Analisis Semiotika dalam Film 172 Days

Abstract. This research is motivated by the importance of film as a visual da'wah medium capable of conveying Islamic values ​​emotionally and educationally. The purpose of this study is to identify the semiotic meaning and da'wah values ​​in the film 172 Days using Charles Sanders Peirce's semiotic theory. This study uses a descriptive qualitative approach with data collection techniques through direct observation of the film, documentation, and literature studies. The analysis was conducted using Peirce's semiotic approach which includes three elements of signs: representamen, objects, and interpretants. The results show that this film contains da'wah values ​​in the form of akidah (belief in destiny and Allah), sharia (enforcing social rules and worship according to Islam), and morals (patience, honesty, and respect for parents). All three are conveyed through visual scenes, dialogue, and narrative symbols that are rich in meaning. In conclusion, the film 172 Days is not only a cinematic work, but also an effective means of da'wah. The implication is that film can be a strategic medium in the communication of Islamic da'wah that is contextual and reaches various levels of society. Abstrak. Penelitian ini dilatar belakangi oleh pentingnya film sebagai media dakwah visual yang mampu menyampaikan nilai-nilai Islam secara emosional dan edukatif. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi makna semiotika serta nilai-nilai dakwah dalam film 172 Days menggunakan teori semiotika Charles Sanders Peirce. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi langsung terhadap film, dokumentasi, dan studi pustaka. Analisis dilakukan dengan pendekatan semiotika Peirce yang meliputi tiga unsur tanda: representamen, objek, dan interpretant. Hasil penelitian menunjukkan bahwa film ini memuat nilai dakwah berupa akidah (keimanan kepada takdir dan Allah), syariah (penegakan aturan sosial dan ibadah sesuai Islam), dan akhlak (kesabaran, kejujuran, dan penghormatan terhadap orang tua). Ketiganya disampaikan melalui adegan visual, dialog, serta simbol-simbol naratif yang sarat makna. Kesimpulannya, film 172 Days bukan hanya sebagai karya sinematik, tetapi juga sebagai sarana dakwah yang efektif. Implikasinya, film dapat menjadi media strategis dalam komunikasi dakwah Islam yang kontekstual dan menyentuh berbagai lapisan masyarakat.

Authors

Institutions

Publication Details

Journal
Bandung Conference Series Islamic Broadcast Communication
Published
2025-08-04
DOI
https://doi.org/10.29313/bcsibc.v5i2.20416
Primary Topic
Comics and Graphic Narratives
Type
article
Field-Weighted Citation Impact
0.00
Controls
|||
ALL TIME
JAN
FEB
MAR
APR
MAY
JUN
JUL
AUG
SEP
OCT
article

Analisis Semiotika dalam Film 172 Days

Nia Kurniati Syam, Nabila Nydia Salsabila, Parihat Kamil
Bandung Conference Series Islamic Broadcast Communication
Comics and Graphic Narratives
article

Analisis Semiotika dalam Film 172 Days

Nia Kurniati Syam, Nabila Nydia Salsabila, Parihat Kamil
article en

Abstract

Abstract. This research is motivated by the importance of film as a visual da'wah medium capable of conveying Islamic values ​​emotionally and educationally. The purpose of this study is to identify the semiotic meaning and da'wah values ​​in the film 172 Days using Charles Sanders Peirce's semiotic theory. This study uses a descriptive qualitative approach with data collection techniques through direct observation of the film, documentation, and literature studies. The analysis was conducted using Peirce's semiotic approach which includes three elements of signs: representamen, objects, and interpretants. The results show that this film contains da'wah values ​​in the form of akidah (belief in destiny and Allah), sharia (enforcing social rules and worship according to Islam), and morals (patience, honesty, and respect for parents). All three are conveyed through visual scenes, dialogue, and narrative symbols that are rich in meaning. In conclusion, the film 172 Days is not only a cinematic work, but also an effective means of da'wah. The implication is that film can be a strategic medium in the communication of Islamic da'wah that is contextual and reaches various levels of society. Abstrak. Penelitian ini dilatar belakangi oleh pentingnya film sebagai media dakwah visual yang mampu menyampaikan nilai-nilai Islam secara emosional dan edukatif. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi makna semiotika serta nilai-nilai dakwah dalam film 172 Days menggunakan teori semiotika Charles Sanders Peirce. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi langsung terhadap film, dokumentasi, dan studi pustaka. Analisis dilakukan dengan pendekatan semiotika Peirce yang meliputi tiga unsur tanda: representamen, objek, dan interpretant. Hasil penelitian menunjukkan bahwa film ini memuat nilai dakwah berupa akidah (keimanan kepada takdir dan Allah), syariah (penegakan aturan sosial dan ibadah sesuai Islam), dan akhlak (kesabaran, kejujuran, dan penghormatan terhadap orang tua). Ketiganya disampaikan melalui adegan visual, dialog, serta simbol-simbol naratif yang sarat makna. Kesimpulannya, film 172 Days bukan hanya sebagai karya sinematik, tetapi juga sebagai sarana dakwah yang efektif. Implikasinya, film dapat menjadi media strategis dalam komunikasi dakwah Islam yang kontekstual dan menyentuh berbagai lapisan masyarakat.

Bandung Conference Series Islamic Broadcast CommunicationVol. 5(2)
Bandung Islamic University (ID)
Openalex Percentile: Top 80%
Comics and Graphic Narratives
AI Navigator

Ask Laika to Summarize, Analyze, and Connect papers live on the map.

Summarize Papers & Methodologies

Extract key findings, datasets, and comparative methods across publications.

Benchmark Rankings & Visual Analytics

Rank top research institutions, authors, funders, topics, and journals by Field-Weighted Citation Impact (FWCI) and paper volume with instant charts.

Connect Distant Disciplines

Bridge topological clusters on the map to find hidden collaborative intersections.