<i>Antar Pakatan</i> and the Reproduction of Social Solidarity: A Cultural Strategy for Addressing the Economic Burden of Customary Marriage in the Sambas Malay Community

In communal societies, the celebration of traditional weddings often places a significant financial burden on host families, particularly in communities that uphold strong cultural values and social honor. This challenge is also faced by many lower- to middle-income families in Sambas Regency, West Kalimantan. This article analyzes the antar pakatan tradition practiced by the Sambas Malay community as a culturally embedded social strategy to mitigate the high costs associated with customary wedding ceremonies. Utilizing a qualitative field research methodology with a socio-legal approach, the study draws on in-depth interviews and non-participant observations conducted in Sepadu Village, Sambas Regency. The findings reveal that antar pakatan functions as an informal mechanism of economic redistribution, grounded in the values of mutual assistance and collective participation, which are realized through voluntary contributions from guests. This tradition effectively alleviates financial pressure without diminishing the symbolic significance of customary rituals, while reinforcing social solidarity through culturally institutionalized reciprocal relationships. This article argues that antar pakatan represents a customary institution capable of bridging the sustainability of tradition with the need to adapt to contemporary economic challenges. Furthermore, it contributes theoretically to the study of social exchange dynamics within value-based communal societies. [Dalam konteks masyarakat komunal, pelaksanaan pesta pernikahan adat sering kali menjadi beban ekonomi yang signifikan bagi keluarga penyelenggara, terutama dalam komunitas yang menjunjung tinggi nilai-nilai kultural dan kehormatan sosial. Hal serupa juga dialami oleh sebagian keluarga yang berpenghasilan menengah ke bawah di Kabupaten Sambas. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis tradisi antar pakatan yang dipraktikkan oleh komunitas Melayu sebagai solusi sosial berbasis kearifan lokal dalam menghadapi tingginya biaya penyelenggaraan pernikahan adat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif lapangan dengan pendekatan sosio-legal, melalui wawancara mendalam dan observasi non-partisipan yang dilaksanakan di Desa Sepadu, Kabupaten Sambas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi antar pakatan berfungsi sebagai mekanisme informal redistribusi ekonomi yang dilandasi nilai gotong-royong dan partisipasi kolektif, yang diwujudkan melalui kontribusi sukarela dari tamu undangan. Tradisi ini secara efektif mereduksi tekanan finansial tanpa menghilangkan makna simbolik dalam penyelenggaraan adat, sekaligus memperkuat solidaritas sosial melalui relasi timbal balik yang dilembagakan secara kultural. Artikel ini berargumen bahwa tradisi antar pakatan merepresentasikan pranata adat yang mampu menjembatani antara keberlanjutan tradisi dan adaptasi terhadap tantangan ekonomi kontemporer, serta memberikan kontribusi teoretis terhadap kajian mengenai dinamika pertukaran sosial dalam masyarakat berbasis nilai.]

Authors

Institutions

Publication Details

Journal
Indonesian Journal of Sharia and Socio-Legal Studies
Published
2025-05-31
DOI
https://doi.org/10.24260/ijssls.1.1.12
Primary Topic
Islamic Finance and Communication
Type
article
Field-Weighted Citation Impact
0.00
Controls
|||
ALL TIME
JAN
FEB
MAR
APR
MAY
JUN
JUL
AUG
SEP
OCT
article

Antar Pakatan and the Reproduction of Social Solidarity: A Cultural Strategy for Addressing the Economic Burden of Customary Marriage in the Sambas Malay Community

Khamim Khamim, Muhammad Ilham Syarif
Indonesian Journal of Sharia and Socio-Legal Studies
Islamic Finance and Communication
article

Antar Pakatan and the Reproduction of Social Solidarity: A Cultural Strategy for Addressing the Economic Burden of Customary Marriage in the Sambas Malay Community

Khamim Khamim, Muhammad Ilham Syarif
article en

Abstract

In communal societies, the celebration of traditional weddings often places a significant financial burden on host families, particularly in communities that uphold strong cultural values and social honor. This challenge is also faced by many lower- to middle-income families in Sambas Regency, West Kalimantan. This article analyzes the antar pakatan tradition practiced by the Sambas Malay community as a culturally embedded social strategy to mitigate the high costs associated with customary wedding ceremonies. Utilizing a qualitative field research methodology with a socio-legal approach, the study draws on in-depth interviews and non-participant observations conducted in Sepadu Village, Sambas Regency. The findings reveal that antar pakatan functions as an informal mechanism of economic redistribution, grounded in the values of mutual assistance and collective participation, which are realized through voluntary contributions from guests. This tradition effectively alleviates financial pressure without diminishing the symbolic significance of customary rituals, while reinforcing social solidarity through culturally institutionalized reciprocal relationships. This article argues that antar pakatan represents a customary institution capable of bridging the sustainability of tradition with the need to adapt to contemporary economic challenges. Furthermore, it contributes theoretically to the study of social exchange dynamics within value-based communal societies. [Dalam konteks masyarakat komunal, pelaksanaan pesta pernikahan adat sering kali menjadi beban ekonomi yang signifikan bagi keluarga penyelenggara, terutama dalam komunitas yang menjunjung tinggi nilai-nilai kultural dan kehormatan sosial. Hal serupa juga dialami oleh sebagian keluarga yang berpenghasilan menengah ke bawah di Kabupaten Sambas. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis tradisi antar pakatan yang dipraktikkan oleh komunitas Melayu sebagai solusi sosial berbasis kearifan lokal dalam menghadapi tingginya biaya penyelenggaraan pernikahan adat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif lapangan dengan pendekatan sosio-legal, melalui wawancara mendalam dan observasi non-partisipan yang dilaksanakan di Desa Sepadu, Kabupaten Sambas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi antar pakatan berfungsi sebagai mekanisme informal redistribusi ekonomi yang dilandasi nilai gotong-royong dan partisipasi kolektif, yang diwujudkan melalui kontribusi sukarela dari tamu undangan. Tradisi ini secara efektif mereduksi tekanan finansial tanpa menghilangkan makna simbolik dalam penyelenggaraan adat, sekaligus memperkuat solidaritas sosial melalui relasi timbal balik yang dilembagakan secara kultural. Artikel ini berargumen bahwa tradisi antar pakatan merepresentasikan pranata adat yang mampu menjembatani antara keberlanjutan tradisi dan adaptasi terhadap tantangan ekonomi kontemporer, serta memberikan kontribusi teoretis terhadap kajian mengenai dinamika pertukaran sosial dalam masyarakat berbasis nilai.]

Indonesian Journal of Sharia and Socio-Legal StudiesVol. 1(1)
Universitas Muhammadiyah Pontianak (ID)
Openalex Percentile: Top 81%
Islamic Finance and Communication
AI Navigator

Ask Laika to Summarize, Analyze, and Connect papers live on the map.

Summarize Papers & Methodologies

Extract key findings, datasets, and comparative methods across publications.

Benchmark Rankings & Visual Analytics

Rank top research institutions, authors, funders, topics, and journals by Field-Weighted Citation Impact (FWCI) and paper volume with instant charts.

Connect Distant Disciplines

Bridge topological clusters on the map to find hidden collaborative intersections.