Keterkaitan Penerapan Biophilic Cities terhadap Urban Stress Masyarakat Kota Bandung
Abstract. Rapid urban growth triggers environmental degradation and increases urban stress caused by traffic congestion, air pollution, high temperatures, and the scarcity of natural elements. The biophilic cities concept offers a sustainable planning approach that integrates nature to enhance psychological well-being. This study identifies forms of urban stress in Bandung City (particularly emotional stress experienced in urban environments) and examines their relationship with biophilic elements. It focuses on three locations with different spatial characteristics: Bandung City Hall as a representation of office areas, Bandung Institute of Technology as an educational environment, and Grand Sharon Residence as an urban residential area. A mixed-method with descriptive quantitative and qualitative approaches was applied, involving field observations and questionnaires administered to 100 selected respondents. Findings show that 99% of respondents experience urban stress, with dominant factors varying by location. Biophilic elements such as natural air circulation, vegetation, water presence, and visual connection with nature are perceived to reduce stress. Areas with optimal biophilic implementation tend to have lower stress levels, emphasizing the importance of integrating this concept into psychologically friendly urban planning. Abstrak. Pertumbuhan kota yang pesat memicu degradasi lingkungan dan meningkatkan urban stress akibat kemacetan, polusi udara, suhu tinggi, serta minimnya elemen alami. Konsep biophilic cities menawarkan pendekatan perencanaan berkelanjutan yang mengintegrasikan alam untuk meningkatkan kesejahteraan psikologis. Penelitian ini mengidentifikasi bentuk urban stress di Kota Bandung (khususnya stress emosional yang dialami dalam lingkungan perkotaan) dan keterkaitannya dengan elemen biofilik. Penelitian ini fokus mengeksplorasi tiga lokasi dengan karakteristik kawasan berbeda di Kota Bandung, Kawasan Balai Kota Bandung sebagai representasi wilayah perkantoran, kampus Institut Teknologi Bandung yang mewakili kawasan pendidikan, serta kompleks perumahan Grand Sharon Residence yang menggambarkan fungsi permukiman perkotaan. Metode yang digunakan adalah mixed method dengan pendekatan deskriptif kuantitatif dan kualitatif, melalui observasi dan kuesioner terhadap 100 responden terpilih. Hasil menunjukkan 99% responden mengalami urban stress dengan faktor dominan berbeda di tiap lokasi. Elemen biofilik seperti sirkulasi udara alami, vegetasi, kehadiran air, dan koneksi visual dengan alam dianggap dapat menurunkan stres. Kawasan dengan penerapan biofilik optimal cenderung memiliki tingkat stres lebih rendah, menegaskan pentingnya penerapan konsep ini dalam perencanaan kota ramah psikologis.
Authors
- Fathimah Nurul Hasanah Royyani
- Verry Damayanti
Institutions
- Bandung Islamic University (ID)
- Encana (Canada) (CA)
Publication Details
- Journal
- Bandung Conference Series Urban & Regional Planning
- Published
- 2025-08-04
- DOI
- https://doi.org/10.29313/bcsurp.v5i2.20365
- Primary Topic
- Architectural and Urban Studies
- Type
- article
- Field-Weighted Citation Impact
- 0.00