KESIAPAN SEKOLAH SPK XYZ DI KOTA BEKASI DALAM IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA

Curriculum changes are not uncommon; in fact, they are anticipated periodically to enhance the quality of education and human resources in the country, ultimately contributing positively to national prosperity and greatness. In 2022, the Indonesian Minister of Education, Culture, Research, and Technology issued decree No. 56/M/2022, which governs the implementation of the new Merdeka Curriculum. The efficacy of a curriculum is contingent upon the readiness of the adopting school. This study examines the readiness of XYZ SPK School in Bekasi City for implementing the Merdeka Curriculum. The objectives are to assess the understanding of teachers and staff regarding the Merdeka Curriculum, explore their comprehension of the ideal learning and assessment processes, and describe the implementation of Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) in the school. Employing a qualitative case study approach, data were gathered through interviews, observations, and document analysis. The findings reveal that teachers and staff possess a strong theoretical understanding of the Merdeka Curriculum, including its distinctions from Kurikulum 2013. They also demonstrate a good grasp of the ideal practices for learning and evaluation. However, inconsistencies in the practical implementation of these principles were observed. Additionally, the study highlights that the implementation of P5 at the school does not align with the guidelines provided by the Ministry of Education. These findings suggest a need for further capacity-building efforts and consistent monitoring to ensure successful adoption of the Merdeka Curriculum. Perubahan kurikulum bukanlah hal yang tidak lazim terjadi; bahkan, perubahan diantisipasi secara berkala untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan sumber daya manusia di suatu negara, yang pada akhirnya berkontribusi positif terhadap kesejahteraan dan kemajuan bangsa. Pada tahun 2022, Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia menerbitkan Keputusan No. 56/M/2022 yang mengatur implementasi Kurikulum Merdeka. Keberhasilan suatu kurikulum sangat bergantung pada kesiapan sekolah yang mengadopsinya. Penelitian ini mengkaji kesiapan Sekolah XYZSPK di Kota Bekasi dalam mengimplementasikan Kurikulum Merdeka. Tujuannya adalah untuk menilai pemahaman guru dan staf terhadap Kurikulum Merdeka, mengeksplorasi pemahaman mereka tentang proses pembelajaran dan penilaian yang ideal, serta mendeskripsikan implementasi Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) di sekolah tersebut. Dengan pendekatan studi kasus kualitatif, data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan analisis dokumen. Temuan menunjukkan bahwa guru dan staf memiliki pemahaman teoritis yang kuat tentang Kurikulum Merdeka, termasuk perbedaannya dengan Kurikulum 2013. Mereka juga memiliki pemahaman yang baik tentang praktik pembelajaran dan evaluasi yang ideal. Namun, ditemukan inkonsistensi dalam implementasi praktis prinsip-prinsip tersebut. Selain itu, penelitian ini menyoroti bahwa pelaksanaan P5 di sekolah belum sepenuhnya sesuai dengan pedoman yang diberikan olehKementerian Pendidikan. Temuan ini menunjukkan perlunya upaya peningkatan kapasitas lebih lanjut dan pemantauan yang konsisten untuk memastikan keberhasilan adopsi Kurikulum Merdeka. Perubahan kurikulum bukanlah hal yang tidak lazim terjadi; bahkan, perubahan diantisipasi secara berkala untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan sumber daya manusia di suatu negara, yang pada akhirnya berkontribusi positif terhadap kesejahteraan dan kemajuan bangsa. Pada tahun 2022, Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia menerbitkan Keputusan No. 56/M/2022 yang mengatur implementasi Kurikulum Merdeka. Keberhasilan suatu kurikulum sangat bergantung pada kesiapan sekolah yang mengadopsinya. Penelitian ini mengkaji kesiapan Sekolah XYZSPK di Kota Bekasi dalam mengimplementasikan Kurikulum Merdeka. Tujuannya adalah untuk menilai pemahaman guru dan staf terhadap Kurikulum Merdeka, mengeksplorasi pemahaman mereka tentang proses pembelajaran dan penilaian yang ideal, serta mendeskripsikan implementasi Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) di sekolah tersebut. Dengan pendekatan studi kasus kualitatif, data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan analisis dokumen. Temuan menunjukkan bahwa guru dan staf memiliki pemahaman teoritis yang kuat tentang Kurikulum Merdeka, termasuk perbedaannya dengan Kurikulum 2013. Mereka juga memiliki pemahaman yang baik tentang praktik pembelajaran dan evaluasi yang ideal. Namun, ditemukan inkonsistensi dalam implementasi praktis prinsip-prinsip tersebut. Selain itu, penelitian ini menyoroti bahwa pelaksanaan P5 di sekolah belum sepenuhnya sesuai dengan pedoman yang diberikan olehKementerian Pendidikan. Temuan ini menunjukkan perlunya upaya peningkatan kapasitas lebih lanjut dan pemantauan yang konsisten untuk memastikan keberhasilan adopsi Kurikulum Merdeka.

Authors

Publication Details

Journal
EDUTECH
Published
2025-05-07
DOI
https://doi.org/10.17509/e.v24i2.80677
Primary Topic
Educational Curriculum and Learning Methods
Type
article
Field-Weighted Citation Impact
0.00
Controls
|||
ALL TIME
JAN
FEB
MAR
APR
MAY
JUN
JUL
AUG
SEP
OCT
article

KESIAPAN SEKOLAH SPK XYZ DI KOTA BEKASI DALAM IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA

Sherry Astari Sudoyo
EDUTECH
Educational Curriculum and Learning Methods
article

KESIAPAN SEKOLAH SPK XYZ DI KOTA BEKASI DALAM IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA

Sherry Astari Sudoyo
article en

Abstract

Curriculum changes are not uncommon; in fact, they are anticipated periodically to enhance the quality of education and human resources in the country, ultimately contributing positively to national prosperity and greatness. In 2022, the Indonesian Minister of Education, Culture, Research, and Technology issued decree No. 56/M/2022, which governs the implementation of the new Merdeka Curriculum. The efficacy of a curriculum is contingent upon the readiness of the adopting school. This study examines the readiness of XYZ SPK School in Bekasi City for implementing the Merdeka Curriculum. The objectives are to assess the understanding of teachers and staff regarding the Merdeka Curriculum, explore their comprehension of the ideal learning and assessment processes, and describe the implementation of Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) in the school. Employing a qualitative case study approach, data were gathered through interviews, observations, and document analysis. The findings reveal that teachers and staff possess a strong theoretical understanding of the Merdeka Curriculum, including its distinctions from Kurikulum 2013. They also demonstrate a good grasp of the ideal practices for learning and evaluation. However, inconsistencies in the practical implementation of these principles were observed. Additionally, the study highlights that the implementation of P5 at the school does not align with the guidelines provided by the Ministry of Education. These findings suggest a need for further capacity-building efforts and consistent monitoring to ensure successful adoption of the Merdeka Curriculum. Perubahan kurikulum bukanlah hal yang tidak lazim terjadi; bahkan, perubahan diantisipasi secara berkala untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan sumber daya manusia di suatu negara, yang pada akhirnya berkontribusi positif terhadap kesejahteraan dan kemajuan bangsa. Pada tahun 2022, Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia menerbitkan Keputusan No. 56/M/2022 yang mengatur implementasi Kurikulum Merdeka. Keberhasilan suatu kurikulum sangat bergantung pada kesiapan sekolah yang mengadopsinya. Penelitian ini mengkaji kesiapan Sekolah XYZSPK di Kota Bekasi dalam mengimplementasikan Kurikulum Merdeka. Tujuannya adalah untuk menilai pemahaman guru dan staf terhadap Kurikulum Merdeka, mengeksplorasi pemahaman mereka tentang proses pembelajaran dan penilaian yang ideal, serta mendeskripsikan implementasi Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) di sekolah tersebut. Dengan pendekatan studi kasus kualitatif, data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan analisis dokumen. Temuan menunjukkan bahwa guru dan staf memiliki pemahaman teoritis yang kuat tentang Kurikulum Merdeka, termasuk perbedaannya dengan Kurikulum 2013. Mereka juga memiliki pemahaman yang baik tentang praktik pembelajaran dan evaluasi yang ideal. Namun, ditemukan inkonsistensi dalam implementasi praktis prinsip-prinsip tersebut. Selain itu, penelitian ini menyoroti bahwa pelaksanaan P5 di sekolah belum sepenuhnya sesuai dengan pedoman yang diberikan olehKementerian Pendidikan. Temuan ini menunjukkan perlunya upaya peningkatan kapasitas lebih lanjut dan pemantauan yang konsisten untuk memastikan keberhasilan adopsi Kurikulum Merdeka. Perubahan kurikulum bukanlah hal yang tidak lazim terjadi; bahkan, perubahan diantisipasi secara berkala untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan sumber daya manusia di suatu negara, yang pada akhirnya berkontribusi positif terhadap kesejahteraan dan kemajuan bangsa. Pada tahun 2022, Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia menerbitkan Keputusan No. 56/M/2022 yang mengatur implementasi Kurikulum Merdeka. Keberhasilan suatu kurikulum sangat bergantung pada kesiapan sekolah yang mengadopsinya. Penelitian ini mengkaji kesiapan Sekolah XYZSPK di Kota Bekasi dalam mengimplementasikan Kurikulum Merdeka. Tujuannya adalah untuk menilai pemahaman guru dan staf terhadap Kurikulum Merdeka, mengeksplorasi pemahaman mereka tentang proses pembelajaran dan penilaian yang ideal, serta mendeskripsikan implementasi Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) di sekolah tersebut. Dengan pendekatan studi kasus kualitatif, data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan analisis dokumen. Temuan menunjukkan bahwa guru dan staf memiliki pemahaman teoritis yang kuat tentang Kurikulum Merdeka, termasuk perbedaannya dengan Kurikulum 2013. Mereka juga memiliki pemahaman yang baik tentang praktik pembelajaran dan evaluasi yang ideal. Namun, ditemukan inkonsistensi dalam implementasi praktis prinsip-prinsip tersebut. Selain itu, penelitian ini menyoroti bahwa pelaksanaan P5 di sekolah belum sepenuhnya sesuai dengan pedoman yang diberikan olehKementerian Pendidikan. Temuan ini menunjukkan perlunya upaya peningkatan kapasitas lebih lanjut dan pemantauan yang konsisten untuk memastikan keberhasilan adopsi Kurikulum Merdeka.

EDUTECHVol. 24(2)
Openalex Percentile: Top 87%
Educational Curriculum and Learning Methods
AI Navigator

Ask Laika to Summarize, Analyze, and Connect papers live on the map.

Summarize Papers & Methodologies

Extract key findings, datasets, and comparative methods across publications.

Benchmark Rankings & Visual Analytics

Rank top research institutions, authors, funders, topics, and journals by Field-Weighted Citation Impact (FWCI) and paper volume with instant charts.

Connect Distant Disciplines

Bridge topological clusters on the map to find hidden collaborative intersections.