Internalisasi Nilai-nilai Pancasila dalam Bingkai Filsafat Perenial Kristen bagi Pemuka Agama di Era Pluralisme

This article discusses the internalization of Pancasila values within the framework of perennial philosophy as a strategy to strengthen tolerance and harmony among religious leaders in the era of pluralism. This approach integrates the understanding of Pancasila as a philosofische grondslag and interreligious hermeneutics, drawing on the thoughts of T.B. Simatupang, Eka Darmaputera, and Andreas A. Yewangoe. The method employed is a qualitative, descriptive-reflective, and participatory approach, encompassing orientation, material presentation, focus group discussions (FGDs), written reflections, and follow-up through interfaith networking. The results indicate that Pancasila can serve as a common ground for interfaith engagement, fostering active appreciation of differences, reducing potential conflicts, and strengthening social solidarity. This strategy ensures that Pancasila values are not only understood conceptually but also embodied in collaborative actions. Thus, Pancasila functions as a unifying national ethos, relevant for building an Indonesian society that is peaceful, just, and united amid diversity.Indonesia sebagai bangsa plural masih menghadapi tantangan intoleransi dan diskriminasi berbasis agama, sehingga internalisasi nilai-nilai Pancasila bagi pemuka agama menjadi sangat mendesak. Artikel ini membahas internalisasi nilai-nilai Pancasila dalam bingkai filsafat perenial sebagai strategi penguatan toleransi dan kerukunan bagi pemuka agama di era pluralisme. Pendekatan ini memadukan pemahaman Pancasila sebagai philosofische grondslag dan hermeneutika antaragama, dengan merujuk pada pemikiran T.B. Simatupang, Eka Darmaputera, dan Andreas A. Yewangoe. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif-reflektif berbasis partisipasi, meliputi orientasi, pemaparan materi, diskusi kelompok terfokus (FGD), refleksi tertulis, serta tindak lanjut jejaring lintas iman. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa Pancasila dapat menjadi titik temu lintas iman yang mendorong apresiasi aktif terhadap perbedaan, mengurangi potensi konflik, dan memperkuat solidaritas sosial. Strategi ini memastikan nilai-nilai Pancasila tidak hanya dipahami secara konseptual, tetapi juga dihidupi dalam aksi kolaboratif. Dengan demikian, Pancasila berfungsi sebagai perekat kebangsaan yang relevan untuk membangun masyarakat Indonesia yang damai, adil, dan bersatu di tengah keberagaman.

Authors

Publication Details

Journal
Jurnal PKM Setiadharma
Published
2025-08-30
DOI
https://doi.org/10.47457/jps.v6i2.678
Primary Topic
Contemporary Christian Leadership and Education
Type
article
Field-Weighted Citation Impact
0.00
Controls
|||
ALL TIME
JAN
FEB
MAR
APR
MAY
JUN
JUL
AUG
SEP
OCT
article

Internalisasi Nilai-nilai Pancasila dalam Bingkai Filsafat Perenial Kristen bagi Pemuka Agama di Era Pluralisme

Frans Pantan
Jurnal PKM Setiadharma
Contemporary Christian Leadership and Education
article

Internalisasi Nilai-nilai Pancasila dalam Bingkai Filsafat Perenial Kristen bagi Pemuka Agama di Era Pluralisme

Frans Pantan
article en

Abstract

This article discusses the internalization of Pancasila values within the framework of perennial philosophy as a strategy to strengthen tolerance and harmony among religious leaders in the era of pluralism. This approach integrates the understanding of Pancasila as a philosofische grondslag and interreligious hermeneutics, drawing on the thoughts of T.B. Simatupang, Eka Darmaputera, and Andreas A. Yewangoe. The method employed is a qualitative, descriptive-reflective, and participatory approach, encompassing orientation, material presentation, focus group discussions (FGDs), written reflections, and follow-up through interfaith networking. The results indicate that Pancasila can serve as a common ground for interfaith engagement, fostering active appreciation of differences, reducing potential conflicts, and strengthening social solidarity. This strategy ensures that Pancasila values are not only understood conceptually but also embodied in collaborative actions. Thus, Pancasila functions as a unifying national ethos, relevant for building an Indonesian society that is peaceful, just, and united amid diversity.Indonesia sebagai bangsa plural masih menghadapi tantangan intoleransi dan diskriminasi berbasis agama, sehingga internalisasi nilai-nilai Pancasila bagi pemuka agama menjadi sangat mendesak. Artikel ini membahas internalisasi nilai-nilai Pancasila dalam bingkai filsafat perenial sebagai strategi penguatan toleransi dan kerukunan bagi pemuka agama di era pluralisme. Pendekatan ini memadukan pemahaman Pancasila sebagai philosofische grondslag dan hermeneutika antaragama, dengan merujuk pada pemikiran T.B. Simatupang, Eka Darmaputera, dan Andreas A. Yewangoe. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif-reflektif berbasis partisipasi, meliputi orientasi, pemaparan materi, diskusi kelompok terfokus (FGD), refleksi tertulis, serta tindak lanjut jejaring lintas iman. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa Pancasila dapat menjadi titik temu lintas iman yang mendorong apresiasi aktif terhadap perbedaan, mengurangi potensi konflik, dan memperkuat solidaritas sosial. Strategi ini memastikan nilai-nilai Pancasila tidak hanya dipahami secara konseptual, tetapi juga dihidupi dalam aksi kolaboratif. Dengan demikian, Pancasila berfungsi sebagai perekat kebangsaan yang relevan untuk membangun masyarakat Indonesia yang damai, adil, dan bersatu di tengah keberagaman.

Jurnal PKM SetiadharmaVol. 6(2)
Openalex Percentile: Top 81%
Contemporary Christian Leadership and Education
AI Navigator

Ask Laika to Summarize, Analyze, and Connect papers live on the map.

Summarize Papers & Methodologies

Extract key findings, datasets, and comparative methods across publications.

Benchmark Rankings & Visual Analytics

Rank top research institutions, authors, funders, topics, and journals by Field-Weighted Citation Impact (FWCI) and paper volume with instant charts.

Connect Distant Disciplines

Bridge topological clusters on the map to find hidden collaborative intersections.