Destinasi Wisata Desa Rancakalong, Kabupaten Sumedang

Abstract. Sumedang Regency, located in West Java, has a strategic position that allows it to take advantage of the potential of abundant and diverse natural resources. This vast region offers potential in various sectors such as tourism, specialty foods, traditional crafts, livestock, forestry, and agriculture. In the tourism sector, Sumedang has attractions that include natural, historical, cultural, religious, and culinary tourism, with Tahu Sumedang as the main culinary icon. Although Sumedang's culinary is widely known, its wealth of natural and historical tourism, including the art of Tarawangsa in Rancakalong Tourism Village, is often underpaid. Rancakalong Village, which is famous for the art of Ngalaksa and Tarawangsa, has a very rich cultural potential. The Sundanese Cultural Publishing House (SPBS) policy, which has been in effect since 2009, reflects the government's efforts to preserve Sundanese culture and support the development of local tourism. Ngalaksa and Tarawangsa are integral parts of the cultural preservation and tourism attraction of Rancakalong Village. To optimize tourism potential, efforts are needed to regenerate the arts, especially among the younger generation, as well as to improve amenities and supporting services. A qualitative approach is used in this study to identify obstacles in the preservation of tourist destinations. Rancakalong Village, with good accessibility and facilities that are in the development stage, has a great opportunity to develop into a leading tourist destination. With effective planning and proper cultural preservation efforts, this village can take advantage of its full potential and become an attractive tourist destination for both domestic and international visitors Abstrak. Kabupaten Sumedang, terletak di Jawa Barat, memiliki posisi strategis yang memungkinkannya untuk memanfaatkan potensi sumber daya alam yang melimpah dan beragam. Wilayah yang luas ini menawarkan potensi di berbagai sektor seperti pariwisata, makanan khas, kerajinan tradisional, peternakan, kehutanan, dan pertanian. Dalam sektor pariwisata, Sumedang memiliki daya tarik yang mencakup wisata alam, sejarah, budaya, religi, dan kuliner, dengan Tahu Sumedang sebagai ikon kuliner utama. Meskipun kuliner Sumedang dikenal luas, kekayaan wisata alam dan sejarahnya, termasuk kesenian Tarawangsa di Desa Wisata Rancakalong, sering kali kurang diperhatikan. Desa Rancakalong, yang terkenal dengan kesenian Ngalaksa dan Tarawangsa, memiliki potensi budaya yang sangat kaya. Kebijakan Rumah Penerbitan Kebudayaan Sunda (SPBS) yang diberlakukan sejak 2009 mencerminkan upaya pemerintah dalam melestarikan budaya Sunda dan mendukung pengembangan pariwisata lokal. Ngalaksa dan Tarawangsa merupakan bagian integral dari pelestarian budaya serta daya tarik pariwisata Desa Rancakalong. Untuk mengoptimalkan potensi pariwisata, diperlukan upaya regenerasi kesenian, khususnya di kalangan generasi muda, serta peningkatan amenitas dan layanan pendukung. Pendekatan kualitatif digunakan dalam penelitian ini mengidentifikasi hambatan dalam pelestarian destinasi wisata. Desa Rancakalong, dengan aksesibilitas yang baik dan fasilitas yang sedang dalam tahap pengembangan, memiliki peluang besar untuk berkembang menjadi destinasi wisata unggulan. Dengan perencanaan yang efektif dan upaya pelestarian budaya yang tepat, desa ini dapat memanfaatkan potensi penuh yang dimilikinya dan menjadi tujuan wisata yang menarik baik bagi pengunjung domestik maupun internasional.

Authors

Publication Details

Journal
Bandung Conference Series Urban & Regional Planning
Published
2024-08-12
DOI
https://doi.org/10.29313/bcsurp.v4i3.13751
Primary Topic
Community-based Tourism Development and Sustainability
Type
article
Field-Weighted Citation Impact
0.00
Controls
|||
ALL TIME
JAN
FEB
MAR
APR
MAY
JUN
JUL
AUG
SEP
OCT
article

Destinasi Wisata Desa Rancakalong, Kabupaten Sumedang

Andini Hasanatunnisa
Bandung Conference Series Urban & Regional Planning
Community-based Tourism Development and Sustainability
article

Destinasi Wisata Desa Rancakalong, Kabupaten Sumedang

Andini Hasanatunnisa
article en

Abstract

Abstract. Sumedang Regency, located in West Java, has a strategic position that allows it to take advantage of the potential of abundant and diverse natural resources. This vast region offers potential in various sectors such as tourism, specialty foods, traditional crafts, livestock, forestry, and agriculture. In the tourism sector, Sumedang has attractions that include natural, historical, cultural, religious, and culinary tourism, with Tahu Sumedang as the main culinary icon. Although Sumedang's culinary is widely known, its wealth of natural and historical tourism, including the art of Tarawangsa in Rancakalong Tourism Village, is often underpaid. Rancakalong Village, which is famous for the art of Ngalaksa and Tarawangsa, has a very rich cultural potential. The Sundanese Cultural Publishing House (SPBS) policy, which has been in effect since 2009, reflects the government's efforts to preserve Sundanese culture and support the development of local tourism. Ngalaksa and Tarawangsa are integral parts of the cultural preservation and tourism attraction of Rancakalong Village. To optimize tourism potential, efforts are needed to regenerate the arts, especially among the younger generation, as well as to improve amenities and supporting services. A qualitative approach is used in this study to identify obstacles in the preservation of tourist destinations. Rancakalong Village, with good accessibility and facilities that are in the development stage, has a great opportunity to develop into a leading tourist destination. With effective planning and proper cultural preservation efforts, this village can take advantage of its full potential and become an attractive tourist destination for both domestic and international visitors Abstrak. Kabupaten Sumedang, terletak di Jawa Barat, memiliki posisi strategis yang memungkinkannya untuk memanfaatkan potensi sumber daya alam yang melimpah dan beragam. Wilayah yang luas ini menawarkan potensi di berbagai sektor seperti pariwisata, makanan khas, kerajinan tradisional, peternakan, kehutanan, dan pertanian. Dalam sektor pariwisata, Sumedang memiliki daya tarik yang mencakup wisata alam, sejarah, budaya, religi, dan kuliner, dengan Tahu Sumedang sebagai ikon kuliner utama. Meskipun kuliner Sumedang dikenal luas, kekayaan wisata alam dan sejarahnya, termasuk kesenian Tarawangsa di Desa Wisata Rancakalong, sering kali kurang diperhatikan. Desa Rancakalong, yang terkenal dengan kesenian Ngalaksa dan Tarawangsa, memiliki potensi budaya yang sangat kaya. Kebijakan Rumah Penerbitan Kebudayaan Sunda (SPBS) yang diberlakukan sejak 2009 mencerminkan upaya pemerintah dalam melestarikan budaya Sunda dan mendukung pengembangan pariwisata lokal. Ngalaksa dan Tarawangsa merupakan bagian integral dari pelestarian budaya serta daya tarik pariwisata Desa Rancakalong. Untuk mengoptimalkan potensi pariwisata, diperlukan upaya regenerasi kesenian, khususnya di kalangan generasi muda, serta peningkatan amenitas dan layanan pendukung. Pendekatan kualitatif digunakan dalam penelitian ini mengidentifikasi hambatan dalam pelestarian destinasi wisata. Desa Rancakalong, dengan aksesibilitas yang baik dan fasilitas yang sedang dalam tahap pengembangan, memiliki peluang besar untuk berkembang menjadi destinasi wisata unggulan. Dengan perencanaan yang efektif dan upaya pelestarian budaya yang tepat, desa ini dapat memanfaatkan potensi penuh yang dimilikinya dan menjadi tujuan wisata yang menarik baik bagi pengunjung domestik maupun internasional.

Bandung Conference Series Urban & Regional PlanningVol. 4(3)
Openalex Percentile: Top 72%
Community-based Tourism Development and Sustainability
AI Navigator

Ask Laika to Summarize, Analyze, and Connect papers live on the map.

Summarize Papers & Methodologies

Extract key findings, datasets, and comparative methods across publications.

Benchmark Rankings & Visual Analytics

Rank top research institutions, authors, funders, topics, and journals by Field-Weighted Citation Impact (FWCI) and paper volume with instant charts.

Connect Distant Disciplines

Bridge topological clusters on the map to find hidden collaborative intersections.