IDENTITAS KEAGAMAAN YANG INKLUSIF DALAM KONTEKS RUANG DIGITAL UNTUK MEMBANGUN PERDAMAIAN

Abstract: Religious fanaticism and intolerance have been and are spreading in today's digital space. Everyone lives individualistically and does not want to care about others, the result is often creating polarization and separation. Therefore, a spirit of inclusivity and solidarity is needed to maintain interfaith peace in the context of a network society. This research uses the Critical Discourse Analysis (CDA) method, which descriptively examines the necessary texts and documents and criticizes them. The theoretical analysis departs from the views of Amartya Sen and F. Budi Hardiman. The results show that Sen emphasizes the importance of not only affiliating with a singular identity but realizing and appreciating the multiplicity of identities. Hardiman elaborates on the importance of ethical moral principles in digital space to prevent fanaticism and religious radicalism. Both Sen and Hardiman emphasize the importance of the spirit of inclusivity and solidarity to build interfaith peace in the public sphere through respect the different of perspective and identity of others. Keywords: digital, identity, inclusive, peace, religion Abstrak: Fanatisme dan intoleransi beragama telah dan sedang menjamur di ruang digital dewasa ini. Setiap orang hidup secara individualis dan tidak mau peduli dengan orang lain, akibatnya seringkali menciptakan polarisasi hingga perpecahan. Untuk itu sangat diperlukan semangat inklusivitas dan solidaritas dalam menjaga perdamaian antaragama pada konteks masyarakat jaringan. Penelitian ini menggunakan metode Critical Discourse Analysis (CDA), yaitu meneliti secara deskriptif teks dan dokumen yang diperlukan dan mengkritisinya. Analisis teori berangkat dari pandangan Amartya Sen dan F. Budi Hardiman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sen menekankan pentingnya tidak hanya berafilisasi pada identitas tunggal, tetapi menyadari dan menghargai keragaman identitas. Hardiman mengelaborasi pentingnya prinsip moral etis dalam ruang digital untuk mencegah fanatisme hingga radikalisme agama. Baik Sen dan Hardiman sama-sama memberi penekanan pada pentingnya semangat inklusivitas dan solidaritas untuk membangun perdamaian antaragama dalam ruang publik melalui penghargaan terhadap perbedaan perspektif dan identitas orang lain. Katakunci: agama, digital, identitas, inklusif, perdamaian

Authors

Publication Details

Journal
Melo Jurnal Studi Agama-agama
Published
2024-12-31
DOI
https://doi.org/10.34307/mjsaa.v4i2.165
Primary Topic
Islamic Studies and Radicalism
Type
article
Field-Weighted Citation Impact
0.00
Controls
|||
ALL TIME
JAN
FEB
MAR
APR
MAY
JUN
JUL
AUG
SEP
OCT
article

IDENTITAS KEAGAMAAN YANG INKLUSIF DALAM KONTEKS RUANG DIGITAL UNTUK MEMBANGUN PERDAMAIAN

Pemberian Pemberian
Melo Jurnal Studi Agama-agama
Islamic Studies and Radicalism
article

IDENTITAS KEAGAMAAN YANG INKLUSIF DALAM KONTEKS RUANG DIGITAL UNTUK MEMBANGUN PERDAMAIAN

Pemberian Pemberian
article en

Abstract

Abstract: Religious fanaticism and intolerance have been and are spreading in today's digital space. Everyone lives individualistically and does not want to care about others, the result is often creating polarization and separation. Therefore, a spirit of inclusivity and solidarity is needed to maintain interfaith peace in the context of a network society. This research uses the Critical Discourse Analysis (CDA) method, which descriptively examines the necessary texts and documents and criticizes them. The theoretical analysis departs from the views of Amartya Sen and F. Budi Hardiman. The results show that Sen emphasizes the importance of not only affiliating with a singular identity but realizing and appreciating the multiplicity of identities. Hardiman elaborates on the importance of ethical moral principles in digital space to prevent fanaticism and religious radicalism. Both Sen and Hardiman emphasize the importance of the spirit of inclusivity and solidarity to build interfaith peace in the public sphere through respect the different of perspective and identity of others. Keywords: digital, identity, inclusive, peace, religion Abstrak: Fanatisme dan intoleransi beragama telah dan sedang menjamur di ruang digital dewasa ini. Setiap orang hidup secara individualis dan tidak mau peduli dengan orang lain, akibatnya seringkali menciptakan polarisasi hingga perpecahan. Untuk itu sangat diperlukan semangat inklusivitas dan solidaritas dalam menjaga perdamaian antaragama pada konteks masyarakat jaringan. Penelitian ini menggunakan metode Critical Discourse Analysis (CDA), yaitu meneliti secara deskriptif teks dan dokumen yang diperlukan dan mengkritisinya. Analisis teori berangkat dari pandangan Amartya Sen dan F. Budi Hardiman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sen menekankan pentingnya tidak hanya berafilisasi pada identitas tunggal, tetapi menyadari dan menghargai keragaman identitas. Hardiman mengelaborasi pentingnya prinsip moral etis dalam ruang digital untuk mencegah fanatisme hingga radikalisme agama. Baik Sen dan Hardiman sama-sama memberi penekanan pada pentingnya semangat inklusivitas dan solidaritas untuk membangun perdamaian antaragama dalam ruang publik melalui penghargaan terhadap perbedaan perspektif dan identitas orang lain. Katakunci: agama, digital, identitas, inklusif, perdamaian

Melo Jurnal Studi Agama-agamaVol. 4(2)
Reduced inequalities
Openalex Percentile: Top 60%
Islamic Studies and Radicalism
AI Navigator

Ask Laika to Summarize, Analyze, and Connect papers live on the map.

Summarize Papers & Methodologies

Extract key findings, datasets, and comparative methods across publications.

Benchmark Rankings & Visual Analytics

Rank top research institutions, authors, funders, topics, and journals by Field-Weighted Citation Impact (FWCI) and paper volume with instant charts.

Connect Distant Disciplines

Bridge topological clusters on the map to find hidden collaborative intersections.