Spiritual Experience and Character Formation

The article explores the imbalance in Pentecostal spiritual formation, where the focus on personal experiences with the Holy Spirit, such as speaking in tongues and healing, often overshadows the importance of deep theological education, spiritual disciplines, and character formation. The aim is to highlight the gaps in spiritual formation within Pentecostalism and propose ways to integrate emotional experiences with doctrinal understanding for a more holistic spiritual growth. The article uses a theoretical approach, reviewing existing theological perspectives and spiritual practices, referencing scholars like Anderson, McGrath, and Banda. The results reveal several key issues: a lack of theological depth, neglect of regular spiritual practices, and insufficient emphasis on Christian character and ethics. It also points to the underdeveloped role of community and intergenerational learning in spiritual formation. The contribution of the article is in proposing a balanced approach to spiritual growth that combines emotional experiences with solid theology, regular spiritual practices, ethical living, and strong community involvement, ultimately offering a framework for more sustainable spiritual maturity within Pentecostalism. Artikel ini membahas ketidakseimbangan dalam pembentukan rohani Pentakosta, di mana penekanan pada pengalaman pribadi dengan Roh Kudus—seperti berbahasa roh dan penyembuhan—sering kali mengesampingkan pentingnya pendidikan teologis yang mendalam, disiplin rohani, dan pembentukan karakter. Tujuannya adalah untuk menyoroti kesenjangan dalam pembentukan rohani di kalangan Pentakosta dan mengusulkan cara untuk mengintegrasikan pengalaman emosional dengan pemahaman doktrinal guna mencapai pertumbuhan rohani yang lebih holistik. Artikel ini menggunakan pendekatan teoretis dengan meninjau perspektif teologis dan praktik rohani yang ada, serta merujuk pada para sarjana seperti Anderson, McGrath, dan Banda. Hasilnya mengungkap beberapa masalah utama: kurangnya kedalaman teologi, pengabaian terhadap praktik rohani yang teratur, dan penekanan yang tidak memadai pada karakter serta etika Kristen. Artikel ini juga menyoroti peran komunitas dan pembelajaran antar generasi yang belum berkembang dengan baik dalam pembentukan rohani. Kontribusi utama artikel ini terletak pada usulannya untuk menciptakan pendekatan seimbang dalam pertumbuhan rohani yang memadukan pengalaman emosional dengan teologi yang kokoh, praktik rohani yang teratur, kehidupan etis, serta keterlibatan aktif dalam komunitas. Pendekatan ini pada akhirnya menawarkan kerangka bagi kematangan rohani yang lebih berkelanjutan dalam tradisi Pentakosta.

Authors

Publication Details

Journal
Indonesia Journal of Religious
Published
2025-10-08
DOI
https://doi.org/10.46362/ijr.v8i2.45
Primary Topic
Religion, Spirituality, and Psychology
Type
article
Field-Weighted Citation Impact
0.00
Controls
|||
ALL TIME
JAN
FEB
MAR
APR
MAY
JUN
JUL
AUG
SEP
OCT
article

Spiritual Experience and Character Formation

Widjaja Sugiri
Indonesia Journal of Religious
Religion, Spirituality, and Psychology
article

Spiritual Experience and Character Formation

Widjaja Sugiri
article en

Abstract

The article explores the imbalance in Pentecostal spiritual formation, where the focus on personal experiences with the Holy Spirit, such as speaking in tongues and healing, often overshadows the importance of deep theological education, spiritual disciplines, and character formation. The aim is to highlight the gaps in spiritual formation within Pentecostalism and propose ways to integrate emotional experiences with doctrinal understanding for a more holistic spiritual growth. The article uses a theoretical approach, reviewing existing theological perspectives and spiritual practices, referencing scholars like Anderson, McGrath, and Banda. The results reveal several key issues: a lack of theological depth, neglect of regular spiritual practices, and insufficient emphasis on Christian character and ethics. It also points to the underdeveloped role of community and intergenerational learning in spiritual formation. The contribution of the article is in proposing a balanced approach to spiritual growth that combines emotional experiences with solid theology, regular spiritual practices, ethical living, and strong community involvement, ultimately offering a framework for more sustainable spiritual maturity within Pentecostalism. Artikel ini membahas ketidakseimbangan dalam pembentukan rohani Pentakosta, di mana penekanan pada pengalaman pribadi dengan Roh Kudus—seperti berbahasa roh dan penyembuhan—sering kali mengesampingkan pentingnya pendidikan teologis yang mendalam, disiplin rohani, dan pembentukan karakter. Tujuannya adalah untuk menyoroti kesenjangan dalam pembentukan rohani di kalangan Pentakosta dan mengusulkan cara untuk mengintegrasikan pengalaman emosional dengan pemahaman doktrinal guna mencapai pertumbuhan rohani yang lebih holistik. Artikel ini menggunakan pendekatan teoretis dengan meninjau perspektif teologis dan praktik rohani yang ada, serta merujuk pada para sarjana seperti Anderson, McGrath, dan Banda. Hasilnya mengungkap beberapa masalah utama: kurangnya kedalaman teologi, pengabaian terhadap praktik rohani yang teratur, dan penekanan yang tidak memadai pada karakter serta etika Kristen. Artikel ini juga menyoroti peran komunitas dan pembelajaran antar generasi yang belum berkembang dengan baik dalam pembentukan rohani. Kontribusi utama artikel ini terletak pada usulannya untuk menciptakan pendekatan seimbang dalam pertumbuhan rohani yang memadukan pengalaman emosional dengan teologi yang kokoh, praktik rohani yang teratur, kehidupan etis, serta keterlibatan aktif dalam komunitas. Pendekatan ini pada akhirnya menawarkan kerangka bagi kematangan rohani yang lebih berkelanjutan dalam tradisi Pentakosta.

Indonesia Journal of ReligiousVol. 8(2)
Openalex Percentile: Top 64%
Religion, Spirituality, and Psychology
AI Navigator

Ask Laika to Summarize, Analyze, and Connect papers live on the map.

Summarize Papers & Methodologies

Extract key findings, datasets, and comparative methods across publications.

Benchmark Rankings & Visual Analytics

Rank top research institutions, authors, funders, topics, and journals by Field-Weighted Citation Impact (FWCI) and paper volume with instant charts.

Connect Distant Disciplines

Bridge topological clusters on the map to find hidden collaborative intersections.