Tingkat Kesiapan Masyarakat dalam Pengembangan Urban Farming di Kecamatan Arcamanik

Abstract. Urban areas face difficulties in fulfilling food needs independently due to the increasing rate of land-use conversion. This issue also affects regions that supply food to Bandung City, where the conversion of agricultural land threatens future food security. As a response, urban farming is seen as a strategic solution to help meet Bandung’s food demands. This study aims to assess the readiness of the Arcamanik District community to implement urban farming using the Community Readiness Model (CRM) with a quantitative approach. Data were collected through questionnaires distributed to all neighborhood unit (RW) heads. The responses were analyzed using a scoring system to evaluate aspects such as efforts, knowledge, leadership, community conditions, awareness of urban farming issues, and available resources. The analysis shows that the community’s readiness is at the “initiation” stage, with an average score of 3.5. This indicates that early efforts and programs related to urban farming have been introduced, and the community generally shows no resistance. Awareness of its importance is emerging, but deep understanding and active participation remain limited. Technical skills and knowledge of urban farming management are also low. While leadership support is adequate, the availability of resources and material motivation still needs improvement. Abstrak. Wilayah perkotaan dalam memenuhi kebutuhan pangan secara mandiri sukar untuk dilakukan karena maraknya alih fungsi lahan. Saat ini pada wilayah pemasok kebutuhan pangan untuk Kota Bandung juga terjadi persoalan alih fungsi lahan pertanian yang akan menyebabkan masalah terkait kebutuhan pangan di Kota Bandung di masa yang akan datang. Maka urban farming menjadi solusi yang dapat membantu dalam pemenuhan pangan di Kota Bandung. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk menilai kesiapan masyarakat Kecamatan Arcamanik dalam mengembangkan urban farming dengan menggunakan metode Community Readiness Model (CRM) dengan pendekatan kuantitatif. Pengumpulan data dengan teknik kuesioner kepada seluruh ketua RW serta dilakukan pembobotan pada jawaban responden untuk mengetahui usaha, pengetahuan, kepemimpinan, kondisi masyarakat, pengetahuan isu urban farming, dan sumber daya. Hasil analisis menunjukkan bahwa tingkat kesiapan masyarakat berada pada tahap initiation dengan skor rata-rata 3,5. Tahapan ini mengindikasikan sudah terdapat inisiatif awal dan pelaksanaan program urban farming, respon masyarakat secara umum tidak terdapat penolakan. Kesadaran akan pentingnya pelaksanaan kegiatan mulai tumbuh, namun pemahaman mendalam dan partisipasi aktif dari masyarakat masih terbatas. Namun, secara keseluruhan partisipasi aktif masih rendah, begitu pula keterampilan teknis dan pemahaman pengelolaan urban farming. Dukungan pemimpin dinilai cukup, namun ketersediaan sumber daya dan dukungan materi belum optimal.

Authors

Institutions

Publication Details

Journal
Bandung Conference Series Urban & Regional Planning
Published
2025-08-03
DOI
https://doi.org/10.29313/bcsurp.v5i2.20079
Primary Topic
Food Security and Socioeconomic Dynamics
Type
article
Field-Weighted Citation Impact
0.00
Controls
|||
ALL TIME
JAN
FEB
MAR
APR
MAY
JUN
JUL
AUG
SEP
OCT
article

Tingkat Kesiapan Masyarakat dalam Pengembangan Urban Farming di Kecamatan Arcamanik

Fadil Patiyas Sina Dulyaden, Ivan Chofyan, Lutfhi Ahmad Barwanto
Bandung Conference Series Urban & Regional Planning
Food Security and Socioeconomic Dynamics
article

Tingkat Kesiapan Masyarakat dalam Pengembangan Urban Farming di Kecamatan Arcamanik

Fadil Patiyas Sina Dulyaden, Ivan Chofyan, Lutfhi Ahmad Barwanto
article en

Abstract

Abstract. Urban areas face difficulties in fulfilling food needs independently due to the increasing rate of land-use conversion. This issue also affects regions that supply food to Bandung City, where the conversion of agricultural land threatens future food security. As a response, urban farming is seen as a strategic solution to help meet Bandung’s food demands. This study aims to assess the readiness of the Arcamanik District community to implement urban farming using the Community Readiness Model (CRM) with a quantitative approach. Data were collected through questionnaires distributed to all neighborhood unit (RW) heads. The responses were analyzed using a scoring system to evaluate aspects such as efforts, knowledge, leadership, community conditions, awareness of urban farming issues, and available resources. The analysis shows that the community’s readiness is at the “initiation” stage, with an average score of 3.5. This indicates that early efforts and programs related to urban farming have been introduced, and the community generally shows no resistance. Awareness of its importance is emerging, but deep understanding and active participation remain limited. Technical skills and knowledge of urban farming management are also low. While leadership support is adequate, the availability of resources and material motivation still needs improvement. Abstrak. Wilayah perkotaan dalam memenuhi kebutuhan pangan secara mandiri sukar untuk dilakukan karena maraknya alih fungsi lahan. Saat ini pada wilayah pemasok kebutuhan pangan untuk Kota Bandung juga terjadi persoalan alih fungsi lahan pertanian yang akan menyebabkan masalah terkait kebutuhan pangan di Kota Bandung di masa yang akan datang. Maka urban farming menjadi solusi yang dapat membantu dalam pemenuhan pangan di Kota Bandung. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk menilai kesiapan masyarakat Kecamatan Arcamanik dalam mengembangkan urban farming dengan menggunakan metode Community Readiness Model (CRM) dengan pendekatan kuantitatif. Pengumpulan data dengan teknik kuesioner kepada seluruh ketua RW serta dilakukan pembobotan pada jawaban responden untuk mengetahui usaha, pengetahuan, kepemimpinan, kondisi masyarakat, pengetahuan isu urban farming, dan sumber daya. Hasil analisis menunjukkan bahwa tingkat kesiapan masyarakat berada pada tahap initiation dengan skor rata-rata 3,5. Tahapan ini mengindikasikan sudah terdapat inisiatif awal dan pelaksanaan program urban farming, respon masyarakat secara umum tidak terdapat penolakan. Kesadaran akan pentingnya pelaksanaan kegiatan mulai tumbuh, namun pemahaman mendalam dan partisipasi aktif dari masyarakat masih terbatas. Namun, secara keseluruhan partisipasi aktif masih rendah, begitu pula keterampilan teknis dan pemahaman pengelolaan urban farming. Dukungan pemimpin dinilai cukup, namun ketersediaan sumber daya dan dukungan materi belum optimal.

Bandung Conference Series Urban & Regional PlanningVol. 5(2)
Bandung Islamic University (ID), Encana (Canada) (CA)
Openalex Percentile: Top 67%
Food Security and Socioeconomic Dynamics
AI Navigator

Ask Laika to Summarize, Analyze, and Connect papers live on the map.

Summarize Papers & Methodologies

Extract key findings, datasets, and comparative methods across publications.

Benchmark Rankings & Visual Analytics

Rank top research institutions, authors, funders, topics, and journals by Field-Weighted Citation Impact (FWCI) and paper volume with instant charts.

Connect Distant Disciplines

Bridge topological clusters on the map to find hidden collaborative intersections.