NILAI TINDIH SUKU SASAK SEBAGAI PEDOMAN HIDUP UNTUK MENINGKATKAN EMPATI DAN SIKAP HORMAT SISWA

Moral values, particularly respect, are fundamental principles that grow and develop from the value of empathy. Empathy, in this context, is a moral value that can positively contribute to an individual's moral development. Empathy and respect are among the foundational moral values that influence other virtues such as responsibility, friendship, peacefulness, honesty, and tolerance, which are integral to humanitarian values. One of the local wisdom values believed to enhance individual understanding and actions is the tindih value of the Sasak tribe. The tindih value refers to a core principle emphasizing commitment and consistency to truth and nobility, which is rooted in faith. The fundamental tindih value is supported by a protective value system that safeguards individuals and society from humanitarian degradation, namely maliq and merang. Maliq signifies the prohibition of engaging in inappropriate and unbeneficial actions. Meanwhile, merang embodies social solidarity, characterized by empathy and concern for others. ABSTRAKNilai moral berupa sikap hormat atau respect merupakan nilai dasar yang tumbuh dan berkembang dari nilai empati. Nilai empati dalam hal ini merupakan nilai moralitas yang dapat berkontribusi positif terhadap perkembangan moral individu. Empati dan sikap hormat merupakan salah satu nilai (kualitas dari perbuatan) yang merupakan nilai moral paling dasar bagi nilai-nilai lainnya yang juga dapat berpengaruh terhadap nilai tanggung jawab, persahabatan, cinta damai, rasa hormat, kejujuran dan toleransi nilai-nilai kemanusiaan. Adapun salah satu nilai kearifan lokal yang dianggap dapat meningkatkan pemahaman dan perbuatan individu adalah nilai tindih suku Sasak. Adapun yang dimaksud nilai tindih adalah nilai dasar yang menekankan pada komitmen dan konsistensi pada kebenaran dan keluhuran yang bersumber dari keimanan. Adapun nilai dasar tindih didindingi oleh sistem nilai penyangga untuk membentengi diri dan masyarakat dari degradasi kemanusiaan yaitu maliq dan merang. Lebih lanjut maliq berarti pantangan melakukan hal yang tidak pantas dan tidak bermanfaat. Sedangkan merang mengandung nilai solidaritas sosial yaitu sikap tenggang rasa, dan perduli terhadap sesama atau mampu berempati.

Authors

Publication Details

Journal
EDUCATOR Jurnal Inovasi Tenaga Pendidik dan Kependidikan
Published
2024-12-11
DOI
https://doi.org/10.51878/educator.v4i2.3837
Primary Topic
Education and Character Development
Type
article
Field-Weighted Citation Impact
0.00
Controls
|||
ALL TIME
JAN
FEB
MAR
APR
MAY
JUN
JUL
AUG
SEP
OCT
article

NILAI TINDIH SUKU SASAK SEBAGAI PEDOMAN HIDUP UNTUK MENINGKATKAN EMPATI DAN SIKAP HORMAT SISWA

Nuraeni Nuraeni, Muhamad Suhardi
EDUCATOR Jurnal Inovasi Tenaga Pendidik dan Kependidikan
Education and Character Development
article

NILAI TINDIH SUKU SASAK SEBAGAI PEDOMAN HIDUP UNTUK MENINGKATKAN EMPATI DAN SIKAP HORMAT SISWA

Nuraeni Nuraeni, Muhamad Suhardi
article en

Abstract

Moral values, particularly respect, are fundamental principles that grow and develop from the value of empathy. Empathy, in this context, is a moral value that can positively contribute to an individual's moral development. Empathy and respect are among the foundational moral values that influence other virtues such as responsibility, friendship, peacefulness, honesty, and tolerance, which are integral to humanitarian values. One of the local wisdom values believed to enhance individual understanding and actions is the tindih value of the Sasak tribe. The tindih value refers to a core principle emphasizing commitment and consistency to truth and nobility, which is rooted in faith. The fundamental tindih value is supported by a protective value system that safeguards individuals and society from humanitarian degradation, namely maliq and merang. Maliq signifies the prohibition of engaging in inappropriate and unbeneficial actions. Meanwhile, merang embodies social solidarity, characterized by empathy and concern for others. ABSTRAKNilai moral berupa sikap hormat atau respect merupakan nilai dasar yang tumbuh dan berkembang dari nilai empati. Nilai empati dalam hal ini merupakan nilai moralitas yang dapat berkontribusi positif terhadap perkembangan moral individu. Empati dan sikap hormat merupakan salah satu nilai (kualitas dari perbuatan) yang merupakan nilai moral paling dasar bagi nilai-nilai lainnya yang juga dapat berpengaruh terhadap nilai tanggung jawab, persahabatan, cinta damai, rasa hormat, kejujuran dan toleransi nilai-nilai kemanusiaan. Adapun salah satu nilai kearifan lokal yang dianggap dapat meningkatkan pemahaman dan perbuatan individu adalah nilai tindih suku Sasak. Adapun yang dimaksud nilai tindih adalah nilai dasar yang menekankan pada komitmen dan konsistensi pada kebenaran dan keluhuran yang bersumber dari keimanan. Adapun nilai dasar tindih didindingi oleh sistem nilai penyangga untuk membentengi diri dan masyarakat dari degradasi kemanusiaan yaitu maliq dan merang. Lebih lanjut maliq berarti pantangan melakukan hal yang tidak pantas dan tidak bermanfaat. Sedangkan merang mengandung nilai solidaritas sosial yaitu sikap tenggang rasa, dan perduli terhadap sesama atau mampu berempati.

EDUCATOR Jurnal Inovasi Tenaga Pendidik dan KependidikanVol. 4(2)
Peace, Justice and strong institutions
Openalex Percentile: Top 69%
Education and Character Development
AI Navigator

Ask Laika to Summarize, Analyze, and Connect papers live on the map.

Summarize Papers & Methodologies

Extract key findings, datasets, and comparative methods across publications.

Benchmark Rankings & Visual Analytics

Rank top research institutions, authors, funders, topics, and journals by Field-Weighted Citation Impact (FWCI) and paper volume with instant charts.

Connect Distant Disciplines

Bridge topological clusters on the map to find hidden collaborative intersections.

NILAI TINDIH SUKU SASAK SEBAGAI PEDOMAN HIDUP UNTUK MENINGKATKAN EMPATI DAN SIKAP HORMAT SISWA — Nuraeni Nuraeni, Muhamad Suhardi · EDUCATOR Jurnal Inovasi Tenaga Pendidik dan Kependidikan (2024) | TGRS Research Map | TGRS