KETAHANAN IDENTITAS BUDAYA MINANGKABAU DALAM DINAMIKA KEHIDUPAN PERANTAUAN

ABSTRACT Minangkabau culture is renowned for its unique matrilineal system and the tradition of migration (merantau) as an integral part of identity formation. This study aims to describe the resilience of Minangkabau cultural identity within the context of migration, focusing on the role of language, customary values, and informal education such as surau. The research employs a descriptive qualitative method using a narrative study approach based on the transcript of a personal interview with a Minangkabau migrant. The findings reveal that the use of the Minangkabau language and proverbs, such as “Dimano bumi dipijak, disitu langik dijunjuang” (wherever the land is stepped on, the sky above is upheld), serves as a moral compass in everyday interactions. Customary values, especially the role of the “mamak” (maternal uncle) in guiding and preserving family honor, remain crucial even when living far from the homeland. Surau is remembered as a vital space for nurturing religious and social character. However, modernization and the influence of foreign cultures pose significant challenges, particularly for younger generations who are increasingly distancing themselves from traditional values. Therefore, the revitalization of cultural values through family involvement and culturally-rooted education is essential to ensure the sustainability of Minangkabau cultural identity. This study provides insights for future programs on character education based on local wisdom, especially among Minangkabau migrants. ABSTRAK Budaya Minangkabau dikenal dengan sistem matrilineal yang unik dan tradisi merantau sebagai bagian penting dalam pembentukan jati diri. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan ketahanan identitas budaya Minangkabau di tengah dinamika perantauan, dengan fokus pada peran bahasa, nilai adat, dan pendidikan informal seperti surau. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi naratif berdasarkan transkrip wawancara personal seorang perantau Minangkabau. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan bahasa Minangkabau dan ungkapan adat seperti "Dimano bumi dipijak, disitu langik dijunjuang" menjadi kompas moral dalam kehidupan di perantauan. Nilai-nilai adat, khususnya peran mamak sebagai pendidik moral dan penjaga kehormatan suku, tetap dijunjung meskipun jarak memisahkan dari kampung halaman. Pendidikan surau dikenang sebagai ruang pembentukan karakter religius dan sosial yang mendalam. Meski demikian, modernisasi dan pengaruh budaya luar menimbulkan tantangan signifikan, terutama bagi generasi muda yang cenderung menjauhi nilai-nilai tradisional. Oleh karena itu, revitalisasi nilai-nilai budaya melalui peran keluarga dan pendidikan berbasis adat menjadi kebutuhan mendesak agar identitas budaya Minangkabau tetap lestari. Temuan ini diharapkan dapat menjadi rujukan untuk memperkuat program pendidikan karakter berbasis budaya lokal, khususnya di kalangan perantau Minangkabau.

Authors

Institutions

Publication Details

Journal
LANGUAGE Jurnal Inovasi Pendidikan Bahasa dan Sastra
Published
2025-06-06
DOI
https://doi.org/10.51878/language.v4i4.5232
Primary Topic
Community-based Tourism Development and Sustainability
Type
article
Field-Weighted Citation Impact
0.00
Controls
|||
ALL TIME
JAN
FEB
MAR
APR
MAY
JUN
JUL
AUG
SEP
OCT
article

KETAHANAN IDENTITAS BUDAYA MINANGKABAU DALAM DINAMIKA KEHIDUPAN PERANTAUAN

Selly Aprilia Santana, Rifda Sa’adatul Laila, Raisa Lastiana, Sifa Yustika
LANGUAGE Jurnal Inovasi Pendidikan Bahasa dan Sastra
Community-based Tourism Development and Sustainability
article

KETAHANAN IDENTITAS BUDAYA MINANGKABAU DALAM DINAMIKA KEHIDUPAN PERANTAUAN

Selly Aprilia Santana, Rifda Sa’adatul Laila, Raisa Lastiana, Sifa Yustika
article en

Abstract

ABSTRACT Minangkabau culture is renowned for its unique matrilineal system and the tradition of migration (merantau) as an integral part of identity formation. This study aims to describe the resilience of Minangkabau cultural identity within the context of migration, focusing on the role of language, customary values, and informal education such as surau. The research employs a descriptive qualitative method using a narrative study approach based on the transcript of a personal interview with a Minangkabau migrant. The findings reveal that the use of the Minangkabau language and proverbs, such as “Dimano bumi dipijak, disitu langik dijunjuang” (wherever the land is stepped on, the sky above is upheld), serves as a moral compass in everyday interactions. Customary values, especially the role of the “mamak” (maternal uncle) in guiding and preserving family honor, remain crucial even when living far from the homeland. Surau is remembered as a vital space for nurturing religious and social character. However, modernization and the influence of foreign cultures pose significant challenges, particularly for younger generations who are increasingly distancing themselves from traditional values. Therefore, the revitalization of cultural values through family involvement and culturally-rooted education is essential to ensure the sustainability of Minangkabau cultural identity. This study provides insights for future programs on character education based on local wisdom, especially among Minangkabau migrants. ABSTRAK Budaya Minangkabau dikenal dengan sistem matrilineal yang unik dan tradisi merantau sebagai bagian penting dalam pembentukan jati diri. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan ketahanan identitas budaya Minangkabau di tengah dinamika perantauan, dengan fokus pada peran bahasa, nilai adat, dan pendidikan informal seperti surau. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi naratif berdasarkan transkrip wawancara personal seorang perantau Minangkabau. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan bahasa Minangkabau dan ungkapan adat seperti "Dimano bumi dipijak, disitu langik dijunjuang" menjadi kompas moral dalam kehidupan di perantauan. Nilai-nilai adat, khususnya peran mamak sebagai pendidik moral dan penjaga kehormatan suku, tetap dijunjung meskipun jarak memisahkan dari kampung halaman. Pendidikan surau dikenang sebagai ruang pembentukan karakter religius dan sosial yang mendalam. Meski demikian, modernisasi dan pengaruh budaya luar menimbulkan tantangan signifikan, terutama bagi generasi muda yang cenderung menjauhi nilai-nilai tradisional. Oleh karena itu, revitalisasi nilai-nilai budaya melalui peran keluarga dan pendidikan berbasis adat menjadi kebutuhan mendesak agar identitas budaya Minangkabau tetap lestari. Temuan ini diharapkan dapat menjadi rujukan untuk memperkuat program pendidikan karakter berbasis budaya lokal, khususnya di kalangan perantau Minangkabau.

LANGUAGE Jurnal Inovasi Pendidikan Bahasa dan SastraVol. 4(4)
Indonesia University of Education (ID)
Openalex Percentile: Top 83%
Community-based Tourism Development and Sustainability
AI Navigator

Ask Laika to Summarize, Analyze, and Connect papers live on the map.

Summarize Papers & Methodologies

Extract key findings, datasets, and comparative methods across publications.

Benchmark Rankings & Visual Analytics

Rank top research institutions, authors, funders, topics, and journals by Field-Weighted Citation Impact (FWCI) and paper volume with instant charts.

Connect Distant Disciplines

Bridge topological clusters on the map to find hidden collaborative intersections.