Relevansi Semiotika Dan Uṣhūl Fiqh: Telaah Atas Hadis-Hadis Aḥkām

Abstract The integration of semiotics as a modern analytical tool into the classical Islamic sciences is often limited to the discourse of ‘ulūm al-Qur'ān and ’ulūm al-hadīs. The themes discussed are only dominated by ethical discussions. However, uṣhūl fiqh plays an important role in analysing naṣ that relate to the jurisprudential-practical dimension. This article is a literature review that seeks to explore the relevance between Ferdinand de Saussure's semiotics and classical uṣhūl fiqh theory. The focus is on examining hadīths that contain legal-formal laws (hadīś ahkām). The question in this study is how the relevance between the two and how semiotics is implemented as a basis for the production of fiqh law (istinbāt al-ahkām). The main argument is that contemporary scientific paradigms do not necessarily contradict classical Islamic knowledge. However, differences in terminology and function are often considered as a gap between the two poles. The relevance of both appears especially in the concept of sign systems. This can be seen in how the uṣhūlīs assign new sign systems such as amr meaning obligatory and nahy meaning forbidden to naṣṣ. Integrating semiotics into uṣhūl fiqh will provide a new nuance in the treasury of Islamic knowledge. Keywords: Ferdinand de Saussure semiotics, Uṣhūl Fiqh, hadith ahkām. Abstrak Usaha mengintegrasikan semiotika sebagai pisau analisis modern ke dalam khazanah ilmu keislaman klasik kerap kali hanya berkutat pada diskursus ‘ulūm al-Qur’ān dan ‘ulūm al-hadīs. Tema yang dibicarakan pun hanya didominasi diskusi tataran dalam etis. Padahal selain keduanya, terdapat pula uṣhūl fiqh yang berperan penting dalam menganalisa naṣṣ yang berkaitan dengan dimensi yurisprudis–praksis. Artikel ini adalah kajian pustaka yang berusaha menelusuri relevansi antara semiotika Ferdinand de Saussure dengan teori uṣhūl fiqh klasik. Fokusnya adalah meneliti hadis-hadis yang bermuatan hukum legal-formal (hadīś ahkām). Pertanyaan dalam penelitian ini adalah bagaimana relevansi antara keduanya dan bagaimana semiotika diimplementasikan sebagai basis produksi hukum fikih (istinbāt al-ahkām). Argumen utamanya adalah bahwa tidak selamanya paradigma keilmuan kontemporer bertentangan dengan khazanah ilmu keislaman klasik. Hanya saja, perbedaan terminologi dan fungsi kerap kali dianggap sebagai jurang pemisah antara dua kutub tersebut. Relevansi keduanya nampak terutama dalam konsep sistem tanda. Hal ini bisa dilihat dari bagaimana para uṣhūlī memberikan sistem tanda baru seperti amr bermakna wajib dan nahy bermakna haram ke dalam naṣṣ. Mengintegrasikan semiotika ke dalam uṣhūl fiqh akan memberikan nuansa baru dalam khazanah ilmu Keislaman.

Authors

Institutions

Publication Details

Journal
Kontemplasi Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin
Published
2024-12-31
DOI
https://doi.org/10.21274/kontem.2024.12.02.215-238
Primary Topic
Qur’anic Interpretation Studies
Type
article
Field-Weighted Citation Impact
0.00
Controls
|||
ALL TIME
JAN
FEB
MAR
APR
MAY
JUN
JUL
AUG
SEP
OCT
article

Relevansi Semiotika Dan Uṣhūl Fiqh: Telaah Atas Hadis-Hadis Aḥkām

Muhammad Syamil Basayif
Kontemplasi Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin
Qur’anic Interpretation Studies
article

Relevansi Semiotika Dan Uṣhūl Fiqh: Telaah Atas Hadis-Hadis Aḥkām

Muhammad Syamil Basayif
article en

Abstract

Abstract The integration of semiotics as a modern analytical tool into the classical Islamic sciences is often limited to the discourse of ‘ulūm al-Qur'ān and ’ulūm al-hadīs. The themes discussed are only dominated by ethical discussions. However, uṣhūl fiqh plays an important role in analysing naṣ that relate to the jurisprudential-practical dimension. This article is a literature review that seeks to explore the relevance between Ferdinand de Saussure's semiotics and classical uṣhūl fiqh theory. The focus is on examining hadīths that contain legal-formal laws (hadīś ahkām). The question in this study is how the relevance between the two and how semiotics is implemented as a basis for the production of fiqh law (istinbāt al-ahkām). The main argument is that contemporary scientific paradigms do not necessarily contradict classical Islamic knowledge. However, differences in terminology and function are often considered as a gap between the two poles. The relevance of both appears especially in the concept of sign systems. This can be seen in how the uṣhūlīs assign new sign systems such as amr meaning obligatory and nahy meaning forbidden to naṣṣ. Integrating semiotics into uṣhūl fiqh will provide a new nuance in the treasury of Islamic knowledge. Keywords: Ferdinand de Saussure semiotics, Uṣhūl Fiqh, hadith ahkām. Abstrak Usaha mengintegrasikan semiotika sebagai pisau analisis modern ke dalam khazanah ilmu keislaman klasik kerap kali hanya berkutat pada diskursus ‘ulūm al-Qur’ān dan ‘ulūm al-hadīs. Tema yang dibicarakan pun hanya didominasi diskusi tataran dalam etis. Padahal selain keduanya, terdapat pula uṣhūl fiqh yang berperan penting dalam menganalisa naṣṣ yang berkaitan dengan dimensi yurisprudis–praksis. Artikel ini adalah kajian pustaka yang berusaha menelusuri relevansi antara semiotika Ferdinand de Saussure dengan teori uṣhūl fiqh klasik. Fokusnya adalah meneliti hadis-hadis yang bermuatan hukum legal-formal (hadīś ahkām). Pertanyaan dalam penelitian ini adalah bagaimana relevansi antara keduanya dan bagaimana semiotika diimplementasikan sebagai basis produksi hukum fikih (istinbāt al-ahkām). Argumen utamanya adalah bahwa tidak selamanya paradigma keilmuan kontemporer bertentangan dengan khazanah ilmu keislaman klasik. Hanya saja, perbedaan terminologi dan fungsi kerap kali dianggap sebagai jurang pemisah antara dua kutub tersebut. Relevansi keduanya nampak terutama dalam konsep sistem tanda. Hal ini bisa dilihat dari bagaimana para uṣhūlī memberikan sistem tanda baru seperti amr bermakna wajib dan nahy bermakna haram ke dalam naṣṣ. Mengintegrasikan semiotika ke dalam uṣhūl fiqh akan memberikan nuansa baru dalam khazanah ilmu Keislaman.

Kontemplasi Jurnal Ilmu-Ilmu UshuluddinVol. 12(02)
Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta (ID)
Openalex Percentile: Top 62%
Qur’anic Interpretation Studies
AI Navigator

Ask Laika to Summarize, Analyze, and Connect papers live on the map.

Summarize Papers & Methodologies

Extract key findings, datasets, and comparative methods across publications.

Benchmark Rankings & Visual Analytics

Rank top research institutions, authors, funders, topics, and journals by Field-Weighted Citation Impact (FWCI) and paper volume with instant charts.

Connect Distant Disciplines

Bridge topological clusters on the map to find hidden collaborative intersections.