Anak-Anak (Tanpa) Negara: Revitalisasi Bahasa dan Identitas Diri Anak Urban Indonesia di Malaysia
Language is the identity of one's nationality and commonality. In a language that is often identical to a communication tool, it is also called expression and expression of what happens around it. With different backgrounds language usually becomes the main part of self-identity. How do the language and self-identity of Indonesian urban children become divided in Malaysia? How are the social background and urban education in Malaysia? This is based on field notes from some interview results, observations, and documentation at a Malaysian Student School. Using a qualitative method with a phenomenological approach, the initial data is generated starting with a short time from June 4-11, 2024. Some data are also obtained from various sources and are fully accountable to the author. Based on this, the fieldnote found a new novelty related to the language, social, cultural, and identity of Indonesian urban children in Malaysia. Indonesian children have accurate performance, especially in mathematical lessons but are weak in reading and writing. This finding is proud at the same time worrying. Proud that Indonesian urban children in Malaysia have academic achievements, also worrying because from language they show “the identity of the divided child”. The identity is based on the background of a different citizenship between his father and his mother. This difference makes these urban children often experience split personalities between languages, and cultural, social, and economic identities in the family.(Bahasa merupakan identitas diri kebangsaan dan komunalitas seseorang. Dengan bahasa yang seringkali identik dengan alat komunikasi dimaknai pula sebagai pengungkapan dan pemaknaan atas apa yang terjadi di sekelilingnya. Dengan latar belakang berbeda seringkali bahasa menjadi bagian utama dalam identitas diri. Bagaimana bahasa dan identitas diri anak urban menjadi terbelah? Bagaimana latar belakang sosial dan pendidikan anak urban di Malaysia? Tulisan ini didasarkan pada catatan lapangan (fieldnote) yang disarikan dari beberapa hasil wawancara, observasi dan dokumentasi pada sebuah Sanggar Belajar di Malaysia. Dengan menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologis, data awal diolah dengan didalami mulai dengan waktu yang singkat mulai 4-11 Juni 2024. Beberapa data diperoleh pula dari berbagai sumber dengan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Berdasarkan hal tersebut fieldnote menemukan hal yang baru (novelty) berkaitan dengan bahasa, sosial, budaya dan identitas anak kaum urban Indonesia di Malaysia. Anak-anak Indonesia mempunyai prestasi eksakta, khususnya pelajaran matematika tetapi lemah dalam membaca dan menulis. Temuan ini membanggakan sekaligus memprihatinkan. Membanggakan karena anak urban Indonesia di Malaysia memiliki prestasi akademik, juga memprihatinkan karena dari bahasa menunjukkan “identitas diri anak yang terbelah”. Identitas tersebut berdasarkan pada latar belakang kewarganegaraan yang berbeda antara bapak dan ibunya. Keberbedaan ini membuat anak-anak urban ini seringkali mengalami split-personality antara bahasa, identitas kultural, sosial, ekonomi pada keluarga).
Authors
- Fathol Haliq
Publication Details
- Journal
- ICONIS International Conference on Islamic Studies
- Published
- 2024-10-16
- DOI
- https://doi.org/10.19105/iconis.v8i1.883
- Primary Topic
- Linguistics and Language Analysis
- Type
- article
- Field-Weighted Citation Impact
- 0.00