Imlek dalam Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Kota Medan: Integrasi dan Akulturasi Budaya Cina dan Islam

This article is written related to the phenomenon of Chinese New Year celebrations carried out by Chinese people who are members of the Indonesian Chinese Islamic Association (PITI) in Medan. By using case studies and in-depth interviews, this article aims to provide a more complete understanding of the Chinese Muslim community in Medan. The research method used is qualitative with an anthropology of religion approach. The results of this study found that the Chinese New Year celebration carried out by PITI in Medan is a process of cultural change between Chinese people who adhere to Islam and the Muslim community in general. With this celebration, PITI in Medan indirectly states that they are part of the "Chinese", because they believe that celebrating Chinese New Year is part of Chinese culture that has been going on for generations. Therefore, celebrating Chinese New Year means preserving culture or aspects of continuity from the cultural changes that have occurred. Furthermore, with the Medan-style Chinese New Year celebration, they want to state that they are no longer like other "Chinese" people who are used to celebrating Chinese New Year in Chinese temples, monasteries, and churches. Finally, the Chinese New Year celebration in PITI in Medan is a symbolic expression of the syncretic views of Chinese Muslims in Medan. The theoretical claim in this study that Chinese people have always received negative values from the Muslim majority is not true.Artikel ini ditulis terkait fenomena perayaan Imlek yang dilakukan oleh warga Tionghoa yang tergabung dalam Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) kota Medan. Dengan menggunakan studi kasus dan wawancara mendalam, artikel ini memiliki tujuan untuk memberikan pemahaman yang lebih lengkap tentang komunitas Tionghoa Islam di kota Medan. Metode penelitian yang digunakan kualitatif dengan pendekatan antropologi agama. Hasil penelitian ini menemukan perayaan Imlek yang dilakukan oleh PITI kota Medan merupakan proses pergantian budaya antara masyarakat Tionghoa yang menganut Islam dengan masyarakat muslim secara umum. Dengan perayaan tersebut PITI kota Medan secara tidak langsung menyatakan bahwa mereka adalah bagian dari “Tionghoa”, karena mereka memiliki keyakinan bahwa merayakan Imlek adalah bagian dari budaya Cina yang telah berlangsung secara turun-temurun. Oleh karenanya, merayakan Imlek berarti melestarikan budaya atau aspek continuity dari perubahan budaya yang terjadi. Selanjutnya, dengan perayaan Imlek gaya Medan, mereka ingin menyatakan bahwa mereka bukan lagi seperti orang “Tionghoa” lainnya yang terbiasa merayakan Imlek di Klenteng, Vihara, dan Gereja. Terakhir, perayaan Imlek dalam PITI kota Medan, merupakan sebuah ekspresi simbolis tentang pandangan muslim Tionghoa kota Medan yang bersifat sinkretis. Klaim teoritik dalam penelitian ini bahwa orang Tionghoa yang selama ini selalu mendapatkan nilai negatif dari mayoritas muslim tidak benar.

Authors

Publication Details

Journal
Al-Adyan Journal of Religious Studies
Published
2025-06-29
DOI
https://doi.org/10.15548/al-adyan.v6i1.11258
Primary Topic
Islamic Studies and Radicalism
Type
article
Field-Weighted Citation Impact
0.00
Controls
|||
ALL TIME
JAN
FEB
MAR
APR
MAY
JUN
JUL
AUG
SEP
OCT
article

Imlek dalam Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Kota Medan: Integrasi dan Akulturasi Budaya Cina dan Islam

Azhari Akmal Tarigan, Jufri Naldo, Syahrial Arif Hutagalung, Ismail Ismail
Al-Adyan Journal of Religious Studies
Islamic Studies and Radicalism
article

Imlek dalam Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Kota Medan: Integrasi dan Akulturasi Budaya Cina dan Islam

Azhari Akmal Tarigan, Jufri Naldo, Syahrial Arif Hutagalung, Ismail Ismail
article en

Abstract

This article is written related to the phenomenon of Chinese New Year celebrations carried out by Chinese people who are members of the Indonesian Chinese Islamic Association (PITI) in Medan. By using case studies and in-depth interviews, this article aims to provide a more complete understanding of the Chinese Muslim community in Medan. The research method used is qualitative with an anthropology of religion approach. The results of this study found that the Chinese New Year celebration carried out by PITI in Medan is a process of cultural change between Chinese people who adhere to Islam and the Muslim community in general. With this celebration, PITI in Medan indirectly states that they are part of the "Chinese", because they believe that celebrating Chinese New Year is part of Chinese culture that has been going on for generations. Therefore, celebrating Chinese New Year means preserving culture or aspects of continuity from the cultural changes that have occurred. Furthermore, with the Medan-style Chinese New Year celebration, they want to state that they are no longer like other "Chinese" people who are used to celebrating Chinese New Year in Chinese temples, monasteries, and churches. Finally, the Chinese New Year celebration in PITI in Medan is a symbolic expression of the syncretic views of Chinese Muslims in Medan. The theoretical claim in this study that Chinese people have always received negative values from the Muslim majority is not true.Artikel ini ditulis terkait fenomena perayaan Imlek yang dilakukan oleh warga Tionghoa yang tergabung dalam Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) kota Medan. Dengan menggunakan studi kasus dan wawancara mendalam, artikel ini memiliki tujuan untuk memberikan pemahaman yang lebih lengkap tentang komunitas Tionghoa Islam di kota Medan. Metode penelitian yang digunakan kualitatif dengan pendekatan antropologi agama. Hasil penelitian ini menemukan perayaan Imlek yang dilakukan oleh PITI kota Medan merupakan proses pergantian budaya antara masyarakat Tionghoa yang menganut Islam dengan masyarakat muslim secara umum. Dengan perayaan tersebut PITI kota Medan secara tidak langsung menyatakan bahwa mereka adalah bagian dari “Tionghoa”, karena mereka memiliki keyakinan bahwa merayakan Imlek adalah bagian dari budaya Cina yang telah berlangsung secara turun-temurun. Oleh karenanya, merayakan Imlek berarti melestarikan budaya atau aspek continuity dari perubahan budaya yang terjadi. Selanjutnya, dengan perayaan Imlek gaya Medan, mereka ingin menyatakan bahwa mereka bukan lagi seperti orang “Tionghoa” lainnya yang terbiasa merayakan Imlek di Klenteng, Vihara, dan Gereja. Terakhir, perayaan Imlek dalam PITI kota Medan, merupakan sebuah ekspresi simbolis tentang pandangan muslim Tionghoa kota Medan yang bersifat sinkretis. Klaim teoritik dalam penelitian ini bahwa orang Tionghoa yang selama ini selalu mendapatkan nilai negatif dari mayoritas muslim tidak benar.

Al-Adyan Journal of Religious StudiesVol. 6(1)
Openalex Percentile: Top 66%
Islamic Studies and Radicalism
AI Navigator

Ask Laika to Summarize, Analyze, and Connect papers live on the map.

Summarize Papers & Methodologies

Extract key findings, datasets, and comparative methods across publications.

Benchmark Rankings & Visual Analytics

Rank top research institutions, authors, funders, topics, and journals by Field-Weighted Citation Impact (FWCI) and paper volume with instant charts.

Connect Distant Disciplines

Bridge topological clusters on the map to find hidden collaborative intersections.