Kasus radiodermatitis akut pada penderita karsinoma nasofaring stadium III
Introduction: Radiotherapy can be used as monotherapy or in combination with surgery or with chemotherapy and surgery, has been reported as an effective regimen for the treatment of tumors. Radiodermatitis is one of the most common side effects experienced by patients receiving radiotherapy for cancer, including nasopharyngeal cancer. In this case report, one case of radiodermatitis in a nasopharyngeal cancer patient who received radiotherapy will be reported. Case Presentation: A 47-year-old woman, Balinese, Indonesian citizen, came with a chief complaint of blisters on her neck. The blisters on her neck had been felt for approximately 1 week. Dermatological examination of the neck area showed efflorescence in the form of multiple erosions, firm boundaries, geographic shape, measuring 1x2 cm – 3x6 cm, accompanied by dry desquamation, localized distribution in the neck area. The patient was diagnosed with acute radiodermatitis and stage III NPC. The management given was 0.9% Nacl compress every 12 hours for 10-15 minutes on the lesion, 2.5% hydrocortisone cream every 12 hours topically, 2% sodium fusidate cream every 12 hours topically and it was suggested to reduce the radiation power of radiotherapy. Conclusion: The diagnosis of radiodermatitis is based on anamnesis, physical examination and supporting examinations. Management in this case is in the form of giving saline solution compresses, topical anti-inflammatories, topical antibiotics, and it is recommended to reduce radiation power. Pendahuluan: Radioterapi dapat digunakan sebagai monoterapi atau kombinasi dengan pembedahan atau dengan kemoterapi dan pembedahan, telah dilaporkan sebagai rejimen yang efektif untuk pengobatan tumor. Radiodermatitis adalah salah satu efek samping yang paling umum dialami oleh pasien yang menerima radioterapi untuk kanker, termasuk kanker nasofaring. Dalam laporan kasus ini akan dilaporan salah satu kasus radiodermatitis pasien kanker nasofaring yang mendapat radioterapi. Laporan kasus: Seorang perempuan, usia 47 tahun, suku Bali, warga negara Indonesia, datang dengan keluhan utama muncul lepuh pada leher. Lepuh pada leher dirasakan muncul sejak lebih kurang 1 minggu yang lalu. Pemeriksaan dermatologis pada daerah colli didapatkan efloresensi berupa erosi multipel, batas tegas, bentuk geografika, ukuran 1x2 cm – 3x6 cm, disertai deskuamasi kering, distribusi terlokalisir pada daerah colli. Pasien didiagnosis dengan radiodermatitis akut dan KNF stadium III. Penatalaksanaan yang diberikan adalah kompres Nacl 0,9% setiap 12 jam selama 10-15 menit pada lesi, hidrokortison 2,5% krim setiap 12 jam topikal, natrium fusidat 2% krim tiap 12 jam topikal dan disarankan untuk menurunkan power radiasi radioterapi. Simpulan: Diagnosis radiodermatitis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang yang mendukung. Penatalaksanaan pada kasus berupa pemberian kompres larutan salin, antiinflamasi topikal, antibiotik topikal, dan disarankan untuk penurunan power radiasi.
Authors
- Ida Ayu Uttari Priyadarshini
Institutions
- Universitas Mahasaraswati Denpasar (ID)
Publication Details
- Journal
- Intisari Sains Medis
- Published
- 2025-03-24
- DOI
- https://doi.org/10.15562/ism.v16i1.2300
- Primary Topic
- Head and Neck Cancer Studies
- Type
- article
- Field-Weighted Citation Impact
- 0.00