Komunikasi Simbolik dalam Perpaduan Subkultur Punk dan Nilai Religius (Studi Kasus Band Sucka Pada Penggunaan Hijab Dalam Penampilan Grup Band)
Abstract. This study discusses symbolic communication in the fusion of the punk subculture and religious values through a case study of the band Sucka, which incorporates the hijab and Muslim attire in their stage performances. Sucka is a punk music group from Bandung known for their unique blend of Islamic cultural elements in their stage visuals, including the hijab, gamis, turban, and balaclava. This research adopts a qualitative approach using a case study method, with data collected through in-depth interviews, direct observation, and documentation. Utilizing the theory of symbolic communication by Hall, Mead, and Geertz, as well as the social construction of reality theory by Berger and Luckmann, this study analyzes how the religious symbols worn by Sucka function as nonverbal communication media that shape audience perceptions of cultural identity, religiosity, and social critique. The findings reveal that Sucka successfully constructs a hybrid identity that combines punk’s rebellious spirit with religious values, sparking public discourse on the representation of culture and religion within the music subculture. The symbols they use are not merely aesthetic but are integral to narratives of social solidarity, women’s rights advocacy, and criticism of humanitarian issues such as the Palestinian conflict. These findings make a significant contribution to studies of cultural communication and subcultures, while broadening the understanding of the role of symbols in shaping collective identity in today’s complex digital era. Abstrak. Penelitian ini membahas komunikasi simbolik dalam perpaduan subkultur punk dan nilai religius melalui studi kasus band Sucka yang mengenakan hijab dan pakaian muslim dalam penampilan mereka. Band Sucka dikenal sebagai grup musik punk asal Bandung yang unik karena memadukan elemen budaya Islam dalam visual panggung mereka, seperti hijab, gamis, sorban, dan balaklava. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi langsung, dan dokumentasi. Dengan menggunakan teori komunikasi simbolik dari Hall, Mead, dan Geertz, serta teori konstruksi sosial realitas dari Berger dan Luckmann, penelitian ini menganalisis bagaimana simbol-simbol religius yang dikenakan band Sucka menjadi media komunikasi nonverbal yang membangun persepsi audiens terkait identitas budaya, religiusitas, dan kritik sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa band Sucka berhasil menciptakan identitas hibrida yang memadukan semangat perlawanan punk dengan nilai religius, serta memicu diskusi publik tentang representasi budaya dan agama dalam subkultur musik. Simbol-simbol yang mereka gunakan bukan sekadar estetika, melainkan bagian dari narasi solidaritas sosial, perjuangan hak-hak perempuan, serta kritik terhadap isu kemanusiaan seperti Palestina. Temuan ini memberikan kontribusi penting dalam kajian komunikasi budaya dan subkultur, serta memperluas pemahaman tentang peran simbol dalam membangun identitas kolektif di era digital yang kompleks.
Authors
- Ilham Maulana (ORCID: https://orcid.org/0009-0002-6688-629X)
- Ferry Darmawan
Institutions
- Bandung Islamic University (ID)
Publication Details
- Journal
- Bandung Conference Series Communication Management
- Published
- 2025-08-04
- DOI
- https://doi.org/10.29313/bcscm.v5i2.20230
- Primary Topic
- Islamic Finance and Communication
- Type
- article
- Field-Weighted Citation Impact
- 0.00