Makna Keterbukaan dalam Berkomunikasi pada Perempuan Korban Kekerasan (R)
Abstract. Violence is a phenomenon that is rife in the community or social environment. Basically, this physical violence is a problem that continues to increase in every case, especially in female gender-based violence. This researcher aims to find out the motive for the meaning of openness in communicating to women who are victims of physical violence, patterns and forms of violent behavior experienced by women while involved with relationships. This researcher used a qualitative approach to phenomenology with Alfred Schutz's Phenomenological Theory. The results of the research were obtained through structured in-depth interviews to four imformant women who experienced the phenomenon. The results of the study show that women's motives do not speak up in cases of violence, namely because several factors are afraid of being threatened, feeling insecure to speak up and also the motive is because of excessive affection and imbalance of positions in relationships that make women helpless. On the other hand, the reason why women survive is because they feel that their partners are very good outside of the violence. Regarding the experience of communication in the form of violence experienced by informants is verbal and physical violence. Patterns of violence can occur due to various conflicts, such as women being felt to have violated the rules of their partner, feelings of jealousy, bad thoughts or bad prejudices and stubborn partners towards what they think is right to make the party emotional and make the violence happen. Abstrak. Kekerasan merupakan suatu fenomena yang marak terjadi di lingkungan masyarakat atau lingkungan sosial. Pada dasarnya kekerasan fisik ini merupakan suatu masalah yang terus mendapatkan peningkatan disetiap kasusnya terutama pada kekerasan berbasis gender perempuan. Peneliti ini bertujuan untuk mengetahui motif makna keterbukaan dalam berkomunikasi pada perempuan korban kekerasan fisik, pola dan bentuk prilaku kekerasan yang dialami oleh perempuan selama terlibat dengan hubungan. Peneliti ini menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologi dengan Teori Fenomenologi Alfred Schutz. Hasil penelitian didapatkan melalui wawancara mendalam secara terstruktur kepada empat imforman perempuan yang mengalami fenomena tersebut. Hasil penelitian menunjukan bahwa motif perempuan tidak speak up dalam kasus kekerasan nya yaitu karna beberapa faktor contihnya takut diancam, merasa tidak aman untuk speak up dan juga motif sebab adalah karena adanya rasa sayang yang berlebihan dan ketidakseimbangan posisi dalam hubungan yang membuat perempuan tidak berdaya. Di sisi lain motif sebab mendasari perempuan bertahan adalah karena merasa pasangannya sangat baik di luar pristiwa kekerasan tersebut. Mengenai pengalaman komunikasi dalam bentuk kekerasan yang dialami oleh para informan adalah kekerasan secara verbal dan fisik. Pola kekerasan dapat terjadi karena adanya konflik yang bermacam-macam, seperti pihak perempuan dirasa melanggar aturan dari pasangan, perasaan cemburu, pikiran buruk atau berprasangka jelek dan pasangan keras kepala terhadap apa yang dianggapnya benar hingga membuat pihak pasngan emosi dan membuat kekerasan itu terjadi.
Authors
- Anne Maryani (ORCID: https://orcid.org/0000-0002-7590-3891)
- Muhammad Reza Nugraha
Institutions
- Bandung Islamic University (ID)
Publication Details
- Journal
- Bandung Conference Series Communication Management
- Published
- 2025-02-03
- DOI
- https://doi.org/10.29313/bcscm.v5i1.17595
- Primary Topic
- Islamic Finance and Communication
- Type
- article
- Field-Weighted Citation Impact
- 0.00