TOLERANSI DALAM SURAH AL-KAFIRUN: KOMPARASI TAFSIR AL-AZHAR DAN HAK DINI KUR’AN DILI

This article presents the concept of tolerance using a comparative method from two commentators from different countries and similar historical contexts. Hamka and Hamdi were prominent mufassir and lived during the transition period. Both are related to government and contribute to the continuity of religious life in their respective countries. Surah al-Kafirun, which is a Makkiyah surah, has a strong message about tolerance and religious freedom. Hamka emphasized the importance of maintaining faith and rejecting compromise between monotheism and shirk and emphasized the need to build togetherness and maintain relations between religious communities without sacrificing faith. In the history of his life, Hamka showed a firm attitude towards religious beliefs, including his resignation from the Indonesian Ulema Council because he refused to withdraw the fatwa regarding wishing a Merry Christmas. On the other hand, Elmalılı Hamdi Yazır emphasized the importance of a gentle approach in da'wah and conveying the message of the Qur'an in a good way. His interpretation also reflects the context of the secularization of the Turkish Republic at that time. These two interpretations show differences in approach and historical context, but both agree that tolerance does not mean sacrificing one's beliefs. This research provides in-depth insight into various perspectives in the tradition of interpreting the Koran and how the values of tolerance can be applied in various social and political contexts. Keywords: Religion Moderation, Sekularization, Takfir, Turks Artikel ini mengemukakan konsep toleransi dengan metode komparatif dari dua mufassir dengan negara yang berbeda dan memiliki konteks historis yang serupa. Hamka dan Hamdi merupakan mufassir terkemuka dan hidup pada masa peralihan pemerintahan. Keduanya memiliki keterkaitan dengan pemerintahan dan berkontribusi dalam keberlangsungan kehidupan beragama di negara masing-masing. Surah al-Kafirun, yang merupakan surah Makkiyah, memiliki pesan kuat tentang toleransi dan kebebasan beragama. Hamka menekankan pentingnya menjaga akidah dan menolak kompromi antara tauhid dan syirik, serta menekankan perlunya membangun kebersamaan dan menjaga hubungan antar umat beragama tanpa mengorbankan keimanan. Dalam sejarah kehidupannya, Hamka menunjukkan sikap tegas terhadap keyakinan agama, termasuk pengunduran dirinya dari Majelis Ulama Indonesia karena menolak menarik fatwa tentang mengucapkan selamat Natal. Di sisi lain, Elmalılı Hamdi Yazır menekankan pentingnya pendekatan yang lembut dalam dakwah dan menyampaikan pesan al-Qur'an dengan cara yang baik. Tafsirnya juga mencerminkan konteks sekularisasi Republik Turki pada masa itu. Kedua tafsir ini menunjukkan perbedaan dalam pendekatan dan konteks historis, tetapi keduanya setuju bahwa toleransi tidak berarti mengorbankan keyakinan sendiri. Penelitian ini memberikan wawasan mendalam tentang berbagai perspektif dalam tradisi penafsiran al-Qur'an dan bagaimana nilai-nilai toleransi dapat diterapkan dalam berbagai konteks sosial dan politik. Kata kunci: Moderasi Beragama, Sekularisasi, Takfir, Turki

Authors

Institutions

Publication Details

Journal
Living Islam Journal of Islamic Discourses
Published
2024-08-20
DOI
https://doi.org/10.14421/lijid.v7i2.5497
Primary Topic
Islamic Studies and Radicalism
Type
article
Field-Weighted Citation Impact
0.00
Controls
|||
ALL TIME
JAN
FEB
MAR
APR
MAY
JUN
JUL
AUG
SEP
OCT
article

TOLERANSI DALAM SURAH AL-KAFIRUN: KOMPARASI TAFSIR AL-AZHAR DAN HAK DINI KUR’AN DILI

Muhajirin Muhajirin, Azzam Ghufrani
Living Islam Journal of Islamic Discourses
Islamic Studies and Radicalism
article

TOLERANSI DALAM SURAH AL-KAFIRUN: KOMPARASI TAFSIR AL-AZHAR DAN HAK DINI KUR’AN DILI

Muhajirin Muhajirin, Azzam Ghufrani
article en

Abstract

This article presents the concept of tolerance using a comparative method from two commentators from different countries and similar historical contexts. Hamka and Hamdi were prominent mufassir and lived during the transition period. Both are related to government and contribute to the continuity of religious life in their respective countries. Surah al-Kafirun, which is a Makkiyah surah, has a strong message about tolerance and religious freedom. Hamka emphasized the importance of maintaining faith and rejecting compromise between monotheism and shirk and emphasized the need to build togetherness and maintain relations between religious communities without sacrificing faith. In the history of his life, Hamka showed a firm attitude towards religious beliefs, including his resignation from the Indonesian Ulema Council because he refused to withdraw the fatwa regarding wishing a Merry Christmas. On the other hand, Elmalılı Hamdi Yazır emphasized the importance of a gentle approach in da'wah and conveying the message of the Qur'an in a good way. His interpretation also reflects the context of the secularization of the Turkish Republic at that time. These two interpretations show differences in approach and historical context, but both agree that tolerance does not mean sacrificing one's beliefs. This research provides in-depth insight into various perspectives in the tradition of interpreting the Koran and how the values of tolerance can be applied in various social and political contexts. Keywords: Religion Moderation, Sekularization, Takfir, Turks Artikel ini mengemukakan konsep toleransi dengan metode komparatif dari dua mufassir dengan negara yang berbeda dan memiliki konteks historis yang serupa. Hamka dan Hamdi merupakan mufassir terkemuka dan hidup pada masa peralihan pemerintahan. Keduanya memiliki keterkaitan dengan pemerintahan dan berkontribusi dalam keberlangsungan kehidupan beragama di negara masing-masing. Surah al-Kafirun, yang merupakan surah Makkiyah, memiliki pesan kuat tentang toleransi dan kebebasan beragama. Hamka menekankan pentingnya menjaga akidah dan menolak kompromi antara tauhid dan syirik, serta menekankan perlunya membangun kebersamaan dan menjaga hubungan antar umat beragama tanpa mengorbankan keimanan. Dalam sejarah kehidupannya, Hamka menunjukkan sikap tegas terhadap keyakinan agama, termasuk pengunduran dirinya dari Majelis Ulama Indonesia karena menolak menarik fatwa tentang mengucapkan selamat Natal. Di sisi lain, Elmalılı Hamdi Yazır menekankan pentingnya pendekatan yang lembut dalam dakwah dan menyampaikan pesan al-Qur'an dengan cara yang baik. Tafsirnya juga mencerminkan konteks sekularisasi Republik Turki pada masa itu. Kedua tafsir ini menunjukkan perbedaan dalam pendekatan dan konteks historis, tetapi keduanya setuju bahwa toleransi tidak berarti mengorbankan keyakinan sendiri. Penelitian ini memberikan wawasan mendalam tentang berbagai perspektif dalam tradisi penafsiran al-Qur'an dan bagaimana nilai-nilai toleransi dapat diterapkan dalam berbagai konteks sosial dan politik. Kata kunci: Moderasi Beragama, Sekularisasi, Takfir, Turki

Living Islam Journal of Islamic DiscoursesVol. 7(2)
Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung (ID), Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang (ID)
Peace, Justice and strong institutions
Openalex Percentile: Top 78%
Islamic Studies and Radicalism
AI Navigator

Ask Laika to Summarize, Analyze, and Connect papers live on the map.

Summarize Papers & Methodologies

Extract key findings, datasets, and comparative methods across publications.

Benchmark Rankings & Visual Analytics

Rank top research institutions, authors, funders, topics, and journals by Field-Weighted Citation Impact (FWCI) and paper volume with instant charts.

Connect Distant Disciplines

Bridge topological clusters on the map to find hidden collaborative intersections.