Peran rasio monosit terhadap limfosit (MLR) sebagai prediktor kejadian kardiovaskuler mayor intra rawat inap pada infark miokard di RSUP Prof Ngoerah

Background: Coronary heart disease (CHD) has been recognized as a leading cause of death globally. Studies have shown that the monocyte-to-lymphocyte ratio (MLR) is one of the standard hematological markers that can be used to predict major cardiovascular events (MACE). This is based on the characteristics of both leukocyte components that are also involved in the pathophysiology of myocardial infarction and involved in systemic inflammatory processes. This study aims to determine the role of MLR as a predictor of MACE during hospitalization in myocardial infarction patients at Prof. Ngoerah Hospital. Methods: This study was a retrospective cohort study that took place at Prof. Dr. I.G.N.G. Ngoerah Hospital, Denpasar, Bali and was conducted for 20 weeks. Determination of research subjects and sampling was done consecutively according to the inclusion and exclusion criteria. Blood samples were taken when the patient was admitted to the emergency department and the patient was assessed for SMI during hospitalization. The collected data were analyzed with SPSS for windows version 26.0. Results: This study included 88 patients with myocardial infarction. The analysis showed that the mean MLR in the positive MACE group was 0.76 ± 0.59 and in the negative MACE group was 0.44 ± 0.28. After ROC analysis and a cut off value of 0.47, the proportion difference analysis also revealed that patients with high MLR (≥0.47) were more at risk of developing MACE than patients with low MLR (<0.47; p<0.001). Cox multivariable analysis showed that MLR was the most contributing factor to MACE (Adjusted HR 5.86; IK95% 2.77-12.38; p<0.001). Conclusion: The absolute MLR value was higher in the group of myocardial infarction patients who experienced MACE during hospitalization compared to those without MACE. A high MLR value (≥0.47) was a predictor of MACE during hospitalization in myocardial infarction patients. Latar Belakang: Penyakit jantung koroner (PJK) telah diketahui merupakan penyebab utama kematian secara global. Penelitian telah menunjukan bahwa rasio monosit terhadap limfosit (monocyte-to-lymphocyte ratio/MLR) menjadi salah satu penanda hematologis standar yang dapat digunakan untuk memprediksi kejadian kardiovaskuler mayor (KKM). Hal ini didasarkan pada karakteristik dari kedua komponen leukosit tersebut yang juga terlibat dalam patofisiologi dari infark miokard dan terlibat dalam proses inflamasi sistemik. Studi ini bertujuan untuk mengetahui peran MLR sebagai prediktor kejadian KKM selama rawat inap pada pasien infark miokard di RSUP Prof. Ngoerah. Metode: Studi ini merupakan penelitian kohort retrospektif yang bertempat di RSUP Prof. dr. I.G.N.G. Ngoerah, Denpasar, Bali dan dilaksanakan selama 20 minggu. Penentuan subjek penelitian dan pengambilan sampel dilakukan secara konsekutif sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Sampel darah diambil saat pasien masuk ke instalasi gawat darurat dan pasien dilakukan penilaian KKM selama dilakukan rawat inap. Data yang telah dikumpulkan dianalisis dengan SPSS for windows version 26.0. Hasil: Penelitian ini melibatkan 88 pasien infark miokard. Hasil analisis menunjukkan bahwa rerata MLR pada kelompok KKM positif 0,76±0,59 dan pada kelompok KKM negatif 0,44±0,28. Setelah dilakukan analisis ROC dan didapatkan cut off value sebesar 0,47 analisis perbedaan proporsi juga mengungkapkan bahwa pasien dengan MLR tinggi (≥0,47) lebih berisiko mengalami KKM dibandingkan pasien dengan MLR rendah (<0,47; p<0,001). Analisis multivariable cox menunjukkan bahwa MLR merupakan faktor yang paling berperan terhadap KKM (Adjusted HR 5.86; IK95% 2.77-12.38; p<0.001). Simpulan: Nilai MLR absolut lebih tinggi pada kelompok pasien infark miokard yang mengalami KKM selama rawat inap dibandingkan dengan tanpa KKM. Nilai MLR yang tinggi (≥0,47) merupakan prediktor KKM selama rawat inap pada pasien infark miokard.

Authors

Institutions

Publication Details

Journal
Intisari Sains Medis
Published
2025-04-06
DOI
https://doi.org/10.15562/ism.v16i1.2336
Primary Topic
Public Health and Nutrition
Type
article
Field-Weighted Citation Impact
0.00
Controls
|||
ALL TIME
JAN
FEB
MAR
APR
MAY
JUN
JUL
AUG
SEP
OCT
article

Peran rasio monosit terhadap limfosit (MLR) sebagai prediktor kejadian kardiovaskuler mayor intra rawat inap pada infark miokard di RSUP Prof Ngoerah

I Made Putra Swi Antara, I Made Junior Rina Artha, I Wayan Gede Artawan Eka Putra, Bagus Ari Pradnyana Dwi Sutanegara et al.
Intisari Sains Medis
Public Health and Nutrition
article

Peran rasio monosit terhadap limfosit (MLR) sebagai prediktor kejadian kardiovaskuler mayor intra rawat inap pada infark miokard di RSUP Prof Ngoerah

I Made Putra Swi Antara, I Made Junior Rina Artha, I Wayan Gede Artawan Eka Putra, Bagus Ari Pradnyana Dwi Sutanegara, I Kadek Susila Surya Darma, I Putu Gede Arya Wedana
article en

Abstract

Background: Coronary heart disease (CHD) has been recognized as a leading cause of death globally. Studies have shown that the monocyte-to-lymphocyte ratio (MLR) is one of the standard hematological markers that can be used to predict major cardiovascular events (MACE). This is based on the characteristics of both leukocyte components that are also involved in the pathophysiology of myocardial infarction and involved in systemic inflammatory processes. This study aims to determine the role of MLR as a predictor of MACE during hospitalization in myocardial infarction patients at Prof. Ngoerah Hospital. Methods: This study was a retrospective cohort study that took place at Prof. Dr. I.G.N.G. Ngoerah Hospital, Denpasar, Bali and was conducted for 20 weeks. Determination of research subjects and sampling was done consecutively according to the inclusion and exclusion criteria. Blood samples were taken when the patient was admitted to the emergency department and the patient was assessed for SMI during hospitalization. The collected data were analyzed with SPSS for windows version 26.0. Results: This study included 88 patients with myocardial infarction. The analysis showed that the mean MLR in the positive MACE group was 0.76 ± 0.59 and in the negative MACE group was 0.44 ± 0.28. After ROC analysis and a cut off value of 0.47, the proportion difference analysis also revealed that patients with high MLR (≥0.47) were more at risk of developing MACE than patients with low MLR (<0.47; p<0.001). Cox multivariable analysis showed that MLR was the most contributing factor to MACE (Adjusted HR 5.86; IK95% 2.77-12.38; p<0.001). Conclusion: The absolute MLR value was higher in the group of myocardial infarction patients who experienced MACE during hospitalization compared to those without MACE. A high MLR value (≥0.47) was a predictor of MACE during hospitalization in myocardial infarction patients. Latar Belakang: Penyakit jantung koroner (PJK) telah diketahui merupakan penyebab utama kematian secara global. Penelitian telah menunjukan bahwa rasio monosit terhadap limfosit (monocyte-to-lymphocyte ratio/MLR) menjadi salah satu penanda hematologis standar yang dapat digunakan untuk memprediksi kejadian kardiovaskuler mayor (KKM). Hal ini didasarkan pada karakteristik dari kedua komponen leukosit tersebut yang juga terlibat dalam patofisiologi dari infark miokard dan terlibat dalam proses inflamasi sistemik. Studi ini bertujuan untuk mengetahui peran MLR sebagai prediktor kejadian KKM selama rawat inap pada pasien infark miokard di RSUP Prof. Ngoerah. Metode: Studi ini merupakan penelitian kohort retrospektif yang bertempat di RSUP Prof. dr. I.G.N.G. Ngoerah, Denpasar, Bali dan dilaksanakan selama 20 minggu. Penentuan subjek penelitian dan pengambilan sampel dilakukan secara konsekutif sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Sampel darah diambil saat pasien masuk ke instalasi gawat darurat dan pasien dilakukan penilaian KKM selama dilakukan rawat inap. Data yang telah dikumpulkan dianalisis dengan SPSS for windows version 26.0. Hasil: Penelitian ini melibatkan 88 pasien infark miokard. Hasil analisis menunjukkan bahwa rerata MLR pada kelompok KKM positif 0,76±0,59 dan pada kelompok KKM negatif 0,44±0,28. Setelah dilakukan analisis ROC dan didapatkan cut off value sebesar 0,47 analisis perbedaan proporsi juga mengungkapkan bahwa pasien dengan MLR tinggi (≥0,47) lebih berisiko mengalami KKM dibandingkan pasien dengan MLR rendah (<0,47; p<0,001). Analisis multivariable cox menunjukkan bahwa MLR merupakan faktor yang paling berperan terhadap KKM (Adjusted HR 5.86; IK95% 2.77-12.38; p<0.001). Simpulan: Nilai MLR absolut lebih tinggi pada kelompok pasien infark miokard yang mengalami KKM selama rawat inap dibandingkan dengan tanpa KKM. Nilai MLR yang tinggi (≥0,47) merupakan prediktor KKM selama rawat inap pada pasien infark miokard.

Intisari Sains MedisVol. 16(1)
Udayana University (ID), Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah Denpasar (ID)
Openalex Percentile: Top 61%
Public Health and Nutrition
AI Navigator

Ask Laika to Summarize, Analyze, and Connect papers live on the map.

Summarize Papers & Methodologies

Extract key findings, datasets, and comparative methods across publications.

Benchmark Rankings & Visual Analytics

Rank top research institutions, authors, funders, topics, and journals by Field-Weighted Citation Impact (FWCI) and paper volume with instant charts.

Connect Distant Disciplines

Bridge topological clusters on the map to find hidden collaborative intersections.