Pola Penggunaan Antibiotik pada Pasien Pneumonia di Rumah Sakit P
Abstract. Pneumonia is a highly prevalent infectious disease in Indonesia, with antibiotics as the primary treatment. Irrational use of antibiotics poses a risk of resistance and treatment failure. This study aims to determine the patterns of antibiotic use and the characteristics of pneumonia patients through a retrospective observational approach to cross-sectional medical record data. Data were analyzed descriptively, presenting the frequency and percentage of antibiotic use. The results showed that the most commonly used antibiotic class was cephalosporins, both as monotherapy (37.5%) and in combination with fluoroquinolones (20.0%). Fluoroquinolones were used as monotherapy in 17.5% of cases. The most commonly prescribed antibiotics included levofloxacin (24.6%), ceftriaxone (19.7%), and azithromycin (9.8%). The use of meropenem at 6.6% reflects therapeutic adjustments based on specific clinical conditions. These findings indicate a preference for cephalosporins and fluoroquinolones in the management of pneumonia, consistent with recommendations in clinical practice guidelines. Abstrak. Pneumonia merupakan penyakit infeksi dengan prevalensi tinggi di Indonesia dengan terapi utamanya adalah antibiotik, Penggunaan antibiotik yang tidak rasional berisiko menimbulkan resistensi dan kegagalan terapi. Penelitian ini bertujuan untuk mengatahui pola penggunaan antibiotik dan karakteristik penderita pneumonia melalui pendekatan observasional retrospektif terhadap data rekam medis pasien dengan dseain cross sectional. Data dianalisis secara deskriptid dengan menyajikan frekuensi dan persentase penggunaan antibiotik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa golongan antibiotik yang paling banyak digunakan adalah sefalosporin, baik sebagai monoterapi (37,5%) maupun dalam kombinasi dengan fluorokuinolon (20,0%). Fluorokuinolon digunakan sebagai monoterapi sebesar 17,5%. Jenis antibiotik yang paling sering diresepkan meliputi levofloksasin (24,6%), seftriakson (19,7%), dan azitromisin (9,8%). Penggunaan meropenem sebesar 6,6% mencerminkan penyesuaian terapi berdasarkan kondisi klinis tertentu. Temuan ini menunjukkan kecenderungan preferensi terhadap golongan sefalosporin dan fluorokuinolon dalam penatalaksanaan pneumonia, yang sejalan dengan rekomendasi dalam pedoman terapi klinis.
Authors
- Fetri Lestari (ORCID: https://orcid.org/0000-0001-5696-7067)
- Bambang Tri Laksono
- Nasywa Asy Syaffa' Parwoko
Institutions
- Bandung Islamic University (ID)
Publication Details
- Journal
- Bandung Conference Series Pharmacy
- Published
- 2025-08-01
- DOI
- https://doi.org/10.29313/bcsp.v5i2.19430
- Primary Topic
- Healthcare Quality and Satisfaction
- Type
- article
- Field-Weighted Citation Impact
- 0.00