Moderasi Beragama Suhu, Ngonten Agama Cupu? Penyuluh Agama di Media Sosial

Download the paper at: https://s.id/R8PhF The present paper is a preliminary report of the ongoing research project regarding the digital performance and the agency of religious extension officers (Penyuluh Agama) in social media. About sixty-seven thousand Penyuluh, representing six religions in the state service, is on the frontline of the massive campaign of religious moderation (moderasi beragama) organized by the Ministry of Religious Affairs. They are the sole body with religious competence dealing with the increasing religious conservatism, radicalism, and extremism. The paper describes the complexity of the position of Penyuluh within the challenge of religious extremism, the execution of a religious moderation campaign, and social media engagement. The initial findings demonstrate the digital divide context, the tendency of Penyuluh to reproduce the structure, hence limit their agency, limited digital mastery and digital literacy of many of Penyuluh, fragmented institutional information system, and the vulnerability of instant messenger engagement that prone to epistemic bubble and echo chamber effects. -------Makalah ini adalah laporan awal penelitian yang masih berlangsung mengenai unjuk kerja Penyuluh Agama di dunia digital, serta memahami posisi agensi mereka di media sosial. Kurang lebih terdapat enam puluh tujuh ribu Penyuluh dari enam agama yang dilayani negara, menjadi garda terdepan dalam kampanye masif moderasi beragama yang dikoordinir Kementerian Agama. Penyuluh adalah satusatunya agen negara dengan jumlah signifikan yang memiliki kompetensi agama dalam menghadapi meningkatnya konservatisme, radikalisme dan ekstremisme agama. Makalah ini memaparkan dinamika dan kerumitan posisi Penyuluh dalam menangkal ekstremisme agama dan dalam menjalankan peran penting kampanye moderasi agama, sekaligus keaktifan memanfaatkan media sosial. Temuan awal penelitian ini menunjukkan masih nyatanya kondisi kesenjangan digital (digital divide), kecenderungan Penyuluh untuk sekedar mereproduksi struktur sehingga agensi mereka lemah, keterbatasan kapasitas memanfaatkan teknologi digital dan literasi digital, sistem informasi pendukung yang masih terfragmentasi, dan rentannya teknologi populer Instant Messenger seperti Whatsapp menjadi ruang epistemic bubble dan echo chamber. Kondisi terakhir ini memberi peluang pada dominasi wacana tunggal oleh aktor-aktor dominan.

Institutions

Publication Details

Journal
Zenodo (CERN European Organization for Nuclear Research)
Published
2024-11-24
DOI
https://doi.org/10.5281/zenodo.14211062
Primary Topic
Islamic Studies and Radicalism
Type
article
Field-Weighted Citation Impact
0.00
Controls
|||
ALL TIME
JAN
FEB
MAR
APR
MAY
JUN
JUL
AUG
SEP
OCT
article

Moderasi Beragama Suhu, Ngonten Agama Cupu? Penyuluh Agama di Media Sosial

Zenodo (CERN European Organization for Nuclear Research)
Islamic Studies and Radicalism
article

Moderasi Beragama Suhu, Ngonten Agama Cupu? Penyuluh Agama di Media Sosial

article en

Abstract

Download the paper at: https://s.id/R8PhF The present paper is a preliminary report of the ongoing research project regarding the digital performance and the agency of religious extension officers (Penyuluh Agama) in social media. About sixty-seven thousand Penyuluh, representing six religions in the state service, is on the frontline of the massive campaign of religious moderation (moderasi beragama) organized by the Ministry of Religious Affairs. They are the sole body with religious competence dealing with the increasing religious conservatism, radicalism, and extremism. The paper describes the complexity of the position of Penyuluh within the challenge of religious extremism, the execution of a religious moderation campaign, and social media engagement. The initial findings demonstrate the digital divide context, the tendency of Penyuluh to reproduce the structure, hence limit their agency, limited digital mastery and digital literacy of many of Penyuluh, fragmented institutional information system, and the vulnerability of instant messenger engagement that prone to epistemic bubble and echo chamber effects. -------Makalah ini adalah laporan awal penelitian yang masih berlangsung mengenai unjuk kerja Penyuluh Agama di dunia digital, serta memahami posisi agensi mereka di media sosial. Kurang lebih terdapat enam puluh tujuh ribu Penyuluh dari enam agama yang dilayani negara, menjadi garda terdepan dalam kampanye masif moderasi beragama yang dikoordinir Kementerian Agama. Penyuluh adalah satusatunya agen negara dengan jumlah signifikan yang memiliki kompetensi agama dalam menghadapi meningkatnya konservatisme, radikalisme dan ekstremisme agama. Makalah ini memaparkan dinamika dan kerumitan posisi Penyuluh dalam menangkal ekstremisme agama dan dalam menjalankan peran penting kampanye moderasi agama, sekaligus keaktifan memanfaatkan media sosial. Temuan awal penelitian ini menunjukkan masih nyatanya kondisi kesenjangan digital (digital divide), kecenderungan Penyuluh untuk sekedar mereproduksi struktur sehingga agensi mereka lemah, keterbatasan kapasitas memanfaatkan teknologi digital dan literasi digital, sistem informasi pendukung yang masih terfragmentasi, dan rentannya teknologi populer Instant Messenger seperti Whatsapp menjadi ruang epistemic bubble dan echo chamber. Kondisi terakhir ini memberi peluang pada dominasi wacana tunggal oleh aktor-aktor dominan.

Zenodo (CERN European Organization for Nuclear Research)
Universitas Gadjah Mada (ID), Institute of Religious Studies (BR), Padjadjaran University (ID)
Quality Education
Openalex Percentile: Top 35%
Islamic Studies and Radicalism
AI Navigator

Ask Laika to Summarize, Analyze, and Connect papers live on the map.

Summarize Papers & Methodologies

Extract key findings, datasets, and comparative methods across publications.

Benchmark Rankings & Visual Analytics

Rank top research institutions, authors, funders, topics, and journals by Field-Weighted Citation Impact (FWCI) and paper volume with instant charts.

Connect Distant Disciplines

Bridge topological clusters on the map to find hidden collaborative intersections.