Meretas Mitologi Lumimuut-Toar: Analisis Etika Perdamaian dalam Mengukir Kesetaraan Gender Masyarakat Minahasa di Indonesia

Abstract The Minahasa people, like most regions in Indonesia, are influenced by a patriarchal culture that results in inequality in behavior, status, and authority between men and women. This phenomenon is seen in various aspects of life such as political, social, and cultural, where women are often placed in subordinate positions. However, the traditional mythology of Minahasa, Lumimuut-Toar, shows the important role of women in the sustainability of society. This paper discusses ethical dilemmas in the context of Minahasa society through Jonathan Haidt's theoretical approach to Moral Foundations and Feminist Relational Ethics. Haidt offers a moral foundation that can be used to assess the injustice and discrimination experienced by Minahasa women, while Feminist Relational Ethics highlights the importance of interpersonal relationships and fair social structures in efforts to overcome gender oppression. The conclusion of this paper is the importance of reinterpreting the mythology of Lumimuut-Toar as a tool to achieve gender equality in Minahasa society, as well as encouraging women's awareness to be actively involved in structures and institutions to create better justice and equality. AbstrakMasyarakat Minahasa, seperti kebanyakan wilayah di Indonesia, dipengaruhi oleh budaya patriarki yang mengakibatkan ketimpangan dalam perilaku, status, dan otoritas antara laki-laki dan perempuan. Fenomena ini terlihat dalam berbagai aspek kehidupan seperti politik, sosial, dan budaya, di mana perempuan seringkali ditempatkan dalam posisi subordinatif. Namun, mitologi tradisional Minahasa, Lumimuut-Toar, menunjukkan peran penting perempuan dalam keberlangsungan masyarakat. Makalah ini membahas dilema etis dalam konteks masyarakat Minahasa melalui pendekatan teori Landasan Moral Jonathan Haidt dan Etika Relasional Feminis. Haidt menawarkan landasan moral yang dapat digunakan untuk menilai ketidakadilan dan diskriminasi yang dialami perempuan Minahasa, sementara Etika Relasional Feminis menyoroti pentingnya hubungan interpersonal dan struktur sosial yang adil dalam upaya mengatasi penindasan gender. Kesimpulan dari makalah ini ialah pentingnya reinterpretasi mitologi Lumimuut-Toar sebagai alat untuk mencapai kesetaraan gender dalam masyarakat Minahasa, sekaligus mendorong kesadaran kaum perempuan untuk aktif terlibat dalam struktur dan institusi guna menciptakan keadilan dan kesetaraan yang lebih baik.

Authors

Institutions

Publication Details

Journal
Aradha Journal of Divinity Peace and Conflict Studies
Published
2024-10-19
DOI
https://doi.org/10.21460/aradha.2023.32.1285
Primary Topic
Gender and Women's Rights
Type
article
Field-Weighted Citation Impact
0.00
Controls
|||
ALL TIME
JAN
FEB
MAR
APR
MAY
JUN
JUL
AUG
SEP
OCT
article

Meretas Mitologi Lumimuut-Toar: Analisis Etika Perdamaian dalam Mengukir Kesetaraan Gender Masyarakat Minahasa di Indonesia

Febriani Pincerulyna Tarigan
Aradha Journal of Divinity Peace and Conflict Studies
Gender and Women's Rights
article

Meretas Mitologi Lumimuut-Toar: Analisis Etika Perdamaian dalam Mengukir Kesetaraan Gender Masyarakat Minahasa di Indonesia

Febriani Pincerulyna Tarigan
article en

Abstract

Abstract The Minahasa people, like most regions in Indonesia, are influenced by a patriarchal culture that results in inequality in behavior, status, and authority between men and women. This phenomenon is seen in various aspects of life such as political, social, and cultural, where women are often placed in subordinate positions. However, the traditional mythology of Minahasa, Lumimuut-Toar, shows the important role of women in the sustainability of society. This paper discusses ethical dilemmas in the context of Minahasa society through Jonathan Haidt's theoretical approach to Moral Foundations and Feminist Relational Ethics. Haidt offers a moral foundation that can be used to assess the injustice and discrimination experienced by Minahasa women, while Feminist Relational Ethics highlights the importance of interpersonal relationships and fair social structures in efforts to overcome gender oppression. The conclusion of this paper is the importance of reinterpreting the mythology of Lumimuut-Toar as a tool to achieve gender equality in Minahasa society, as well as encouraging women's awareness to be actively involved in structures and institutions to create better justice and equality. AbstrakMasyarakat Minahasa, seperti kebanyakan wilayah di Indonesia, dipengaruhi oleh budaya patriarki yang mengakibatkan ketimpangan dalam perilaku, status, dan otoritas antara laki-laki dan perempuan. Fenomena ini terlihat dalam berbagai aspek kehidupan seperti politik, sosial, dan budaya, di mana perempuan seringkali ditempatkan dalam posisi subordinatif. Namun, mitologi tradisional Minahasa, Lumimuut-Toar, menunjukkan peran penting perempuan dalam keberlangsungan masyarakat. Makalah ini membahas dilema etis dalam konteks masyarakat Minahasa melalui pendekatan teori Landasan Moral Jonathan Haidt dan Etika Relasional Feminis. Haidt menawarkan landasan moral yang dapat digunakan untuk menilai ketidakadilan dan diskriminasi yang dialami perempuan Minahasa, sementara Etika Relasional Feminis menyoroti pentingnya hubungan interpersonal dan struktur sosial yang adil dalam upaya mengatasi penindasan gender. Kesimpulan dari makalah ini ialah pentingnya reinterpretasi mitologi Lumimuut-Toar sebagai alat untuk mencapai kesetaraan gender dalam masyarakat Minahasa, sekaligus mendorong kesadaran kaum perempuan untuk aktif terlibat dalam struktur dan institusi guna menciptakan keadilan dan kesetaraan yang lebih baik.

Aradha Journal of Divinity Peace and Conflict StudiesVol. 3(2)
Duta Wacana Christian University (ID)
Gender equality
Openalex Percentile: Top 71%
Gender and Women's Rights
AI Navigator

Ask Laika to Summarize, Analyze, and Connect papers live on the map.

Summarize Papers & Methodologies

Extract key findings, datasets, and comparative methods across publications.

Benchmark Rankings & Visual Analytics

Rank top research institutions, authors, funders, topics, and journals by Field-Weighted Citation Impact (FWCI) and paper volume with instant charts.

Connect Distant Disciplines

Bridge topological clusters on the map to find hidden collaborative intersections.