Guru Tua dan Gerakan Intelektual Progresif di Tengah Modernitas

This study explores the intellectual contributions of Sayyid Idrus bin Salim Al-Jufri—widely known as Guru Tua—in shaping a progressive Islamic model through education and da'wah in Eastern Indonesia, particularly in the city of Palu. Using a qualitative descriptive approach based on library research, this paper examines how Guru Tua’s thought and practice reflect principles of transformative, inclusive, and contextual Islam. Through Alkhairaat, the educational institution he founded, Guru Tua integrated religious and secular knowledge as a means of liberating society from the structural ignorance imposed by colonialism—resonating with Paulo Freire’s concept of critical pedagogy. His culturally adaptive and inclusive da'wah strategy also fostered social harmony in a multicultural society. In today's context marked by rising extremism and spiritual crises, Guru Tua’s legacy offers a compelling model of Islam Nusantara—tolerant, visionary, and deeply relevant. This research highlights the enduring significance of his thought in shaping a liberating and civilization-building Islamic paradigm for the contemporary world. Abstrak Penelitian ini membahas kontribusi pemikiran Sayyid Idrus bin Salim Al-Jufri atau yang dikenal sebagai Guru Tua dalam membangun model keislaman progresif melalui pendidikan dan dakwah di Indonesia timur, khususnya di Kota Palu. Melalui pendekatan kualitatif deskriptif berbasis studi pustaka, penelitian ini menggali bagaimana pemikiran dan praktik Guru Tua mencerminkan prinsip-prinsip Islam yang transformatif, inklusif, dan kontekstual. Guru Tua memadukan ilmu agama dan ilmu umum dalam sistem pendidikan Alkhairaat untuk membebaskan umat dari kebodohan struktural kolonial, sejalan dengan gagasan pendidikan pembebasan ala Paulo Freire. Pendekatan dakwahnya yang kultural dan adaptif juga berhasil menciptakan harmoni sosial di tengah masyarakat multikultural. Dalam konteks kekinian yang diwarnai ekstremisme dan krisis spiritualitas, warisan pemikiran Guru Tua menawarkan model Islam Nusantara yang toleran, visioner, dan relevan. Penelitian ini menunjukkan bahwa pemikiran Guru Tua layak dijadikan rujukan dalam merumuskan paradigma keislaman dan pendidikan Islam kontemporer yang membebaskan dan membangun peradaban. Kata kunci: Guru Tua, Islam Progresif, Modernitas

Authors

Institutions

Publication Details

Journal
PAPPASANG
Published
2025-06-30
DOI
https://doi.org/10.46870/jiat.v7i1.1544
Primary Topic
Education, Sociology, Communication Studies
Type
article
Field-Weighted Citation Impact
0.00
Controls
|||
ALL TIME
JAN
FEB
MAR
APR
MAY
JUN
JUL
AUG
SEP
OCT
article

Guru Tua dan Gerakan Intelektual Progresif di Tengah Modernitas

Hamzah S. Fathani, Aan Setiawan, Muammar Zuhdi Arsalan Ammar
PAPPASANG
Education, Sociology, Communication Studies
article

Guru Tua dan Gerakan Intelektual Progresif di Tengah Modernitas

Hamzah S. Fathani, Aan Setiawan, Muammar Zuhdi Arsalan Ammar
article en

Abstract

This study explores the intellectual contributions of Sayyid Idrus bin Salim Al-Jufri—widely known as Guru Tua—in shaping a progressive Islamic model through education and da'wah in Eastern Indonesia, particularly in the city of Palu. Using a qualitative descriptive approach based on library research, this paper examines how Guru Tua’s thought and practice reflect principles of transformative, inclusive, and contextual Islam. Through Alkhairaat, the educational institution he founded, Guru Tua integrated religious and secular knowledge as a means of liberating society from the structural ignorance imposed by colonialism—resonating with Paulo Freire’s concept of critical pedagogy. His culturally adaptive and inclusive da'wah strategy also fostered social harmony in a multicultural society. In today's context marked by rising extremism and spiritual crises, Guru Tua’s legacy offers a compelling model of Islam Nusantara—tolerant, visionary, and deeply relevant. This research highlights the enduring significance of his thought in shaping a liberating and civilization-building Islamic paradigm for the contemporary world. Abstrak Penelitian ini membahas kontribusi pemikiran Sayyid Idrus bin Salim Al-Jufri atau yang dikenal sebagai Guru Tua dalam membangun model keislaman progresif melalui pendidikan dan dakwah di Indonesia timur, khususnya di Kota Palu. Melalui pendekatan kualitatif deskriptif berbasis studi pustaka, penelitian ini menggali bagaimana pemikiran dan praktik Guru Tua mencerminkan prinsip-prinsip Islam yang transformatif, inklusif, dan kontekstual. Guru Tua memadukan ilmu agama dan ilmu umum dalam sistem pendidikan Alkhairaat untuk membebaskan umat dari kebodohan struktural kolonial, sejalan dengan gagasan pendidikan pembebasan ala Paulo Freire. Pendekatan dakwahnya yang kultural dan adaptif juga berhasil menciptakan harmoni sosial di tengah masyarakat multikultural. Dalam konteks kekinian yang diwarnai ekstremisme dan krisis spiritualitas, warisan pemikiran Guru Tua menawarkan model Islam Nusantara yang toleran, visioner, dan relevan. Penelitian ini menunjukkan bahwa pemikiran Guru Tua layak dijadikan rujukan dalam merumuskan paradigma keislaman dan pendidikan Islam kontemporer yang membebaskan dan membangun peradaban. Kata kunci: Guru Tua, Islam Progresif, Modernitas

PAPPASANGVol. 7(1)
Institut Agama Islam Negeri Manado (ID), Institut Agama Islam Negeri Bengkulu (ID)
Openalex Percentile: Top 77%
Education, Sociology, Communication Studies
AI Navigator

Ask Laika to Summarize, Analyze, and Connect papers live on the map.

Summarize Papers & Methodologies

Extract key findings, datasets, and comparative methods across publications.

Benchmark Rankings & Visual Analytics

Rank top research institutions, authors, funders, topics, and journals by Field-Weighted Citation Impact (FWCI) and paper volume with instant charts.

Connect Distant Disciplines

Bridge topological clusters on the map to find hidden collaborative intersections.