Antara Iman dan Budaya: Perjumpaan dengan Yang Transenden Lewat Ritual Keti Dara Ta’a, dalam Terang Konsep Hierophani Mircea Eliade

Every culture has many ceremonies in the form of rituals that are shown to a transcendent person. One example occurs in the Keti Dara Ta'a ritual in Manggarai culture. The Keti Dara Ta'a ritual is a tradition performed when a family member dies unnaturally, such as accidents, suicide, death due to natural disasters, and murder victims. In this study, researchers looked at the Keti Dara Ta'a ritual through Mircea Eliade's concept of Hierophany. There are two objectives of this study, firstly, to look at the transcendental subject in the Keti Dara Ta'a ritual in relation to the Christian faith. Secondly, to contextualize Mircea Eliade's hierophany paradigm. The method used is a literature study with books as the main source and several related articles. It can be concluded that the Keti Dara Ta'a ritual refers to a sacred phenomenon that is preserved in the frame of Manggarai culture. The sacredness patterned in the Keti Dara Ta'a ritual, no matter how complicated, still has relevance to the transcendence of Christian faith.AbstrakSetiap budaya memiliki banyak perayaan berupa ritual yang ditujukan kepada pribadi yang transenden. Salah satu contoh terjadi dalam ritual keti dara ta’a yang dipraktekan oleh masyarakat Manggarai. Ritual keti dara ta’a merupakan sebuah tradisi yang dilakukan ketika memiliki anggota keluarga yang meninggal secara tidak wajar, seperti kecelakaan, bunuh diri, meninggal karena bencana alam, dan korban pembunuhan. Dalam kajian ini, peneliti melihat ritual keti dara ta’a melalui konsep hierophani Mircea Eliade. Terdapat dua tujuan penelitian ini, pertama, untuk mengenal sosok transenden dalam ritual keti dara ta’a dalam relasinya dengan Allah dalam pemahaman iman Kristiani. Kedua, untuk mengkontekstualisasikan konsep hierophani yang pernah digagas Mircea Eliade dengan fenomena budaya di Manggarai. Adapun metode yang digunakan adalah studi pustaka dengan buku sebagai sumber utama serta beberapa artikel terkait. Dapat disimpulkan bahwa ritual Keti Dara Ta’a merujuk pada fenomena sakral yang terpelihara dalam bingkai kebudayaan Manggarai. Sakralitas yang terpola dalam ritual keti dara ta’a sebagaimana pun peliknya, tetap memiliki relevansi dengan transendensi iman Kristiani.

Authors

Institutions

Publication Details

Journal
Proceedings of The National Conference on Indonesian Philosophy and Theology
Published
2025-10-14
DOI
https://doi.org/10.24071/snf.v3i1.10230
Primary Topic
Contemporary Christian Leadership and Education
Type
article
Field-Weighted Citation Impact
0.00
Controls
|||
ALL TIME
JAN
FEB
MAR
APR
MAY
JUN
JUL
AUG
SEP
OCT
article

Antara Iman dan Budaya: Perjumpaan dengan Yang Transenden Lewat Ritual Keti Dara Ta’a, dalam Terang Konsep Hierophani Mircea Eliade

Sebastianus Rikardo Eldi, JB Heru Prakosa
Proceedings of The National Conference on Indonesian Philosophy and Theology
Contemporary Christian Leadership and Education
article

Antara Iman dan Budaya: Perjumpaan dengan Yang Transenden Lewat Ritual Keti Dara Ta’a, dalam Terang Konsep Hierophani Mircea Eliade

Sebastianus Rikardo Eldi, JB Heru Prakosa
article en

Abstract

Every culture has many ceremonies in the form of rituals that are shown to a transcendent person. One example occurs in the Keti Dara Ta'a ritual in Manggarai culture. The Keti Dara Ta'a ritual is a tradition performed when a family member dies unnaturally, such as accidents, suicide, death due to natural disasters, and murder victims. In this study, researchers looked at the Keti Dara Ta'a ritual through Mircea Eliade's concept of Hierophany. There are two objectives of this study, firstly, to look at the transcendental subject in the Keti Dara Ta'a ritual in relation to the Christian faith. Secondly, to contextualize Mircea Eliade's hierophany paradigm. The method used is a literature study with books as the main source and several related articles. It can be concluded that the Keti Dara Ta'a ritual refers to a sacred phenomenon that is preserved in the frame of Manggarai culture. The sacredness patterned in the Keti Dara Ta'a ritual, no matter how complicated, still has relevance to the transcendence of Christian faith.AbstrakSetiap budaya memiliki banyak perayaan berupa ritual yang ditujukan kepada pribadi yang transenden. Salah satu contoh terjadi dalam ritual keti dara ta’a yang dipraktekan oleh masyarakat Manggarai. Ritual keti dara ta’a merupakan sebuah tradisi yang dilakukan ketika memiliki anggota keluarga yang meninggal secara tidak wajar, seperti kecelakaan, bunuh diri, meninggal karena bencana alam, dan korban pembunuhan. Dalam kajian ini, peneliti melihat ritual keti dara ta’a melalui konsep hierophani Mircea Eliade. Terdapat dua tujuan penelitian ini, pertama, untuk mengenal sosok transenden dalam ritual keti dara ta’a dalam relasinya dengan Allah dalam pemahaman iman Kristiani. Kedua, untuk mengkontekstualisasikan konsep hierophani yang pernah digagas Mircea Eliade dengan fenomena budaya di Manggarai. Adapun metode yang digunakan adalah studi pustaka dengan buku sebagai sumber utama serta beberapa artikel terkait. Dapat disimpulkan bahwa ritual Keti Dara Ta’a merujuk pada fenomena sakral yang terpelihara dalam bingkai kebudayaan Manggarai. Sakralitas yang terpola dalam ritual keti dara ta’a sebagaimana pun peliknya, tetap memiliki relevansi dengan transendensi iman Kristiani.

Proceedings of The National Conference on Indonesian Philosophy and TheologyVol. 3(1)
Sanata Dharma University (ID)
Openalex Percentile: Top 77%
Contemporary Christian Leadership and Education
AI Navigator

Ask Laika to Summarize, Analyze, and Connect papers live on the map.

Summarize Papers & Methodologies

Extract key findings, datasets, and comparative methods across publications.

Benchmark Rankings & Visual Analytics

Rank top research institutions, authors, funders, topics, and journals by Field-Weighted Citation Impact (FWCI) and paper volume with instant charts.

Connect Distant Disciplines

Bridge topological clusters on the map to find hidden collaborative intersections.