Kajian Potensi Interaksi Obat Tuberkulosis dengan Diabetes Melitus di Rumah Sakit X Bandung

Abstract. Patients with diabetes mellitus who also suffer from tuberculosis (DM-TB) face challenges in dual therapy due to the potential for interactions between antidiabetic and antituberculosis drugs. This study aims to provide an overview of patient characteristics and the combination of antidiabetic therapy regimens used in conjunction with rifampicin and isoniazid. This is a descriptive study involving 15 DM-TB patients at Hospital X in Bandung. The data collected included gender, age, treatment regimens for DM and TB, and potential interactions based on the literature. The results showed that the combination of two drugs, particularly metformin and insulin, was the most commonly used. The literature indicates that insulin has a lower risk of pharmacokinetic interactions compared to oral antidiabetic drugs such as sulfonylureas and metformin. The selection of DM therapy regimens for TB patients should consider potential drug interactions and individual patient characteristics to achieve optimal treatment efficacy. Abstrak. Pasien diabetes melitus yang juga menderita tuberkulosis (DM-TB) menghadapi tantangan dalam terapi ganda akibat potensi interaksi antara obat antidiabetik dan antituberkulosis. Studi ini bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai karakteristik pasien serta kombinasi regimen terapi antidiabetik yang digunakan bersamaan dengan rifampisin dan isoniazid. Penelitian ini merupakan studi deskriptif yang melibatkan 15 pasien DM-TB di Rumah Sakit X Bandung. Data yang dikumpulkan mencakup jenis kelamin, usia, regimen terapi untuk DM dan TB, serta potensi interaksi berdasarkan literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi dua obat, khususnya metformin dan insulin, adalah yang paling sering digunakan. Literatur menyebutkan bahwa insulin memiliki risiko interaksi farmakokinetik yang lebih rendah dibandingkan dengan obat antidiabetik oral seperti sulfonilurea dan metformin. Pemilihan regimen terapi DM pada pasien TB harus mempertimbangkan potensi interaksi antar obat serta karakteristik individu pasien agar efektivitas pengobatan dapat dicapai secara optimal.

Authors

Institutions

Publication Details

Journal
Bandung Conference Series Pharmacy
Published
2025-08-03
DOI
https://doi.org/10.29313/bcsp.v5i2.20081
Primary Topic
Public Health and Nutrition
Type
article
Field-Weighted Citation Impact
0.00
Controls
|||
ALL TIME
JAN
FEB
MAR
APR
MAY
JUN
JUL
AUG
SEP
OCT
article

Kajian Potensi Interaksi Obat Tuberkulosis dengan Diabetes Melitus di Rumah Sakit X Bandung

Fetri Lestari, Umi Yuniarni, Tita Haerani
Bandung Conference Series Pharmacy
Public Health and Nutrition
article

Kajian Potensi Interaksi Obat Tuberkulosis dengan Diabetes Melitus di Rumah Sakit X Bandung

Fetri Lestari, Umi Yuniarni, Tita Haerani
article en

Abstract

Abstract. Patients with diabetes mellitus who also suffer from tuberculosis (DM-TB) face challenges in dual therapy due to the potential for interactions between antidiabetic and antituberculosis drugs. This study aims to provide an overview of patient characteristics and the combination of antidiabetic therapy regimens used in conjunction with rifampicin and isoniazid. This is a descriptive study involving 15 DM-TB patients at Hospital X in Bandung. The data collected included gender, age, treatment regimens for DM and TB, and potential interactions based on the literature. The results showed that the combination of two drugs, particularly metformin and insulin, was the most commonly used. The literature indicates that insulin has a lower risk of pharmacokinetic interactions compared to oral antidiabetic drugs such as sulfonylureas and metformin. The selection of DM therapy regimens for TB patients should consider potential drug interactions and individual patient characteristics to achieve optimal treatment efficacy. Abstrak. Pasien diabetes melitus yang juga menderita tuberkulosis (DM-TB) menghadapi tantangan dalam terapi ganda akibat potensi interaksi antara obat antidiabetik dan antituberkulosis. Studi ini bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai karakteristik pasien serta kombinasi regimen terapi antidiabetik yang digunakan bersamaan dengan rifampisin dan isoniazid. Penelitian ini merupakan studi deskriptif yang melibatkan 15 pasien DM-TB di Rumah Sakit X Bandung. Data yang dikumpulkan mencakup jenis kelamin, usia, regimen terapi untuk DM dan TB, serta potensi interaksi berdasarkan literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi dua obat, khususnya metformin dan insulin, adalah yang paling sering digunakan. Literatur menyebutkan bahwa insulin memiliki risiko interaksi farmakokinetik yang lebih rendah dibandingkan dengan obat antidiabetik oral seperti sulfonilurea dan metformin. Pemilihan regimen terapi DM pada pasien TB harus mempertimbangkan potensi interaksi antar obat serta karakteristik individu pasien agar efektivitas pengobatan dapat dicapai secara optimal.

Bandung Conference Series PharmacyVol. 5(2)
Bandung Islamic University (ID)
Openalex Percentile: Top 70%
Public Health and Nutrition
AI Navigator

Ask Laika to Summarize, Analyze, and Connect papers live on the map.

Summarize Papers & Methodologies

Extract key findings, datasets, and comparative methods across publications.

Benchmark Rankings & Visual Analytics

Rank top research institutions, authors, funders, topics, and journals by Field-Weighted Citation Impact (FWCI) and paper volume with instant charts.

Connect Distant Disciplines

Bridge topological clusters on the map to find hidden collaborative intersections.