Tradisi Mamaca Masyarakat Sumenep: Upaya Mengkaji Tatakrama di Era Society 5.0

The mamaca tradition is a cultural heritage that is full of educational and social values ​​in it. Relations between human beings which are regulated through customs and become the character of local etiquette are also included in the discussion. This research aims to examine how the mamaca tradition can act as a tool for instilling etiquette values ​​in the digital era. This research will explore the practice of mamaca in Sumenep society, the values ​​contained in it, and clarify how important this mamaca tradition is in the midst of increasingly sophisticated technological developments. The approach used in this research is qualitative, namely building knowledge statements on the basis of a constructive perspective and using descriptive research. The results of this research are that the people of Sumenep study manners through the mamaca tradition in the era of society 5.0 by: firstly, considering it as a unique lecture method, secondly, there is a more extensive explanation of the pategghes, thirdly, recording the contents of the translation and reading it repeatedly, fourthly, by preserving it. Then, in this way, the people of Sumenep foster the application of good manners in a skill known as 4C; creativity, critical thinking, communication and collaboration to live in the era of society 5.0. The role of the mamaca tradition for the people of Sumenep is to help educate young people (bepak bebuk, guru, rato), increase feelings of solidarity in a group, provide social sanctions so that people behave well or give punishment, act as a means of social criticism, provide a pleasant escape. from reality, and turn boring work into play.(Tradisi mamaca merupakan warisan budaya yang penuh akan nilai-nilai pendidikan dan sosial di dalamnya. Hubungan antar sesama manusia yang diatur melalui kebiasaan dan menjadi karakter tatakrama wilayah setempat juga terdapat pada pembahasannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana tradisi mamaca dapat berperan sebagai alat untuk menanamkan nilai-nilai tatakrama di era digital. Penelitian ini akan mengeksplorasi praktik mamaca dalam masyarakat Sumenep, nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, serta mengklarifikasi seberapa berperannya tradisi mamaca ini di tengah perkembangan teknologi yang semakin canggih. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif yaitu membangun pernyataan pengetahuan atas dasar perspektif-konstruktif dan menggunakan jenis penelitian deskriptif. Hasil dari penelitian ini yaitu masyarakat Sumenep mengkaji tatakrama melalui tradisi mamaca di era society 5.0 ini dengan cara; pertama, menganggapnya sebagai metode ceramah yang unik, kedua, adanya penjelasan yang lebih melebar dari pategghes, ketiga, mencatat isi terjemahan dan membacanya berulang kali, keempat, dengan cara melestarikannya. Kemudian cara tersebut pada masyarakat Sumenep menumbuhkan penerapan tatakrama dalam kemampuan yang dikenal sebagai 4C; creatifity (kreatifitas), critical thinking (pemikiran kritis), communication (komunikasi), dan colaboration kolaborasi untuk hidup di era society 5.0. Adapun peran dari tradisi mamaca bagi masyarakat Sumenep ialah membantu pendidikan anak muda (bepak bebuk, guru, rato), meningkatkan perasaan solidaritas suatu kelompok, memberi sanksi sosial agar orang berperilaku baik atau memberi hukuman, berperan sebagai sarana kritik sosial, memberikan suatu pelarian yang menyenangkan dari kenyataan, dan mengubah pekerjaan yang mebosankan menjadi permainan.)

Authors

Publication Details

Journal
ICONIS International Conference on Islamic Studies
Published
2024-10-16
DOI
https://doi.org/10.19105/iconis.v8i1.899
Primary Topic
Cultural and Artistic Studies
Type
article
Field-Weighted Citation Impact
0.00
Controls
|||
ALL TIME
JAN
FEB
MAR
APR
MAY
JUN
JUL
AUG
SEP
OCT
article

Tradisi Mamaca Masyarakat Sumenep: Upaya Mengkaji Tatakrama di Era Society 5.0

Cici' Wilantini, Nelya Bani Amien
ICONIS International Conference on Islamic Studies
Cultural and Artistic Studies
article

Tradisi Mamaca Masyarakat Sumenep: Upaya Mengkaji Tatakrama di Era Society 5.0

Cici' Wilantini, Nelya Bani Amien
article en

Abstract

The mamaca tradition is a cultural heritage that is full of educational and social values ​​in it. Relations between human beings which are regulated through customs and become the character of local etiquette are also included in the discussion. This research aims to examine how the mamaca tradition can act as a tool for instilling etiquette values ​​in the digital era. This research will explore the practice of mamaca in Sumenep society, the values ​​contained in it, and clarify how important this mamaca tradition is in the midst of increasingly sophisticated technological developments. The approach used in this research is qualitative, namely building knowledge statements on the basis of a constructive perspective and using descriptive research. The results of this research are that the people of Sumenep study manners through the mamaca tradition in the era of society 5.0 by: firstly, considering it as a unique lecture method, secondly, there is a more extensive explanation of the pategghes, thirdly, recording the contents of the translation and reading it repeatedly, fourthly, by preserving it. Then, in this way, the people of Sumenep foster the application of good manners in a skill known as 4C; creativity, critical thinking, communication and collaboration to live in the era of society 5.0. The role of the mamaca tradition for the people of Sumenep is to help educate young people (bepak bebuk, guru, rato), increase feelings of solidarity in a group, provide social sanctions so that people behave well or give punishment, act as a means of social criticism, provide a pleasant escape. from reality, and turn boring work into play.(Tradisi mamaca merupakan warisan budaya yang penuh akan nilai-nilai pendidikan dan sosial di dalamnya. Hubungan antar sesama manusia yang diatur melalui kebiasaan dan menjadi karakter tatakrama wilayah setempat juga terdapat pada pembahasannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana tradisi mamaca dapat berperan sebagai alat untuk menanamkan nilai-nilai tatakrama di era digital. Penelitian ini akan mengeksplorasi praktik mamaca dalam masyarakat Sumenep, nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, serta mengklarifikasi seberapa berperannya tradisi mamaca ini di tengah perkembangan teknologi yang semakin canggih. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif yaitu membangun pernyataan pengetahuan atas dasar perspektif-konstruktif dan menggunakan jenis penelitian deskriptif. Hasil dari penelitian ini yaitu masyarakat Sumenep mengkaji tatakrama melalui tradisi mamaca di era society 5.0 ini dengan cara; pertama, menganggapnya sebagai metode ceramah yang unik, kedua, adanya penjelasan yang lebih melebar dari pategghes, ketiga, mencatat isi terjemahan dan membacanya berulang kali, keempat, dengan cara melestarikannya. Kemudian cara tersebut pada masyarakat Sumenep menumbuhkan penerapan tatakrama dalam kemampuan yang dikenal sebagai 4C; creatifity (kreatifitas), critical thinking (pemikiran kritis), communication (komunikasi), dan colaboration kolaborasi untuk hidup di era society 5.0. Adapun peran dari tradisi mamaca bagi masyarakat Sumenep ialah membantu pendidikan anak muda (bepak bebuk, guru, rato), meningkatkan perasaan solidaritas suatu kelompok, memberi sanksi sosial agar orang berperilaku baik atau memberi hukuman, berperan sebagai sarana kritik sosial, memberikan suatu pelarian yang menyenangkan dari kenyataan, dan mengubah pekerjaan yang mebosankan menjadi permainan.)

ICONIS International Conference on Islamic StudiesVol. 8(1)
Quality Education
Openalex Percentile: Top 63%
Cultural and Artistic Studies
AI Navigator

Ask Laika to Summarize, Analyze, and Connect papers live on the map.

Summarize Papers & Methodologies

Extract key findings, datasets, and comparative methods across publications.

Benchmark Rankings & Visual Analytics

Rank top research institutions, authors, funders, topics, and journals by Field-Weighted Citation Impact (FWCI) and paper volume with instant charts.

Connect Distant Disciplines

Bridge topological clusters on the map to find hidden collaborative intersections.