Journal
Panrita Abdi - Jurnal Pengabdian pada Masyarakat
Published
2025-07-30
DOI
https://doi.org/10.20956/pa.v9i3.36719
Primary Topic
Geochemistry and Geologic Mapping
Type
article
Field-Weighted Citation Impact
0.00
Controls
|||
ALL TIME
JAN
FEB
MAR
APR
MAY
JUN
JUL
AUG
SEP
OCT
article

PEMBERDAYAAN PETANI DESA MONCONGLOE GUNA MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS LAHAN SAWAH TERGENANG BANJIR DENGAN INOVASI PADI APUNG

Panrita Abdi - Jurnal Pengabdian pada Masyarakat
Geochemistry and Geologic Mapping
article

PEMBERDAYAAN PETANI DESA MONCONGLOE GUNA MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS LAHAN SAWAH TERGENANG BANJIR DENGAN INOVASI PADI APUNG

article en

Abstract

Moncongloe Village, located in Maros Regency, South Sulawesi, comprises 128 hectares of rice fields and is home to 2,432 residents, the majority of whom work as farmers. However, the village faces persistent challenges due to frequent flooding, which renders the rice fields unproductive during the rainy season. As a result, harvests occur only once a year due to waterlogging that damages the crops. Given the village’s substantial agricultural potential, the proposed solution is the implementation of floating rice cultivation. This innovative approach is expected to improve food security and enhance the well-being of farmers in Moncongloe. Furthermore, it has the potential to serve as a model for other flood-prone villages. Floating rice cultivation presents a significant opportunity to optimize land use while minimizing the risk of crop failure due to flooding. By adopting this method, Moncongloe Village can strengthen its resilience to floods and address agricultural challenges more effectively. Through socialization and training activities, farmers have acquired valuable knowledge, as evidenced by an average normalized gain (N-gain) of 83.2%. This improvement, measured through pre- and post-test assessments, indicates a substantial increase in farmers' capacity to adopt this innovative agricultural practice. The program lays the foundation for Moncongloe to become a self-sufficient and flood-resilient village, offering a replicable solution for other areas facing similar challenges. --- Desa Moncongloe, yang terletak di Kabupaten Maros, Provinsi Sulawesi Selatan, memiliki lahan sawah seluas 128 hektar dengan mayoritas masyarakat bekerja sebagai petani, berjumlah 2.432 orang. Namun, desa ini menghadapi masalah serius akibat rawan banjir, yang membuat lahan sawah tidak produktif selama musim penghujan. Dalam setahun, lahan tersebut hanya dapat dipanen sekali akibat genangan air yang merusak tanaman. Sebagai desa yang memiliki potensi sawah yang luas, solusi yang ditawarkan adalah melalui penerapan budidaya padi apung. Budidaya padi apung diharapkan dapat meningkatkan ketahanan pangan dan kesejahteraan petani di Desa Moncongloe, bahkan dapat menjadi desa percontohan untuk desa lain yang memiliki permasalahan yang sama, yakni daerah persawahan yang rawan terendam banjir. Pengembangan budidaya padi apung bukan hanya akan memberikan kontribusi signifikan dalam mengoptimalkan penggunaan lahan pertanian, tetapi juga memiliki potensi untuk mengurangi kerentanan terhadap risiko gagal panen akibat banjir. Dengan diterapkannya inovasi budidaya padi apung di Desa Moncongloe, hasil dari program ini berupa terwujudnya Desa Moncongloe sebagai desa yang memiliki ketahanan pangan yang dapat beradaptasi dengan kondisi banjir serta memberikan alternatif penyelesaian masalah pertanian melalui teknik budidaya padi apung. Melaui kegiatan sosialisasi dan pelatihan, petani mendapatkan peningkatan pengetahuan dengan besaran persentase n-gain yang menunjukkan nilai rata-rata sebesar 83,2% dilihat dari peningkatan kapasitas pengetahuan dari para petani yang diukur melalui pre-test dan post-test.

Panrita Abdi - Jurnal Pengabdian pada MasyarakatVol. 9(3)
Hasanuddin University (ID)
Zero hunger
Openalex Percentile: Top 28%
Geochemistry and Geologic Mapping
AI Navigator

Ask Laika to Summarize, Analyze, and Connect papers live on the map.

Summarize Papers & Methodologies

Extract key findings, datasets, and comparative methods across publications.

Benchmark Rankings & Visual Analytics

Rank top research institutions, authors, funders, topics, and journals by Field-Weighted Citation Impact (FWCI) and paper volume with instant charts.

Connect Distant Disciplines

Bridge topological clusters on the map to find hidden collaborative intersections.