"Diversity in the Workplace": Indonesian Muslim Migrant Workers' Experiences in Japan

A rapidly shrinking and aging population has pushed the Japanese government to relax certain border regulations to let in more foreign workers. JICA predicts that by 2040, Japan will need to double its foreign workforce to more than 6 million. This is also in line with the Japanese government’s policy plan which opens up opportunities for foreign workers to enter from various countries through technical intern trainee visas, specified skilled workers, professional workers, etc. As a result, under the Abe administration, the Japanese government launched the Diversity and Empowerment in the Workplace campaign to welcome international workers as one of the social integration policies to achieve harmony. Thus, this paper aims to analyze how the synergy of diversity in workplace policy toward Muslim migrant workers in Japan progresses by using ethnography and participant observation as a methodological approach. Qualitative data was collected between 2018 and 2023 through participant observations and semi structured interviews. By looking at the stories conveyed, it seems that the ‘diversity in workplace policies’ cannot yet be adequately implemented for Muslim workers, especially those with semi-skilled visa categories such as trainees and SSW. Furthermore, social integration efforts through workplace diversity policies are hampered because some Japanese companies continue to have a bad working culture that promotes productivity by imposing long working hours. This has become a problem for Japanese workers and has prompted criticism and efforts to change. Keywords: “Diversity in the workplace”, Indonesian Migrant Workers, Muslim, Japan Populasi yang menyusut dan menua dengan cepat telah mendorong pemerintah Jepang untuk melonggarkan peraturan perbatasannya agar dapat menerima lebih banyak pekerja asing. JICA memperkirakan Jepang perlu meningkatkan jumlah tenaga kerja asing sebanyak empat kali lipat menjadi lebih dari enam juta pada tahun 2040. Hal ini juga sejalan dengan rencana kebijakan pemerintah Jepang yang membuka peluang masuknya tenaga kerja asing dari berbagai negara melalui berbagai jenis visa seperti pemagang kerja, pekerja berketerampilan khusus, pekerja profesional, dll. Oleh karena itu, untuk menyambut masuknya pekerja asing, pemerintah Jepang pada masa pemerintahan Abe telah mencanangkan slogan keberagaman dan pemberdayaan di lingkungan kerja sebagai upaya strategi integrasi sosial. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana sinergitas kebijakan keberagaman di tempat kerja Jepang terhadap pekerja migran Muslim di Jepang dengan menggunakan etnografi dan observasi partisipan sebagai pendekatan metodologis. Data kualitatif dikumpulkan antara tahun 2018 sampai 2023 melalui observasi partisipan dan wawancara semi terstruktur. Dengan melihat kisah-kisah yang disampaikan, tampaknya ‘kebijakan keberagaman di tempat kerja’ belum dapat diterapkan secara memadai bagi pekerja Muslim, terutama mereka yang memiliki kategori visa semi-terampil seperti pekerja magang dan pekerja Spesial Skill Workers/SSW. Lebih jauh, upaya integrasi sosial melalui kebijakan keberagaman di tempat kerja terhambat karena buruknya budaya kerja di beberapa perusahaan Jepang yang mempromosikan produktivitas dengan memberlakukan jam kerja yang panjang. Hal tersebut menjadi masalah bagi pekerja Jepang dan telah memicu kritik serta upaya untuk berubah. Kata-kata Kunci: “Diversity in the workplace”, Pekerja Migran Indonesia, Muslim Indonesia, Jepang

Authors

Institutions

Publication Details

Journal
Jurnal Global & Strategis
Published
2024-10-31
DOI
https://doi.org/10.20473/jgs.18.2.2024.355-382
Primary Topic
Socioeconomic Development in Asia
Type
article
Field-Weighted Citation Impact
0.00

Funders

Controls
|||
ALL TIME
JAN
FEB
MAR
APR
MAY
JUN
JUL
AUG
SEP
OCT
article

"Diversity in the Workplace": Indonesian Muslim Migrant Workers' Experiences in Japan

Yusy Widarahesty
Jurnal Global & Strategis
Socioeconomic Development in Asia
article

"Diversity in the Workplace": Indonesian Muslim Migrant Workers' Experiences in Japan

Yusy Widarahesty
article en

Abstract

A rapidly shrinking and aging population has pushed the Japanese government to relax certain border regulations to let in more foreign workers. JICA predicts that by 2040, Japan will need to double its foreign workforce to more than 6 million. This is also in line with the Japanese government’s policy plan which opens up opportunities for foreign workers to enter from various countries through technical intern trainee visas, specified skilled workers, professional workers, etc. As a result, under the Abe administration, the Japanese government launched the Diversity and Empowerment in the Workplace campaign to welcome international workers as one of the social integration policies to achieve harmony. Thus, this paper aims to analyze how the synergy of diversity in workplace policy toward Muslim migrant workers in Japan progresses by using ethnography and participant observation as a methodological approach. Qualitative data was collected between 2018 and 2023 through participant observations and semi structured interviews. By looking at the stories conveyed, it seems that the ‘diversity in workplace policies’ cannot yet be adequately implemented for Muslim workers, especially those with semi-skilled visa categories such as trainees and SSW. Furthermore, social integration efforts through workplace diversity policies are hampered because some Japanese companies continue to have a bad working culture that promotes productivity by imposing long working hours. This has become a problem for Japanese workers and has prompted criticism and efforts to change. Keywords: “Diversity in the workplace”, Indonesian Migrant Workers, Muslim, Japan Populasi yang menyusut dan menua dengan cepat telah mendorong pemerintah Jepang untuk melonggarkan peraturan perbatasannya agar dapat menerima lebih banyak pekerja asing. JICA memperkirakan Jepang perlu meningkatkan jumlah tenaga kerja asing sebanyak empat kali lipat menjadi lebih dari enam juta pada tahun 2040. Hal ini juga sejalan dengan rencana kebijakan pemerintah Jepang yang membuka peluang masuknya tenaga kerja asing dari berbagai negara melalui berbagai jenis visa seperti pemagang kerja, pekerja berketerampilan khusus, pekerja profesional, dll. Oleh karena itu, untuk menyambut masuknya pekerja asing, pemerintah Jepang pada masa pemerintahan Abe telah mencanangkan slogan keberagaman dan pemberdayaan di lingkungan kerja sebagai upaya strategi integrasi sosial. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana sinergitas kebijakan keberagaman di tempat kerja Jepang terhadap pekerja migran Muslim di Jepang dengan menggunakan etnografi dan observasi partisipan sebagai pendekatan metodologis. Data kualitatif dikumpulkan antara tahun 2018 sampai 2023 melalui observasi partisipan dan wawancara semi terstruktur. Dengan melihat kisah-kisah yang disampaikan, tampaknya ‘kebijakan keberagaman di tempat kerja’ belum dapat diterapkan secara memadai bagi pekerja Muslim, terutama mereka yang memiliki kategori visa semi-terampil seperti pekerja magang dan pekerja Spesial Skill Workers/SSW. Lebih jauh, upaya integrasi sosial melalui kebijakan keberagaman di tempat kerja terhambat karena buruknya budaya kerja di beberapa perusahaan Jepang yang mempromosikan produktivitas dengan memberlakukan jam kerja yang panjang. Hal tersebut menjadi masalah bagi pekerja Jepang dan telah memicu kritik serta upaya untuk berubah. Kata-kata Kunci: “Diversity in the workplace”, Pekerja Migran Indonesia, Muslim Indonesia, Jepang

Jurnal Global & StrategisVol. 18(2)
Ritsumeikan University (JP)
Ritsumeikan University
Reduced inequalities
Openalex Percentile: Top 68%
Socioeconomic Development in Asia
AI Navigator

Ask Laika to Summarize, Analyze, and Connect papers live on the map.

Summarize Papers & Methodologies

Extract key findings, datasets, and comparative methods across publications.

Benchmark Rankings & Visual Analytics

Rank top research institutions, authors, funders, topics, and journals by Field-Weighted Citation Impact (FWCI) and paper volume with instant charts.

Connect Distant Disciplines

Bridge topological clusters on the map to find hidden collaborative intersections.